Daerah Istimewa Yogyakarta kota wisata dan pendidikan, kerap sekali diminati wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjung.
Banyak sekali destinasi yang bisa dikunjungi dalam kota tersebut sehingga dijuluki dengan satu kota berjuta wisata.
Semakin banyak wisatawan yang menikmati wisata di Yogyakarta, mulai dari Malioboro hingga pantai dan citylight dari atas Bukit Bintang.

Selain kekayaan wisata, Yogyakarta memiliki citra sebagai kota yang ramah di kantong.
Banyak yang memilih berlibur ke kota ini karena harganya yang terjangkau dari kota wisata lainnya, mulai dari kuliner hingga akomodasinya.
Dengan budget yang tidak terlalu banyak, wisatawan sudah dapat menikmati berbagai fasilitas wisata serta kuliner.
Citra “terjangkau” yang membuat Jogja menjadi tujuan mahasiswa/i, backpacker, dan wisatawan dari berbagai sudut dunia.
Namun sebenarnya, Jogja atau Yogyakarta, bukan lagi kota yang murah dan terjangkau.
Wisatawan banyak terkecoh dengan indahnya Jogja yang terjangkau, banyak pungutan liar (pungli) di berbagai tempat terutama ketika wisatawan datang.
Bahkan, harga yang dipatok sudah tidak jauh beda dengan kota-kota lain atau standar pada umumnya.
Tidak sedikit pula wisatawan yang berkunjung ke Jogja mengeluhkan soal pungli, maupun penetapan harga yang tidak wajar terhadap pendatang.
Dalam kondisi ini, citra “terjangkau” di Jogja menjadi kota yang sederhana dan bersahabat bagi wisatawan.
Harapan besar para wisatawan menikmati libur yang hemat dan terjangkau, tetapi sebaliknya, pengeluaran saat berada di Jogja menjadi sama saja atau bahkan lebih dari kota lainnya.
Perkembangan wisata di Jogja memberikan dampak positif perekonomian masyarakat.
Akan tetapi, pengelolaan wisata tidak dilakukan dengan baik, maka berbagai praktik yang merugikan akan terus muncul dan dapat menurunkan kenyamanan wisatawan.
Persoalan utama bukan hanya murah dan mahal biasa wisata Jogja, melainkan transparansi dan kenyamanan yang diterima pengunjung.
Kemudian, gengsi pengunjung untuk memilih dan memilah tentang wisata yang akan dikunjungi.
Pada akhirnya, Yogyakarta akan tetap menjadi daerah istimewa dan menjadi pilihan wisatawan untuk berkunjung.
Jogja kembali bukan murah dan mahal biaya, tetapi pengalaman dan kesan yang akan dirasakan wisatawan di Jogja.
Pengelolaan wisata jika dilakukan dengan jujur dan tertata rapi, Yogyakarta akan tetap dan terus menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan citra nya.
Editor: Carissa Azahra Candraningtyas | Cr: kotajogja.co.id, Serikatnews.com