TAWA SASTRA – Ketika kalian sudah lama tinggal di Jogja dan sudah merasakan bergaul dengan warlok Jogja, pasti tidak asing dengan sapaan Dab.
Sebenarnya berasal dari mana kata itu muncul?
Bagi telinga awam, Dab mungkin terdengar seperti kata yang disingkat dari sebuah kata lain atau malah mungkin kata serapan dari bahasa asing.
Bukan, ya. Kata Dab ini punya cerita sejarahnya sendiri.
Dab merupakan salah satu bahasa walikan yang biasa dipakai untuk menyapa laki-laki. Bisa dibilang Dab itu sapaan lain dari Mas.
Pasti kamu bertanya-tanya mengapa bisa demikian dan bagaimana kata Dab ini bisa muncul dari bahasa walikan?
Bahasa walikan (Boso walikan) merupakan bahasa gaul yang digunakan sebagai kode rahasia pada zaman Mataraman.
Konon dulu penjajah Belanda sudah paham dengan bahasa Jawa sehingga masyarakat perlu berhati-hati dalam berbicara (Yudianto dalam Mojok.co, 2020).
Dikutip dari Mojok.co, pada tahun 70-an bahasa ini sering digunakan oleh para preman untuk menghindari intel dan tentu saja supaya obrolan kriminal mereka tidak terungkap.
Rumus Unik di Balik Kata Dab dalam Bahasa Walikan
Bahasa walikan ini merupakan bahasa gaul yang penggunaannya berasal dari dibaliknya posisi kata dalam aksara jawa.

Pusing memahami maksudnya? Tidak apa.
Memang wajar jika kamu merasa hal ini rumit karena penulis pun demikian.
Namun, mari kita pelan-pelan memahaminya bersama-sama.
Bahasa walikan ini memiliki rumus unik yang didasarkan pada susunan aksara Jawa
Polanya adalah menukar baris pertama (Ha-Na-Ca-Ra-Ka) dengan baris ketiga (Pa-Dha-Ja-Ya-Nya), serta baris kedua (Da-Ta-Sa-Wa-La) dengan baris keempat (Ma-Ga-Ba-Tha-Nga).
Jadi, perlu kamu ingat, kamu perlu menukar posisi kata yang saling terhubung dengan panah tersebut.
Huruf vokal tidak memengaruhi susunannya.
Kata “Ma” (M) berubah menjadi “Da” (D) dan “Sa” (S) menjadi “Ba” (B).
Maka, jadilah kata Mas berubah menjadi Dab.
Penulis juga kurang mengerti kenapa harus dirubah begitu susunan aksaranya.
Sejauh penulis mencari dari beberapa sumber, sumber yang penulis temukan belum menemukan pembahasan hal tersebut.
Namun, kurang lebih begitulah kata Dab terbentuk.
Bahasa Merawat Keistimewaan Kota
Kini, sapaan Dab sudah semakin populer dan familier di telinga masyarakat Jogja, terutama di tongkrongan laki-laki.
Mulai dari obrolan santai di pelataran burjo, diskusi serius mahasiswa di kafe, hingga kelakar hangat bapak-bapak di pos ronda, kata Dab hampir tidak pernah absen.
Dab telah melintasi batas zaman, bertransformasi dari sekadar sandi rahasia masa lalu menjadi salah satu kosakata wajib dalam pergaulan modern hari ini.
Sapaan Dab seolah menjelma menjadi salah satu pilar keistimewaan Jogja yang lahir langsung dari kreativitas masyarakatnya.
Kreativitas linguistik ini membuktikan bahwa orang Jogja memiliki cara unik untuk menciptakan keakraban tanpa harus menggerus rasa hormat.
Editor: Carissa Azahra Candraningtyas | Cr: moccaapedia.com