Tahun ini, kabut asap kembali menyelimuti Pulau Kalimantan. Sejak pertengahan Agustus lalu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di sejumlah provinsi di Kalimantan, di antaranya Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Asap akibat karhutla ini tidak hanya mengaburkan pandangan, tetapi juga mengancam kesehatan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dilansir dari kompas.id, lebih dari 12,5 juta jiwa terdampak karhutla dan tercatat sebanyak 113.336 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Jiwa-jiwa yang terdampak itu memiliki cerita personal yang jarang terdengar, bahkan tidak pernah tersorot oleh media.
Hal ini pun dirasakan oleh Nofita, salah satu mahasiswa di Universitas Sanata Dharma yang merantau dari kampung halamannya, Kalimantan Barat. Awalnya ia mendengar tentang karhutla ini hanya dari berita.
Namun, beberapa hari kemudian, ia mendapat kabar dari keluarganya bahwa asap karhutla tersebut sudah masuk ke daerah tempat tinggalnya.
“Karhutla ini sangat memengaruhi aktivitas keluarga saya sehari-hari. Anak-anak sekolah diliburkan, seperti adik sepupu saya, dan orang tua pun tetap harus bekerja di luar,” ucapnya.
Hingga akhir September 2026 ini, kondisi keluarganya masih relatif baik. Namun, Nofita memiliki kecemasan terhadap kondisi keponakannya yang masih bayi dan kesehatan keluarganya saat ada laporan bahwa asap sudah mulai masuk ke dalam rumah.
“Keluarga saya cerita, kalau asapnya sudah mulai masuk ke dalam rumah. Saya khawatir kesehatan mereka terganggu, terutama keponakan saya yang masih bayi. Meskipun sempat turun hujan deras, asapnya masih tetap tebal dan semakin parah,” ucapnya saat diwawancarai pada Sabtu, 26 September 2026.
Mira yang juga merupakan mahasiswa perantau asal Kalimantan Barat di Universitas Sanata Dharma juga berpendapat demikian.
“Hujan yang turun justru sempat membuat kabut dan debu semakin terasa,” jelasnya.
Ia justru sudah akrab dengan permasalahan karhutla ini sejak kecil, saat usianya 4-5 tahun. Berbeda dengan Nofita, Mira lebih mencemaskan keluarganya kesulitan mendapatkan air bersih akibat musim kemarau yang panjang ini di tengah situasi karhutla.
Ia juga menyoroti perilaku sebagian masyarakat yang masih membakar ladang, meski kabut asap sudah terjadi.
“Saya juga merasa khawatir karena meskipun kabut asap masih terjadi, masih ada orang yang membakar ladang. Akibatnya, api bisa menyebar ke lahan lain,” ujarnya.
Baginya, persoalan ini bukan sekadar menyalahkan satu pihak, melainkan semua pihak yang terlibat perlu berbenah dan ikut bertanggung jawab.
Korban Jiwa dan ISPA
Dari awal kejadian terjadi sampai saat ini, karhutla terus menambah korban-korban yang terdampak dan meningginya angka kasus ISPA.
Dengan kumulatif mencapai 113.336 kasus, sebanyak empat orang meninggal dunia, tiga di Kalimantan Tengah dan satu di Kalimantan Barat.
Selain itu, berdasarkan hasil laporan yang dimuat dalam kompas.id, 313 warga harus dirawat inap dan Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah rawat inap terbanyak.
Saat ini, kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan masih berada pada kategori berbahaya hingga sangat tidak sehat.
Data terakhir pada 9 September 2026, melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan ada sembilan kota di Kalimantan yang berada pada posisi terburuk, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur, Kubu Raya, dan Pontianak Tenggara.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa total indikasi lahan yang terbakar pada enam provinsi prioritas mencapai 77.080,79 hektar.
Pembelajaran Jarak Jauh yang Belum Pasti Kapan Akan Berakhir

Hal yang sama dirasakan oleh adik sepupu Nofita yang hingga saat ini masih diliburkan dari sekolah dan belajar dari rumah. Dampak karhutla semakin terasa di sektor pendidikan.
Dilansir dari kalbar.antaranews.com, pada 23 September 2026 lalu, Pemerintah Kota Pontianak, Kalimantan Barat masih memberlakukan sekolah secara daring karena kabut asap yang masih pekat.
“Aktivitas belajar di lingkungan sekolah masih diliburkan dan belajar untuk saat ini secara daring, sampai cuaca membaik,” ujar Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, dalam artikel kalbar.antaranews.com.
Tidak hanya di Kalimantan Barat saja, tetapi sejumlah wilayah di beberapa provinsi Kalimantan lainnya juga masih menjalankan proses pembelajaran daring sejak Agustus 2026 lalu.
Editor: Vivian Rumada Siregar | Cr: Tangselpos.id, Cyrustimes.com


Tinggalkan Balasan