TAWA SASTRA – Embun pagi merekah di ufuk timur Papua. Kabut tipis masih menggantung antara perbukitan, ketika suara langkah kecil terdengar di jalan setapak.
Anak-anak beriringan untuk menempuh pendidikan, sebagian tanpa alas kaki, demi satu tujuan, yaitu sekolah. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan di sebuah kampung terpencil, berdirilah sekolah sederhana yang hanya berbahan kayu dan seng.
Warna catnya telah pudar dimakan waktu. Dari dalam ruangan, terdengar suara tegas seorang guru yang tengah mengajar.
Papan tulis yang apa adanya menjadi media awal bagi anak-anak untuk mengenal huruf dan memahami angka.Bagi anak-anak di tempat ini, sekolah bukan sekadar kegiatan harian.
Sekolah adalah peluang berharga, jendela yang membuka pandangan mereka terhadap dunia di luar kampung.
Namun, untuk sampai ke sana, mereka kerap harus melewati sungai kecil, menapaki perbukitan, bahkan berjalan berjam-jam. Banyak siswa yang rela datang meskipun cuaca tidak mendukung.

Mereka datang dengan segala risikonya dan dengan sorot mata yang memancarkan semangat yang lahir beriringan oleh keterbatasan.
Kondisi pendidikan di Papua memang penuh tantangan, seperti fasilitas yang terbatas, penyebaran tenaga pengajar yang belum merata, serta akses yang sulit menjadi persoalan sehari-hari.
Di beberapa wilayah, satu orang guru harus menangani beberapa kelas secara bersamaan. Ketersediaan buku pelajaran pun seringkali kurang memadai. Walaupun demikian, harapan bagi mereka tetap hidup.
Berbagai komunitas lokal dan relawan pendidikan mulai berperan aktif, membawa buku, mendirikan taman baca, hingga menyelenggarakan kelas tambahan.
Kehadiran mereka bukan untuk menggantikan, melainkan mendampingi perjalanan anak-anak Papua dalam meraih cita-cita.
Di sela-sela kegiatan belajar, tawa anak-anak terdengar riang di halaman sekolah. Tanah merah yang mereka pijak menjadi saksi kebahagiaan sederhana itu.
Pendidikan di sini tidak semata soal nilai atau ujian, tetapi juga tentang keberanian untuk bermimpi.
Seorang guru yang telah mengabdi lebih dari sepuluh tahun mengungkapkan, “Kami mungkin memiliki banyak keterbatasan, tetapi semangat anak-anak ini tidak.”
Ucapan itu mencerminkan kenyataan bahwa pendidikan bukan hanya ditentukan oleh fasilitas, melainkan juga oleh tekad.
Saat sore tiba, anak-anak kembali ke rumah masing-masing. Meski tubuh mereka lelah, pikiran mereka membawa hal baru, ilmu, harapan, dan impian.
Di wilayah timur Indonesia, pendidikan memang masih menghadapi berbagai kendala.
Namun, di balik semua itu, secercah harapan terus menyala. Selama anak-anak itu tetap melangkah menuju sekolah setiap pagi, cahaya tersebut akan terus hidup.
Editor: Carissa Azahra Candraningtyas | Cr: GreenNetworkAsia, kompas.id