Tembakau Gayo itu Ganja Versi Legal?

Reading Time: 4 minutes

TAWA SASTRA – Suku Gayo adalah salah satu kelompok etnis di Indonesia. yang bermukim di wilayah pegunungan Aceh.

Mayoritas suku ini tinggal di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah.

Salah satu identitas budaya dan ekonomi masyarakat adalah hasil komoditas tembakau Gayo yang telah dikenal luas.

Sering kali masyarakat menduga tembakau ini adalah ganja yang dilarang peredarannya karena tergolong kedalam jenis narkotika.

Hanya saja, tembakau ini tidak memiliki efek halusinasi. Namun berkat kemiripannya dengan ganja, tembakau ini akhirnya dicap barang haram berdasarkan spekulasi liar yang beredar.

Kemiripan jadi alasan untuk mengkerdilkan penikmat tembakau Gayo, seolah-olah mereka mengkonsumsi narkoba seperti ganja, padahal itu hanyalah tergolong sebagai jenis tanaman tembakau.

Asumsi liar yang lahir dari ketidaktahuan inilah yang menjadikan tembakau gayo sebagai polemik di lingkungan masyarakat.

Kemiripan Ganja dan Tembakau Gayo

Tembakau Gayo yang berasal dari pegunungan Aceh

Sore hari itu di Embung Langensari Jogja, seorang pemuda asli Jogja bernama Fernand menikmati tenggelamnya sore dan menanti lahirnya malam, ditemani lintingan daun hijau dengan bara api di ujung dan secangkir kopi murah hasil seduhan mbak-mbak penjual di sekitar embung.

“Katanya mirip ganja, karena aromanya, warnanya, teksturnya, dan ada juga yang bilang rasanya sama” Pungkas Fernand.

Berdasarkan pendapat Fernand sang penikmat tembakau Gayo, kerap kali dia disangka oleh orang lain sedang menggunakan ganja.

Hal tersebut bukan tanpa dasar, masyarakat banyak yang mengira daun yang diolah hingga menjadi tembakau berwarna hijau, memiliki aroma khas, dan bertekstur sama seperti ganja.

Padahal tak selalu yang tampak mirip itu sama.Pembeda paling nyata antara ganja dan tembakau Gayo adalah efek halusinasinya.

Jika pengguna ganja mengkonsumsinya untuk sensasi mabuk dan efek yang katanya bikin tenang, Gayo tak seperti itu.

Tembakau ini bisa saja bikin pikiran lebih tenang sama halnya seperti alasan perokok pada umumnya perihal kenapa mereka merokok.

Tembakau Gayo itu bernikotin seperti tembakau pada umumnya dan tanpa embel-embel mabuk.

Aroma semerbak membanjiri udara, bersumber dari kepulan asap sang penikmat tembakau yang menyasar pada hidung setiap insan ini, memicu lahirnya kesalahpahaman.

Aroma khas yang mirip seperti ganja juga menjadi alasan kenapa Gayo dituduh selayaknya ganja.

Jika memang tembakau Gayo itu adalah ganja, mungkin saja Gayo adalah ganja lokal versi legal dan halal.

Kelangkaan Tembakau Gayo Memicu Rindu para Penggemarnya

Pada bulan November tahun 2025 lalu, Sumatra sedang dilanda duka. Banjir bandang telah merenggut nyawa dan merusak perekonomian.

Hal tersebut tidak hanya berdampak pada warga Sumatra saja, para penikmat tembakau Gayo yang ada di pulau seberang juga merasakan dampaknya.

Pada masa duka tersebut, petani Gayo mengalami gagal panen yang mengakibatkan tembakau ini tak lagi bermukim di tengah gulungan kertas yang nantinya akan dihirup oleh penikmatnya.

Seharusnya bencana Sumatra layak dijadikan bencana nasional demi penanganan yang cepat. Jika hal tersebut terwujud, mungkin penikmat tembakau Gayo tak perlu menanti lebih lama.

Bencana Sumatra tak hanya dirasakan oleh warganya saja, mereka yang berdomisili di pulau lain juga terdampak, apalagi mereka yang mengaku sebagai penikmat tembakau Gayo.

“Waktu itu tembakau Gayo sedang kosong stok. taulah Bang, karena bencana kemarin.” Pungkas Oki yang merupakan karyawan di salah satu toko penjual tembakau di Jogja.

Berdasarkan pengakuan Oki, tembakau Gayo sudah beberapa kali mengalami kelangkaan.

Apalagi semasa bencana alam yang melanda Sumatra tahun lalu. Cukup lama menunggu situasi itu pulih dan Gayo bisa dinikmati lagi.

Penikmat tembakau Gayo cukup banyak di kota ini, makanya tak heran banyak yang sering datang mencari tembakau khas Aceh ini ke toko tersebut.

Namun, kelangkaan tak hanya terjadi saat bencana alam yang telah berlalu.

Beberapa bulan ini juga terjadi kelangkaan dengan alasan yang sama yaitu gagal panen.

Semua tempat penjualan tembakau di Jogja sudah dikunjungi, tapi tetap saja hasilnya nihil. Lagi-lagi gagal panenlah alasannya.

Minggu ini, kabar baik kembali menghampiri penikmat tembakau Gayo.

Kelangkaan sudah teratasi, penjual sudah kembali mendagangkan tembakau Gayo seperti biasanya. Bagi penikmat tembakau Gayo, kabar kelangkaan sudah seperti hal yang sering dialami.

Selain karena tembakau ini hanya ada di aceh, penikmat yang banyak juga menjadi alasan kenapa stok selalu habis.

Alasan Memilih Tembakau Gayo

Proses melinting

“Karena teman saya. Ternyata cocok yah meski awalnya gak cocok tapi lama-lama cocok.” Tanggapan Fernand bercerita tentang awal mula ia melinting.

Fernand mengaku kalau tembakau ini punya rasa yang agak pahit dan sepat, namun bikin nagih di akhir.

Ia juga mengaku kalau tak lengkap rasanya menghisap tembakau Gayo tanpa secangkir kopi dan sepotong roti.

Kata dia selain rasa yang khas, tembakau ini juga masih tergolong murah yaitu 18 ribu untuk setengah onsnya, dan itu cukup untuk dinikmatinya bersama teman-temannya selama seminggu.

Sensasi selama melinting juga menjadi salah satu alasan menjadi penikmat tembakau terutama Gayo. Dari melinting kita bisa merasakan proses dan akhirnya bangga dengan hasilnya.

Proses melinting
Tembakau Gayo tumbuh perlahan di udara sejuk, menghasilkan cita rasa yang tak biasa

Tembakau ini memang sangat khas karena tumbuh di Aceh tempat Suku Gayo berada.

Tembakau ini tak tumbuh disembarang tempat, biasanya tumbuh di dataran dengan ketinggian 1200-1800 meter di atas permukaan laut ditambah udara yang sejuk dan tanah yang subur.

Iklim dan kondisi tanah milik Suku Gayo ini mampu membantu pertumbuhan tembakau dapat mencapai kualitas tertinggi.

Tembakau ini juga sering dikirim keluar daerah dan ekspor keluar negeri, sehingga tembakau Gayo mampu membantu pertumbuhan ekonomi warga sekitar.

Tembakau ini juga diolah saat masih muda demi mendapatkan kualitas terbaik, tidak seperti tembakau pada umumnya yang diolah setelah mencapai usia matang.

Selain kondisi tanah dan usia muda tembakau, masih ada proses yang tak kalah anti-mainstream dari tembakau lainnya yaitu proses penjemurannya.

Tembakau ini dijemur di atap rumah saat matahari terbenam atau saat malam hari.

Hal tersebutlah yang menjadikan tembakau ini unik dan tak biasa.

Tembakau ini juga termasuk identitas Suku Gayo dan Aceh secara keseluruhan karena sudah menjadi warisan budaya nenek moyang.

Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti : Cr: Dokumentasi pribadi penulis, Valid News, Dreamstime.com

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *