Di tengah berbagai isu besar yang sering dibahas, ada satu hal sederhana yang kadang luput dari perhatian, yaitu “makan”.
Padahal, bagi anak sekolah, makan bukan sekadar urusan kenyang, tetapi juga berpengaruh terhadap fokus dan kesiapan belajar.
Dari situ, program MBG jadi menarik untuk dibahas karena berangkat dari kebutuhan dasar, tetapi berpotensi memberi dampak jangka panjang.
Masalah gizi pada anak di Indonesia memang belum sepenuhnya teratasi. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menunjukkan angka stunting masih berada di kisaran 21,6 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa masih banyak anak yang belum mendapat asupan nutrisi yang cukup.
Dalam kondisi seperti ini, kehadiran program MBG bisa dilihat sebagai upaya untuk memastikan anak-anak tetap mendapat makanan bergizi, setidaknya selama berada di sekolah.
Dampaknya tidak berhenti di urusan kesehatan saja. Asupan gizi yang cukup berpengaruh pada fokus dan daya tangkap siswa di kelas.
Tak bisa dipungkiri, belajar dalam kondisi lapar jelas bukan situasi yang ideal. Anak yang kondisi tubuhnya lebih baik cenderung lebih siap menerima pelajaran.
Program MBG juga bisa dilihat sebagai langkah kecil yang berpengaruh pada kualitas pendidikan dalam jangka panjang.
Dampak Ekonomi dan Tantangan Pelaksanaan
Menariknya, program ini tidak hanya berdampak di lingkungan sekolah. Pelaksanaannya melibatkan petani lokal, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), dan penyedia bahan pangan di daerah.
Dari satu program, dampaknya ikut dirasakan oleh banyak pihak. Perputaran ekonomi di tingkat lokal pun terdorong, sekaligus membuka peluang usaha baru.
Meski begitu, pelaksanaan program ini tetap menghadapi tantangan. Salah satu yang sering kali menjadi sorotan adalah kebutuhan anggaran yang besar.
Program dengan cakupan nasional tentunya memerlukan dana yang tidak sedikit, apalagi dengan target penerima yang mencapai puluhan juta anak.
Di tengah berbagai kebutuhan negara pada sektor lain, pengalokasian anggaran untuk program ini memunculkan perdebatan.
Di satu sisi, manfaat yang ditawarkan juga cukup jelas. Namun di sisi lain, pengelolaan dana tetap harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan pemborosan.
Selain soal anggaran, pengawasan terhadap kualitas makanan juga menjadi hal penting.
Program yang bertujuan meningkatkan kesehatan justru tidak boleh menimbulkan risiko baru.
Karena itu, standar keamanan pangan dan distribusi perlu dijaga secara konsisten agar manfaat program benar-benar dirasakan.
Pada akhirnya, program MBG dapat dilihat sebagai kebijakan yang menjanjikan, sekaligus menantang.
Program ini membuka peluang untuk memperbaiki kualitas gizi anak dan mendukung proses belajar.
Sementara itu, pelaksanaannya juga menuntut pengelolaan anggaran yang cermat serta pengawasan yang ketat.
Dukungan terhadap program ini penting, tetapi tetap perlu diimbangi dengan sikap kritis supaya pelaksanaan di lapangan nantinya pun tetap berjalan dengan baik benar-benar memberi manfaat bagi anak-anak Indonesia.
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya mahasiswa sebagai bagian dari pemenuhan UTS mata kuliah Penulisan Opini dan Resensi.
Editor: Vivian Rumada Siregar | Cr: jabar.jpnn.com