Di zaman sekarang, media sosial sering penuh dengan perdebatan, saling menghina, bahkan rasa peduli antar sesama mulai terasa berkurang.
Banyak orang sibuk mengejar kepentingannya sendiri sampai lupa soal nilai kebersamaan.
Di tengah situasi seperti itu, buku Negara Paripurna terasa relevan untuk dibaca, terutama oleh para anak muda.
Dalam Negara Paripurna, Yudi Latif mengajak pembaca melihat Pancasila tidak hanya sebagai hafalan lima sila, tetapi sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia.
Menariknya, buku ini tidak hanya membicarakan soal politik atau sejarah.

Yudi Latif menjelaskan bagaimana Indonesia dibangun dari keberagaman budaya, agama, dan semangat gotong royong.
Dari situ pembaca diajak menyadari bahwa sebenarnya nilai-nilai seperti toleransi, keadilan, dan kemanusiaan sudah lama menjadi identitas bangsa.
Bahasa dalam buku ini memang cukup serius di beberapa bagian, namun isi pembahasannya sangat dekat dengan kondisi sekarang.
Misalnya tentang bagaimana masyarakat mulai mudah terpecah karena perbedaan pendapat, atau bagaimana krisis moral yang muncul lewat sikap saling menjatuhkan di dunia maya.
Hal-hal seperti itu membuat buku ini terasa relate dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi mahasiswa, Negara Paripurna bisa menjadi salah satu bacaan yang dapat membuka cara pandang baru tentang Indonesia.
Buku ini mengingatkan bahwa generasi muda tidak hanya perlu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga menjaga nilai kemanusiaan dan persatuan.
Di tengah berbagai tantangan bangsa, Pancasila tetap menjadi fondasi yang kokoh bagi Indonesia.
Tinggal bagaimana nilai-nilai itu benar-benar dijalankan, bukan hanya dihafal saat upacara atau pelajaran sekolah.
Lewat buku ini, pembaca diajak kembali bertanya:
Apakah kita masih berjalan sesuai arah bangsa yang dulu dicita-citakan?
Atau justru mulai kehilangan makna dari Pancasila itu sendiri?
Judul: Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila
Penulis: Yudi Latif
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-979-22-6947-5
Tebal Buku: 667
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: Pemerintah Kota Yogyakarta, Harakatuna.com