TAWA SASTRA – Melalui dokumenter perjalanan di YouTube, Fiersa Besari tidak sekedar memamerkan keindahan alam.
Ia mendefinisikan gunung sebagai destinasi wisata yang menuntut kesiapan fisik, mental, sekaligus kelengkapan peralatannya.
Fiersa Besari terlihat berjalan menyusuri jalur tanah yang licin sisa hujan semalam.
Napasnya terdengar berat karena jalur yang menanjak.
Sesekali, ia berbicara ke arah kamera yang dipegang oleh rekannya.
Ia menjelaskan kondisi jalur yang sedang dilewati, sebelum akhirnya video beralih menunjukkan rekaman pemandangan lautan awan dari ketinggian.
Di tengah meningkatnya minat masyarakat menjadikan gunung sebagai tempat wisata, Fiersa Besari (42) hadir dengan pendekatan berbeda.
Ia tidak hanya merekam perjalanan, tetapi juga menyisipkan edukasi keselamatan dan kesadaran atas lingkungan.
Cerita ini bermula pada tahun 2013, saat Fiersa Besari melakukan perjalanan panjang berkeliling Indonesia yang kemudian ia tuangkan dalam buku Arah Langkah.
Dari perjalanan tersebut, ia menyadari bahwa gunung merupakan destinasi yang menarik untuk didokumentasikan.
Ia pun mulai rutin mengunggah video pendakian melalui konten YouTube miliknya yang bernama “Atap Negeri”.

Fiersa Besari merekam pendakiannya ke berbagai gunung, mulai dari Gunung Rinjani di Lombok, Gunung Semeru di Jawa Timur, hingga gunung-gunung yang jarang dikunjungi pendaki umum.
Melalui video tersebut, gunung yang awalnya dianggap sebagai tempat ekstrem untuk kalangan tertentu, perlahan dikenal luas sebagai tujuan wisata alam.
Fiersa juga rutin menampilkan interaksinya dengan warga lokal dan porter yang menjadi penggerak ekonomi setempat.
Edukasi Keselamatan dan Kelestarian Lingkungan
Peningkatan jumlah wisatawan gunung juga membawa masalah baru.
Semakin banyak pendaki pemula yang datang dengan tujuan sekadar membuat konten di media sosial tanpa persiapan memadai.
Akibatnya, muncul masalah seperti penumpukan sampah plastik, tindakan yang nekat, hingga kecelakaan akibat hipotermia karena penggunaan pakaian dan peralatan yang tidak memadai.
Sebagai pembuat konten yang banyak ditonton, Fiersa Besari menyadari adanya tanggung jawab moral.
Ia tidak ingin video-videonya hanya mendorong orang datang ke gunung tanpa persiapan.
Oleh karena itu, ia mulai menampilkan realitas pendakian secara utuh.
Ia menunjukkan momen saat timnya terjebak cuaca buruk, kehabisan air, atau saat mereka harus membawa turun sampah botol plastik yang ditinggalkan oleh pendaki lain.
”Gunung bukan tempat sampah,” adalah pesan yang sering disampaikannya secara langsung di videonya.
Ia secara khusus membuat konten edukasi tentang manajemen logistik, daftar peralatan standar pendakian, cara membuang air kecil ataupun membuang air besar di alam bebas.
Ia juga membuat konten edukasi, yakni penerapan prinsip ‘jangan tinggalkan jejak’.
Tujuannya agar masyarakat sadar bahwa wisata gunung membutuhkan persiapan fisik, pengetahuan, dan biaya operasional yang memadai.
Wisata yang Bertanggung Jawab
Fiersa Besari menekankan bahwa pariwisata gunung melibatkan perputaran ekonomi yang luas.
Perputaran tersebut dimulai pada kalangan warga di sekitar basecamp, guide atau pemandu, hingga penyedia transportasi lokal.
Jika wisata semacam ini dikelola dan dikunjungi oleh wisatawan yang teredukasi, ekonomi warga akan terbantu tanpa harus terkena dampak atas kerusakan lingkungannya.
Langkah edukasi yang konsisten ini mulai menunjukkan hasil yang positif.
Kolom komentar di videonya kini lebih banyak berisi diskusi mengenai kelengkapan alat pendakian dan imbauan tentang aturan di alam bebas.
Penonton semakin memahami bahwa standar keberhasilan wisata gunung bukanlah sekadar mencapai puncak.
Keberhasilan juga dengan kembali ke rumah dengan selamat dan kembali membawa turun sampah yang mereka bawa.
Melalui dokumentasi “Atap Negeri”, Fiersa Besari membuktikan bahwa gunung bisa menjadi tempat wisata yang terbuka bagi siapa saja.
Dengan catatan, setiap pengunjungnya memiliki kesadaran dan tanggung jawab penuh terhadap keselamatan dan kelestarian alam.
Biodata
Nama: Fiersa Besari
Lahir: Bandung, 3 Maret 1984
Pekerjaan: Penulis, Musisi, Konten Kreator
Pendidikan: Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Yapari-ABA Bandung
Karya Buku Utama: Garis Waktu (2016), Catatan Juang (2017), Arah Langkah (2018), Tapak Jejak (2019)
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: Youtube


Tinggalkan Balasan