TAWA SASTRA – Menjadi mahasiswa tingkat akhir sering kali bukan lagi soal adu kecerdasan di ruang kelas, melainkan tentang adu ketahanan mental melawan ekspektasi sosial.
Tekanan itu terasa nyata dan menyesakkan, terutama saat diri terus berfokus pada layar ponsel.
Ponsel itu menampilkan unggahan teman seangkatan yang berpose bangga dengan selempang kelulusan, sementara lembaran skripsi kita masih tertatih di bab yang sama.
“Jangankan bicara soal wisuda, melihat teman-teman yang hampir semua di kelas sudah selesai skripsi saja aku sudah kena mental,” ungkap Dila.
Dila adalah seorang mahasiswi semester akhir yang kini sedang bergelut hebat dengan beban akademiknya.
Bagi Dila, musuh terberat yang ia hadapi setiap pagi bukanlah deretan teori yang rumit atau revisi dari dosen pembimbing, melainkan dirinya sendiri.
Ia mengakui adanya peperangan batin melawan rasa malas dan kecenderungan untuk bersikap terlalu santai yang sering kali menjadi tembok penghalang bagi progresnya.
Meski berkecil hati dan kegelisahan sempat membayangi hari-harinya, Dila menolak untuk tenggelam dalam keputusasaan.
Ia memilih jalan untuk berdamai dengan keadaan melalui positive self-talk yang konsisten.
Caranya sederhana namun mendalam, ia menarik napas panjang, menenangkan diri, dan menanamkan prinsip bahwa setiap individu memiliki “kalender” dan “musim” yang berbeda untuk mekar.
“Nggak apa-apa walaupun kita lambat, intinya kita masih berusaha untuk tetap menyelesaikan tanggung jawab ini, bukan berhenti,” tutur Dila.
Ia menyadari bahwa di fase akhir masa kuliah, tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi di tengah rasa jenuh yang memuncak.
Baginya, yang paling penting bukanlah seberapa cepat seseorang sampai di garis akhir.
Tetapi yang terpenting keberanian untuk tetap bertahan dalam proses dan menolak untuk menyerah sebelum garis itu terlampaui.
Sebagai bentuk apresiasi atas ketangguhan mental yang telah ia bangun, Dila sudah menyiapkan sebuah janji kecil pada dirinya sendiri sebagai motivasi terakhir.
Ia bermimpi, saat pintu ruang sidang akhirnya terbuka dan ia melangkah keluar dengan status lulus, ia ingin menghadiahi dirinya sendiri dengan jalan-jalan sebagai bentuk self-reward.
Perjalanan itu kelak bukan sekadar liburan biasa untuk melepas penat.
Perjalanan itu sebuah ritual syukur yang sakral karena telah berhasil memenangkan pertempuran.
Pertempuran dalam melawan rasa malas, keraguan diri, dan tekanan mental yang sempat nyaris menghentikan langkahnya
Editor: Carissa Azahra Candraningtyas | Cr: pinterest https://pin.it/3BuhxX5uO