Kalau kamu jalan-jalan di Jogja beberapa waktu terakhir, satu hal yang pasti terasa adalah persebaran coffee shop.
Persebaran di daerah kota lebih cepat daripada rencana olahraga yang selalu ditunda.
Hampir tiap sudut punya tempat ngopi baru.
Pusat kota sampai pinggiran dapat dilihat lengkap dengan lampu hangat, kursi estetik, dan colokan yang kadang lebih dicari daripada menunya.
Jogja adalah kota pelajar, tempat singgah, sekaligus tempat bercerita atau menemukan cerita tersendiri.
Orang datang bukan hanya untuk belajar, tapi juga untuk mencari ruang untuk berpikir, bekerja, atau sekadar tidak ingin pulang cepat.
Di tengah kepentingan masing-masing, coffee shop hadir sebagai jawaban yang praktis yang menyediakan wifi, kopi, suasana yang bikin nyaman dan betah.

Tapi, masalahnya sejak kapan kita ngobrol harus selalu ditemani struk pembayaran?
Dulu, orang bisa duduk lama di teras rumah, di angkringan, atau di ruang terbuka tanpa merasa tidak enak karena tidak pesan apa-apa.
Sekarang, duduk lama di suatu tempat hampir otomatis berarti harus beli sesuatu.
Kadang, yang dipesan bukan karena ingin, tapi karena merasa tidak enak kalo belum pesan satupun.
Coffee shop juga punya peran penting banyak anak muda dapat pekerjaan, dan ekonomi kecil ikut berputar.
Dalam banyak hal, ini kabar baik karena kota jadi hidup dan membuka peluang.
Tapi di sisi lain, ruang sosial perlahan berubah jadi ruang konsumsi.
Tempat berkumpul tidak lagi sepenuhnya leluasa, ada harga yang harus dibayar.
Jogja sebenarnya punya banyak potensi ruang terbuka.
Tapi tidak semuanya nyaman, tidak semuanya mudah diakses, dan tidak semuanya “mengundang” orang untuk tinggal lebih lama.
Akhirnya, pilihan paling realistis tetap coffee shop meski dompet ikut protes.
Fenomena maraknya coffee shop terasa seperti cermin.
Ia bukan masalah utama, tapi tanda bahwa ada kebutuhan yang belum sepenuhnya terjawab.
Mungkin, yang kita cari sebenarnya bukan kopi, tapi tempat.
Tempat untuk berhenti sebentar dari cepatnya dunia.
Tempat untuk menarik diri dari hiruk pikuk kota, ngobrol tanpa distraksi, dan tempat untuk merasa jadi bagian dari kota tanpa harus memikirkan berbagai macam hal.
Jogja dengan segala julukannya sebagai kota ramah, punya peluang untuk menjawab itu.
Mereka sudah jadi bagian dari ekosistem kota, tapi dengan menghadirkan lebih banyak ruang publik yang benar-benar hidup dan terbuka untuk siapa saja.
Karena pada akhirnya, kota yang baik bukan cuma tentang tempat yang indah untuk dikunjungi, tapi juga tempat yang nyaman untuk ditinggali.
Dan mungkin, di antara aroma kopi dan suara mesin espresso, kita sedang belajar satu hal bahwa ruang sosial itu penting.
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya mahasiswa sebagai bagian dari pemenuhan UTS mata kuliah Penulisan Opini dan Resensi.