Belakangan ini, media sosial ramai memperbincangkan alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang memilih tinggal di luar negeri, bahkan sampai ada yang pindah kewarganegaraan.
Hal ini memicu perdebatan, wajar atau tidak seseorang yang dibiayai negara malah memilih menetap dan tidak balik ke negara asalnya.
Melihat dari sudut pandang pribadi, sebenarnya pilihan itu masuk akal.
Sekarang dunia semakin terbuka dan kesempatan kerja, gaji, sampai kualitas hidup di luar negeri pun juga semakin menarik.
Jadi, tidak heran kalau banyak orang termasuk yang dapat beasiswa memilih menetap di sana.
Ini bukan soal “kabur” saja, tetapi soal mencari masa depan yang lebih baik.
Di sisi lain, ada fakta yang membuat publik geger. Dilansir dari detik.com, sejak berdiri sampai saat ini LPDP telah membiayai lebih dari 58 ribu penerima beasiswa.
Menurut Goodstats.id, pembiayaan tersebut menggunakan dana abadi pendidikan yang mencapai ratusan triliun.
Artinya, ini bukan program kecil melainkan sebuah investasi besar negara untuk masa depan. Dari ribuan penerima tersebut, ada sebagian besar yang kembali.
Namun, tetap saja ada kasus yang menjadi sorotan.
Belum lama ini, detik.com menunjukkan data terbaru bahwa ada sekitar 44 alumni yang belum kembali ke Indonesia setelah menjalankan studi di luar negeri atas beasiswa tersebut.
Bahkan jumlahnya pernah mencapai ratusan orang sejak program ini berjalan.
Angkanya mungkin kecil dibandingkan dengan total penerima.
Akan tetapi cukup untuk memicu pertanyaan publik, mengapa hasilnya tidak sepenuhnya kembali dengan investasi yang besar?
Disinilah muncul istilah brain drain, yaitu kondisi orang-orang berpendidikan tinggi yang lebih memilih berkontribusi di luar negeri, daripada di negaranya sendiri.
Masalahnya, kita tidak bisa langsung menyalahkan individu.
Bisa jadi mereka merasa peluang di luar negeri lebih jelas dan sistemnya lebih mendukung.
Justru pertanyaan pentingnya adalah mengapa banyak talenta merasa lebih hidup di luar negeri? Apakah di Indonesia peluangnya masih kurang?
Apakah sistem kerja, riset, dan kesejahteraan belum cukup kuat?
Kalau jawabannya iya, maka fenomena ini bukan cuma soal loyalitas semata, tetapi juga soal dalam negeri yang perlu dibenahi.
Pada akhirnya, isu ini bukan sekadar soal pergi atau pulang.
Negara memang sudah berinvestasi besar lewat beasiswa, tetapi investasi ini seharusnya dilanjutkan dengan menciptakan lingkungan yang membuat orang ingin kembali.
Di sisi lain, individu juga perlu sadar bahwa keberhasilan mereka tidak lepas dari peran negara.
Jadi, daripada debat soal nasionalis atau tidak yang lebih penting adalah bagaimana caranya supaya talenta Indonesia bisa sukses tanpa harus merasa pergi jauh untuk dihargai.
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya mahasiswa sebagai bagian dari pemenuhan UTS mata kuliah Penulisan Opini dan Resensi.
Editor: Ananda Cheterina Usada | Cr: IDN times