Di tengah hiruk-piruk kota, tembok-tembok kosong seringkali berubah menjadi kanvas tak resmi bagi para pegiat seni grafiti.
Dengan cat semprot di tangan, mereka menuangkan ide, emosi, hingga kritik sosial dalam bentuk visual yang berani.
Namun sayangnya, tidak semua orang melihat grafiti sebagai karya seni.
Masih banyak orang yang menganggapnya sekedar aksi vandalisme atau aksi yang merusak fasilitas umum tanpa makna.

Grafiti sebagai hobi bukan sekedar aktivitas corat-coret tanpa arah.
Banyak pelaku yang menghabiskan waktu untuk merancang konsep, memilih warna, hingga menyusun pesan yang ingin disampaikan melalui karyanya.
Tidak jarang, karya yang dihasilkan justru memiliki nilai estetika tinggi dengan makna mendalam, mulai dari kritik sosial, keresahan anak muda, hingga pesan tentang lingkungan ataupun kemanusiaan.
Namun, stigma terhadap grafiti pada masyarakat masih kuat.
Label vandalisme melekat karena sebagian karya yang dibuat di ruang publik tanpa izin.
Hal ini membuat masyarakat cenderung langsung menilai grafiti sebagai tindakan merusak, tanpa mencoba memahami konteks dan niat di baliknya.
Akibatnya, para pegiat grafiti sering dipandang sebelah mata, bahkan dianggap sebagai pelaku pelanggaran, bukan sebagai penggiat seni.
Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa ada praktik grafiti yang memang tidak bertanggung jawab.
Coretan asal-asalan dan tidak mempertimbangkan tempat dapat merugikan banyak pihak.
Tetapi, menyamaratakan semua grafiti sebagai hal negatif jelas bukan solusi dalam menyederhanakan persoalan.
Ada banyak komunitas grafiti yang justru berkarya secara positif, bahkan ikut memperindah lingkungan melalui mural dan proyek seni publik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa isu grafiti tidak sederhana.
Ini adalah tentang bagaimana masyarakat dan para pelaku seni bisa saling memahami.
Grafiti bisa menjadi masalah jika dilakukan tanpa aturan, tetapi juga bisa menjadi potensi besar jika diberi ruang dan diarahkan dengan baik.
Sudah saatnya kita melihat grafiti dengan perspektif yang lebih seimbang.
Memberi ruang legal bagi para pegiatnya, seperti memberi wadah khusus seperti mengadakan festival seni jalanan.
Hal ini bisa menjadi solusi untuk mengurangi konflik sekaligus dapat mengembangkan kreativitas anak muda.
Dengan begitu, grafiti tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari dinamika seni urban yang hidup dan berkembang.
Pada akhirnya, grafiti adalah cerminan zaman atau suara yang muncul dari jalanan, dari mereka yang ingin didengar.
Pertanyaannya, apakah kita akan terus menutup mata, atau mau untuk mulai membuka ruang dan memahami makna didalamnya?
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: dayzerart.com, visualjalanan.org