TAWAS SASTRA – Hernita Sihombing adalah pemilik serta pengelola Rumah Makan Adian Nalambok di Jalan Selokan Mataram.
Usaha kuliner kerap kali menghasilkan sampah.
Jika tidak dikelola dengan baik dapat menjadi masalah ke depannya, seperti bau tak sedap, merusak pandangan pengunjung, jadi sarang hama, dan menjadi sumber penyakit.

“Kalau kita menangani sampah ini agak sulit ya, sekarang ini susah” keluh Bu Hernita.
Keadaan warung milik Bu Hernita sedang mengalami kesulitan dalam menangani sampah.
Ia berpendapat bahwa pekerja yang bertugas untuk menangani sampah sering lalai.
Pengangkutan sampah yang harusnya dilakukan setiap hari bisa menjadi sekali seminggu atau dua minggu sekali.
Hal ini menjadi penyebab penumpukan sampah di warung kuliner tersebut.
Komitmen yang tadinya dibangun dan disepakati oleh kedua belah pihak malah diperlakukan seolah tak bernilai.
Alasan yang sering disampaikan oleh pihak pengangkut sampah adalah keadaan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Piyungan.
Untuk saat ini, TPA sudah resmi ditutup, padahal dulunya masih dibuka dengan pembatasan kapasitas.
Penutupan inilah yang menjadi alasan utama penumpukan sampah di warung makan tersebut.
Kondisi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yaitu desentralisasi sampah, di mana masyarakat berperan dalam pengelolaan sampah secara mandiri.
“Harusnya adalah itu solusi pemerintah, gimana caranya biar sampah ini gak kayak gini. Di mana-mana sampah” imbuhnya.
Kebijakan pemerintah yang menuntut masyarakat malah menyulitkan karena tidak dilengkapi dengan fasilitas yang memadai, bahkan sosialisasi pun tak pernah diterima oleh pemilik warung.
Polemik ini melahirkan kebijakan pemilik warung dalam pengelolaan sampah.
“Kadang ada yang buang di kali saya lihat” pungkasnya.
Tak semua warga memiliki kesadaran yang sama seperti Bu Hernita yang berusaha menjaga lingkungan di tengah polemik menumpuknya sampah.
Menurut Bu Hernita, ia masih sering melihat warga sekitar yang membuang sampah domestiknya ke aliran sungai Selokan Mataram.
Situasi miris ini terjadi akibat kurangnya kesadaran masyarakat di tengah sulitnya penanganan sampah.
“Sampah basah ada yang ambil” kata Bu Hernita.
Ia memiliki strategi untuk mengatasi banyaknya sampah.
Bu Hernita memilah sampah organik dan anorganik agar lebih mudah dikelola.
Sampah anorganik akan disalurkan ke petugas pengangkut sampah dan sampah organik akan disalurkan ke pemilik hewan peliharaan.
Selain itu, beberapa sampah juga diberikan ke peternakan babi ataupun lele sebagai konsumsi hewan ternak tersebut.
Sampah Di Lapak Kantin UNY Diatasi dengan Baik oleh Pihak Kampus

Di sudut kantin UNY yang rindang terdapat lapak kuning dengan spanduk berisi menu jualan.
Pada lapak kecil inilah Dika memulai bisnis kulinernya.
Tentu tiap usaha kuliner pasti tak lepas dari sampah, namun Dika tak memusingkan hal ini.
“Dari kampus kita udah terima bersih” jawab Dika tentang penanganan sampah di lapaknya.
Ia mengaku bahwa sampah tak menjadi hal yang perlu dipusingkan karena pihak kampus sudah bertanggungjawab sesuai dengan kontrak yang disepakati oleh kedua pihak.
Pihak kampus UNY telah berkomitmen menangani sampah tanpa melibatkan setiap pemilik lapak di kantin ini.
Dika juga berpendapat tak pernah menemukan tumpukan sampah di daerah kampus ini.
Kondisi ini menjadi bukti bahwa kampus UNY mampu menjaga keasrian dari tumpukan sampah yang kerap kali mengganggu pandangan.
Berbanding terbalik dengan situasi di luar kampus seperti tempat wisata yang masih ditemukan sampah berceceran.
“Tergantung kita ya, kalau naik gunung itu. apa yang kita bawa itu juga yang kita bawa pulang” tambahnya.
Dika bukan hanya pemilik lapak kecil di kantin UNY, ia juga penikmat keindahan alam.
Mendaki gunung sudah menjadi kegiatannya di setiap ada kesempatan.
Ia kerap menemukan sampah berceceran di jalan menuju puncak.
Dika juga menambahkan bahwa kesadaran masyarakat tentang lingkungan masih sangat minim.
Ironisnya, bahkan mereka yang mengaku pecinta alam kerap juga menjadi perusak alam.
Dengan pemahaman Bu Hernita dan Dika sebagai pemilik usaha kuliner di Jogja.
Sahabat Tawas sadar bahwa kebijakan yang lahir dari pemerintah bertujuan untuk mengatur regulasi pengelolaan sampah di Jogja.
Nyatanya, hal itu malah menjadi kesulitan baru bagi pemilik usaha.
Namun, masih ada juga yang tak perlu kerepotan menanganinya karena merasa terbantu oleh instansi lain seperti pengusaha yang bekerja sama dengan kampus UNY.
Untuk menjalankan kebijakan desentralisasi sampah tersebut agar sesuai dengan tujuan awal, seharusnya diberikan edukasi serta kelengkapan fasilitas pendukung.
Dengan begitu, pemilik usaha tak perlu menghadapi masalah yang lebih kompleks.
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: Foto Pribadi