TAWA SASTRA — Di balik setiap helai batik yang dihasilkannya, tersimpan perjalanan panjang seorang perempuan yang tak pernah berhenti belajar.
Dialah Sukarni, S.E., yang akrab disapa Ci Lien, pendiri Lien Collection, usaha batik yang lahir dari keberanian untuk bangkit setelah mengalami kegagalan usaha dan kemudian berkembang menjadi ruang berbagi ilmu hingga berbagai pelosok Indonesia.
Nama “Lien” yang melekat pada usahanya bukanlah nama panggilan, melainkan nama Tionghoa yang telah dimilikinya sejak lahir. Sementara nama resmi yang tercantum dalam akta kelahirannya adalah Sukarni.
Melalui nama Lien Collection, ia ingin menunjukkan bahwa kecintaan terhadap batik tidak mengenal latar belakang suku maupun etnis.
“Kalau orang Chinese saja mau belajar dan mencintai batik, kenapa kita yang lahir di Indonesia justru tidak?” tuturnya.
Perjalanan Ci Lien di dunia batik tidak dimulai dari industri tekstil. Sebelum mendirikan Lien Collection, ia pernah menjalankan usaha kantin di salah satu SD di Yogyakarta.
Ketika usaha tersebut harus berhenti, ia mencoba berbagai peluang lain, mulai dari usaha digital printing hingga membuat dompet rosario berbahan kain yang dapat dicuci.
Produk pertamanya tidak langsung diterima pasar. Berkali-kali ia menghadapi penolakan. Namun, pengalaman itu justru mendorongnya untuk terus berinovasi.
Ia menerima masukan dari pelanggan, membuat produk berdasarkan kebutuhan konsumen, hingga melayani permintaan desain khusus yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Bagi Ci Lien, setiap pelanggan dapat menjadi sumber ide baru.
“Moto saya jangan pernah mengatakan tidak bisa. Selama kita punya dasar ilmunya, selalu ada cara untuk belajar,” ujarnya.
Perkenalannya kembali dengan batik bermula ketika ia membantu anaknya mengerjakan tugas sekolah tentang membatik.
Pengetahuan yang pernah dipelajarinya semasa sekolah kembali Ci Lien gali. Dari sana, ketertarikannya terhadap batik perlahan berkembang menjadi profesi yang mengubah arah hidupnya.
Kini, Ci Lien tidak hanya dikenal sebagai perajin batik. Ia juga menjadi fasilitator pelatihan batik di berbagai daerah di Indonesia. Ia telah berbagi ilmu di Gunungkidul, Kebumen, Sukabumi, Nias, hingga berbagai wilayah lainnya.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi ketika mengikuti program industri kreatif bersama masyarakat Desa Sirna Resmi, Kasepuhan Sinar Resmi, Cisolok, Palabuhanratu, Sukabumi. Program tersebut berada di bawah naungan Telkom University dan Telkom Indonesia.
Selama tinggal bersama masyarakat adat, Ci Lien memilih bermalam di rumah warga daripada menginap di hotel. Keputusan itu diambil agar ia dapat memahami kehidupan masyarakat secara lebih dekat.
Di sana, ia belajar tentang filosofi hidup yang berpijak pada keseimbangan dengan alam.
Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah sistem penyimpanan padi melalui leuit, lumbung pangan tradisional yang menjadi simbol ketahanan pangan masyarakat adat.
Padi tidak diperjualbelikan, melainkan disimpan sebagai jaminan kehidupan keluarga.
Ci Lien juga terkesan dengan filosofi rumah kayu yang disampaikan oleh pemimpin adat.
“Kayu berasal dari kehidupan. Orang yang tinggal di rumah kayu berarti tinggal di rumah yang hidup,” kenangnya.
Bagi Ci Lien, pengalaman tersebut bukan sekadar perjalanan kerja. Ia menemukan pelajaran tentang bagaimana manusia menjaga hubungan dengan alam dan tradisi.

Namun, ada pelajaran lain yang tidak kalah penting dari pengalaman tersebut. Saat mengikuti program itu, Ci Lien menyadari bahwa hampir seluruh anggota tim memiliki gelar pendidikan tinggi. Hanya dirinya yang bahkan belum memiliki gelar sarjana.
Sebelumnya, Ci Lien mengaku tidak pernah memiliki niat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Namun, pengalaman tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk kembali belajar dan mengejar gelar sarjana.
Ci Lien kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan program studi manajemen hingga berhasil memperoleh gelar Sarjana Ekonomi.
Perjalanan lainnya membawanya ke Desa Budaya Hilisimaetano, Nias Selatan. Ia datang sebagai instruktur pelatihan batik, tetapi pulang dengan penghormatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Masyarakat adat mengangkatnya sebagai bagian dari keluarga desa dan menghadiahkannya pakaian adat Nias sebagai simbol penerimaan.
“Rumah kedua saya sekarang ada di Nias,” katanya.
Selain itu, momen paling mengharukan pun terjadi ketika Ci Lien berada di sini. Setelah pelatihan batik selesai, biasanya pada hari terakhir diadakan acara penutup yang salah satunya berupa peragaan busana. Pada acara tersebut, namanya disebut sebagai “Sukarni, S.E.”
Mendengar namanya disebut dengan gelar yang telah diperjuangkannya, Ci Lien tidak kuasa menahan tangis.
Ia terharu karena akhirnya berhasil meraih gelar sarjana yang sebelumnya tidak pernah menjadi bagian dari rencana hidupnya.
Peristiwa itu menjadi semakin berkesan karena acara tersebut juga dihadiri oleh Wakil Menteri Keuangan.
Di tengah acara yang merayakan karya dan budaya, Ci Lien justru menemukan sebuah momen pribadi yang mengingatkannya pada perjalanan panjang untuk mencapai gelar tersebut.
Menjadi fasilitator pelatihan juga membuat Ci Lien terus belajar dari para peserta. Ia masih mengingat seorang nenek di Gunungkidul yang menghasilkan karya jumputan terbaik.
Setelah berbincang, Ci Lien mengetahui bahwa sang nenek sehari-hari bekerja mengikat bungkus tempe.
Ketelitian yang dimiliki dalam pekerjaan tersebut ternyata menghasilkan ikatan kain yang sempurna ketika mengikuti praktik membatik.
Pengalaman itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa kemampuan seseorang tidak dapat diukur hanya dari usia, pendidikan, ataupun latar belakang pekerjaan.
“Jangan pernah meremehkan orang sebelum melihat hasil karyanya,” ujarnya.
Selain membatik, Ci Lien juga masih aktif mengembangkan berbagai produk kreatif berbasis kain. Salah satunya adalah dompet rosario yang hingga kini masih diproduksi dan dipasarkan sebagai suvenir di kawasan Gereja Ganjuran.
Produk tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas dapat lahir dari kebutuhan sederhana sekaligus menjadi media pelestarian budaya dan nilai-nilai spiritual.
Saat ini Ci Lien tengah menjalankan program pendampingan di Kalimantan yang dijadwalkan berlangsung hingga 2027.
Sehingga aktivitas produksi dan pelatihan di Yogyakarta untuk sementara waktu tidak dilakukan secara langsung.

Bagi Ci Lien, perjalanan sebagai perajin batik bukan semata-mata tentang menghasilkan karya. Lebih dari itu, ia melihat batik sebagai jalan untuk berbagi pengetahuan.
Ia percaya bahwa ilmu tidak akan berkurang ketika dibagikan. Sebaliknya, semakin banyak ia mengajar, semakin banyak pula pengalaman yang memperkaya dirinya.
Di setiap daerah yang dikunjunginya, Ci Lien selalu menemukan pelajaran baru. Dari masyarakat adat, ia belajar tentang harmoni dengan alam.
Dari para peserta pelatihan, ia belajar tentang ketekunan. Sementara dari kegagalan usaha, ia belajar untuk bangkit.
Dari pengalaman di sebuah komunitas adat, ia menemukan keberanian untuk kembali belajar.
Dari perjalanan ke Nias, ia menemukan sebuah momen yang menegaskan perjuangannya, ketika namanya disebut dengan gelar yang berhasil diraihnya setelah melalui perjalanan panjang.
Melalui Lien Collection, Ci Lien terus membuktikan bahwa batik bukan sekadar warisan budaya. Batik juga dapat menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan kisah, nilai, dan kehidupan.
Tulisan ini merupakan karya jurnalistik yang disusun sebagai bagian dari pemenuhan program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sanata Dharma di Jatimulyo, Kelurahan Kricak, Yogyakarta.
Cr: Dokumentasi Pribadi Penulis dan Farelya Azzahra Yusuf