Banyak orang memilih hobi yang menenangkan untuk meredakan penat.
Namun, bagaimana jika gairah dan hobi Anda justru terletak pada upaya nekat menerbitkan koran cetak di era sekarang?
Kebanyakan orang memilih hobi bermain bola, memancing, bermain game, atau membaca buku fiksi sebagai hobi untuk melepaskan diri dari penatnya rutinitas harian.
Hobi, dalam definisi paling klasiknya, adalah sebuah kegiatan yang kita sukai.
Ia semestinya menjadi ruang aman yang menenangkan, tempat di mana seseorang memegang kendali penuh tanpa segala tuntutan kehidupan.
Namun, batasan hobi menjadi sangat “kabur” bagi segelintir orang.
Bagi mereka, hobi dan gairah (passion) batin justru bersandar pada sesuatu yang menguras energi maupun pikiran.
Hal ini terjadi ketika dunia jurnalistik, khususnya ambisi menerbitkan koran cetak di tengah gempuran era digital sebagai sebuah “hobi” dan obsesi yang menolak untuk dipadamkan.
Di tengah perkembangan teknologi, masyarakat menuntut informasi yang instan, dipandu oleh algoritma, dan dipenuhi sensasi clickbait, mendirikan sebuah media cetak baru terdengar seperti lelucon dan niat yang gila.
Pertaruhan antara idealisme, “hobi” membesarkan media, dan realita bisnis berdarah-darah, inilah yang direkam dengan sangat apik dalam novel Medan Medan karya Muram Batu.

Melalui novel setebal 392 halaman ini, Muram Batu mengajak pembaca menyelami kerasnya dinamika dan intrik dapur redaksi di ibu kota Sumatera Utara.
Niat Gila dan Romantisme Kertas Koran
Novel ini berpusat pada tokoh Laung, seorang pria yang memilih jalan sunyi sekaligus bising membangun koran berskala lokal di tengah senjakala media cetak.
Bagi Laung, jurnalisme bukan sekadar ladang mencari nafkah, melainkan sebuah hobi yang menjelma menjadi candu dan panggilan hidup.
Ia memiliki konsep serta tekad yang melampaui perhitungan logis pebisnis media pada umumnya.
Ia merindukan sensasi fisik dari jurnalistik cetak.
Bau tinta yang menguar dari mesin cetak, kasarnya tekstur kertas koran, dan kepuasan melihat tata letak rubrik yang selesai di pagi buta.
Dari obsesinya tersebut, lahirlah Medan Raya, sebuah koran sore yang secara unik mengusung dialek khas Medan.
Keputusan ini menunjukkan kecintaan yang mendalam pada warna lokal, sebuah eksperimen idealis di tengah tren penyeragaman bahasa pada media nasional.
Medan Raya dirancang untuk menjadi cermin dari masyarakatnya sendiri, yaitu lugas, keras, tanpa menutupi realita, dan penuh dengan dinamika sosial yang bergejolak.
Laung, Pilu, dan Habitus Ruang Redaksi
Namun, untuk mewujudkan hobi dan gagasannya ini, Laung tidak bisa bekerja dalam ruang hampa atau sekadar berdiam di menara gading intelektual.
Ia harus turun ke lapangan yang berdebu.
Dinamika menjadi semakin menarik sekaligus kacau dan tidak karuan, dengan kehadiran tokoh Pilu.
Pilu adalah representasi dari sisi abu-abu dunia pers daerah seorang wartawan gadungan.
Pengalamannya bekerja tanpa gaji di media abal-abal memberinya insting bertahan hidup yang tak terduga.
Pilu paham betul seluk-beluk bisnis dan teknis “jalanan” sebuah koran.
Jika Laung adalah otak dan hati dari Medan Raya, maka Pilu adalah otot dan kelicikan yang membuatnya tetap hidup.
Gabungan antara idealisme Laung dan kelihaian jalanan Pilu inilah yang menjadi motor penggerak koran tersebut.
Membaca interaksi karakter dalam Medan Medan mengingatkan kita pada konsep habitus yang digagas oleh Pierre Bourdieu.
Ruang redaksi dan lapangan liputan membentuk struktur kognitif para jurnalisnya.
Mereka terbiasa dengan ancaman, amplop tawar-menawar berita, hingga premanisme politik.
Hobi Laung merawat idealisme harus terus-menerus bernegosiasi dengan habitus jurnalisme jalanan ala Pilu dan kawan-kawannya.
Hal ini menciptakan ketegangan naratif yang luar biasa memikat sepanjang halaman.
Idealisme yang Bertabrakan dengan Realitas Pasar
Membaca Medan Raya adalah membaca sebuah ironi yang terbuka.
Di satu sisi, pembaca disuguhkan gairah murni dan dedikasi pada karya jurnalistik, sebuah hobi merangkai aksara yang berubah menjadi tanggung jawab moral.
Di sisi lain, Muram Batu dengan jujur membongkar realitas pahit bahwa dunia percetakan dan penerbitan tak selalu diisi oleh figur-figur suci pengawal demokrasi.
Kehadiran barisan wartawan tanpa surat tugas yang ikut membangun Medan Raya menjadi kritik tajam terhadap ekosistem media massa kita.
Mengelola koran tak lagi sekadar menyalurkan hobi menulis, tetapi juga tentang seni meracik strategi untuk bertahan hidup di medan pertempuran yang kejam.
Berbekal pengalamannya yang panjang sebagai jurnalis di Medan sejak 2008, Muram Batu menghadirkan detail narasi yang sangat organik.
Gaya bertuturnya lugas namun kaya akan nuansa dan metafora lokal.
Pembaca seolah bisa mencium aroma kopi yang mengendap di meja redaktur.
Pembaca juga dapat mendengar perdebatan keras penuh umpatan di ruang rapat yang dipenuhi asap rokok kretek.
Selain itu, pembaca juga bisa merasakan keputusasaan saat penjualan koran anjlok tidak mencapai target.
Pada akhirnya, Medan Raya adalah sebuah ode bagi para pencerita, pewarta, dan orang-orang yang masih menjadikan jurnalisme sebagai hobi tertinggi mereka.
Novel ini menampar sekaligus merangkul kita dengan kenyataan bahwa godaan jalan pintas mungkin bisa mengangkat pamor sebuah media dengan cepat.
Namun, idealisme yang memberikan pijakan.
Buku ini direkomendasikan tidak hanya bagi peminat kajian media dan literatur sastra.
Buku ini direkomendasikan bagi siapa saja yang memiliki hobi, passion, atau “kegilaan” dalam merawat apa yang mereka yakini di tengah dunia yang terus berubah dengan tanpa ampun.
Data Buku
Judul: Medan Medan
Penulis: Muram Batu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 392
Tahun terbit: 2025
ISBN: 9786020685588
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: gramedia.com, pinterest.com