Kesantunan Berbahasa yang Luntur di Media Sosial Saat Ini

Reading Time: 2 minutes

TAWA SASTRA – Media sosial (medsos) telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern, terutama bagi generasi muda.

Medsos mempermudah komunikasi dan penyebaran informasi, tetapi juga menyebabkan lunturnya kesantunan berbahasa.

Saat ini, komentar kasar dan ujaran kebencian semakin mudah ditemukan di berbagai ruang digital.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu diiringi dengan perkembangan etika dalam berbahasa.

Kesantunan berbahasa pada dasarnya merupakan sikap menghormati lawan bicara melalui pilihan kata, nada, maupun cara menyampaikan pendapat.

Dalam kehidupan bermasyarakat, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga menjadi cerminan karakter dan budaya seseorang.

Dahulu, masyarakat Indonesia dikenal memiliki budaya tutur yang sopan dan menghargai orang lain. Akan tetapi, budaya tersebut perlahan mengalami pergeseran.Banyak pengguna internet bebas berkata tanpa mempertimbangkan dampaknya sehingga kolom komentar sering dipenuhi ejekan dan hinaan, terutama melalui akun anonim. Kritik yang seharusnya disampaikan secara bijak justru berubah menjadi serangan verbal.

Perbedaan pendapat di media sosial sering memicu penyerangan terhadap seseorang hanya karena memiliki selera, pandangan, atau pilihan politik yang berbeda.

Selain itu, budaya viral juga memperparah kondisi tersebut. Banyak orang berlomba-lomba mencari perhatian dan popularitas melalui komentar pedas atau konten kontroversial.

Hal ini membuat perilaku berbahasa kasar perlahan dianggap wajar.

Lunturnya kesantunan berbahasa juga dipengaruhi oleh rendahnya literasi digital masyarakat.

Banyak pengguna medsos belum mampu membedakan kebebasan berpendapat dan kebebasan menghina orang lain.

Ironisnya, media sosial yang seharusnya menjadi sarana bertukar pikiran justru sering dipenuhi penyebaran hoaks dan fitnah.Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat belum sepenuhnya bijak dalam menggunakan bahasa di ruang digital.

Dampak dari lunturnya kesantunan berbahasa tentu tidak dapat dianggap remeh. Banyak individu mengalami tekanan mental akibat perundungan verbal di berbagai platform daring.

Tidak sedikit pula konflik sosial yang bermula dari komentar atau unggahan provokatif. Jika dibiarkan, medsos akan menjadi ruang penuh permusuhan dan mencerminkan kemunduran moral masyarakat.

Situasi ini juga bertentangan dengan nilai budaya Indonesia yang menjunjung sopan santun serta semangat persatuan.

Dalam konteks Pancasila, perilaku saling menghina tidak mencerminkan nilai kemanusiaan dan persatuan. Oleh karena itu, kesantunan berbahasa tidak seharusnya dipandang sebagai aturan kuno yang membatasi kebebasan, melainkan sebagai bentuk penghargaan terhadap sesama manusia.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, diperlukan kesadaran bersama dalam menggunakan medsos secara bijak.

Pendidikan etika digital perlu diperkuat agar pengguna medsos lebih bijak dalam berbahasa tanpa merendahkan atau menghina orang lain.

Pada akhirnya, cara seseorang berbicara di media sosial menunjukkan kualitas dirinya sendiri.

Editor: Carissa Azahra Candraningtyas

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *