TAWA SASTRA – Titik Nol Kilometer Yogyakarta hampir tidak pernah tidur.
Di sana, sejarah dan modernitas bertubrukan setiap detiknya dalam wujud deru mesin kendaraan, tawa para pelancong yang berburu foto, hingga teriakan nyaring para pedagang kaki lima.
Namun, kalau Anda melipir sedikit ke arah utara, tepat di depan pagar putih Benteng Vredeburg pada Selasa, Kamis, atau Sabtu pagi, Anda akan menemukan sebuah anomali yang sunyi.
Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang lelaki paruh baya duduk dengan tenang di sebuah bangku besi.
Di sampingnya, sebuah sepeda kayuh tua terparkir, menyangga sebuah papan kayu sederhana berisi deretan novel tipis.
Di papan itu tertulis sebuah ajakan yang mulai terasa asing di telinga generasi hari ini: “Ayo Membaca Novel Berbahasa Jawa”.
Lelaki itu adalah Bambang Saparyono.
Di usianya yang tidak lagi muda, ia memilih untuk menghabiskan hari-hari pensiunnya dengan menjaga nyawa aksara dan bahasa ibunya.
Latar belakangnya terbilang kontras dengan kesibukannya saat ini. Pak Bambang adalah seorang mantan apoteker.
Kalau dahulu tangannya sibuk meracik obat-obatan kimia untuk menyembuhkan penyakit fisik manusia, kini ia beralih meracik kata-kata dalam bahasa Jawa.
Hal ini ia lakukan demi merawat ingatan sebuah bangsa yang perlahan diamputasi oleh amnesia kultural.
“Asli, tidak tiruan, tidak KW,” ujarnya sembari terkekeh hangat saat mengenalkan diri.
Candaan ringan itu meluncur begitu saja, mencairkan suasana pagi yang mulai menghangat di bawah bayang-bayang pohon peneduh jalan.
Meracik Warisan Lewat Aksara Lokal

Kisah Pak Bambang dan perpustakaan mini sepedanya bermula dari keresahan yang mendalam.
Sejak tahun 2024, ia membulatkan tekad untuk terjun langsung dalam gerakan pelestarian sastra Jawa.
Ia tidak sekadar menjadi kolektor atau penyalur buku; novel-novel berbahasa Jawa yang dipajang di sepedanya adalah karya-karyanya sendiri.
Novel-novel tersebut ditulis dengan ketekunan seorang empu, menggunakan bahasa Jawa yang luwes, menangkap keseharian, sekaligus merekam dinamika batin manusia Jawa modern.
Bagi Pak Bambang, menulis dalam bahasa Jawa adalah sebuah panggilan hidup, sebuah laku prihatin.
Di era di mana bahasa daerah kerap dianggap sebagai bahasa kelas dua—yang hanya pantas diucapkan di dapur atau saat mengumpat—menulis novel berbahasa Jawa adalah bentuk perlawanan kultural.
Ia percaya bahwa sastra Jawa memiliki kedalaman rasa (roso) yang sulit digantikan oleh bahasa lain.
Ada konsep-konsep hidup, kesopanan, dan filsafat yang akan luluh lantak kalau tidak lagi ditulis dan dibaca oleh penuturnya.
Setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, mulai pukul tujuh hingga sembilan pagi, Pak Bambang dengan setia menuntun sepedanya menuju Titik Nol.
Di sana, ia menggelar lapak literasi yang ia sebut sebagai perpustakaan mini berjalan.
Bagi pengunjung yang ingin mengoleksi novel-novel karyanya, ia bahkan memberikan potongan harga khusus sebesar 20 persen.
Langkah ini diambil bukan demi meraup keuntungan materiil, melainkan agar bukunya bisa menjangkau lebih banyak tangan dan kepala.
Paradoks Viralitas: Ramai di Layar, Sunyi di Lapak

Sebagai jurnalis yang mencoba memotret realitas secara jujur, kita tidak bisa menutup mata dari sebuah paradoks yang menggelitik.
Belakangan ini, sosok Pak Bambang sempat menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah profilnya diangkat oleh media lokal seperti Mojok.co dan viral di berbagai platform media sosial, termasuk Instagram.
Namun, ketika ditanya mengenai dampak nyata dari viralitas tersebut terhadap jumlah pengunjung fisik di lapaknya, Pak Bambang menjawab dengan senyuman yang getir sekaligus realistis.
“Nggak, nggak ada efeknya yang nyata… nggak terlalu nyatalah efeknya,” ungkapnya dengan jujur.
“Cuman memang belakangan ini banyak yang kontak saya ya, banyak pembaca-pembaca yang ingin kontak dengan saya, setelah diposting sama Mojok itu. Banyak yang kontak saya.”
Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah trotoar Benteng Vredeburg yang mulai dipadati pejalan kaki.
“Tapi kalau pengunjung di sini, ya… paling dua, tiga, atau empat orang saja yang mampir,” tambahnya pelan.
Pernyataan tersebut seperti sebuah tamparan bagi ekosistem kebudayaan kita hari ini.
Kita begitu mudah menekan tombol like, membagikan ulang kiriman tentang “pelestarian budaya”, atau meninggalkan komentar pujian di layar gawai kita.
Namun, ketika dihadapkan pada realitas fisik—untuk benar-benar meluangkan waktu sepuluh menit, duduk di bangku taman, dan membaca sebaris kalimat berbahasa Jawa—kita mendadak menjadi begitu sibuk dan berjarak.
Bahasa Jawa dielu-elukan di ruang digital sebagai warisan leluhur yang adiluhung, namun dibiarkan mati kesepian di dunia nyata.
Menolak Mati di Jantung Kebudayaan

Meskipun kunjungan fisik ke lapak sepedanya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, Pak Bambang menolak untuk patah arang.
Baginya, kehadiran dua atau tiga orang yang benar-benar tertarik membaca dan berdiskusi dengannya setiap pagi sudah lebih dari cukup untuk menjaga nyala api harapannya.
Di situlah fungsi sesungguhnya dari ruang komunal kota: sebagai tempat bertemunya gagasan-gagasan yang jujur tanpa sekat formalitas.
Gerakan sunyi yang dilakukan oleh Pak Bambang di Titik Nol Kilometer ini adalah sebuah pengingat yang keras bagi kita semua, khususnya masyarakat akademis dan pecinta sastra di Yogyakarta.
Pelestarian kebudayaan tidak akan pernah selesai kalau hanya bergulat di dalam ruang seminar yang ber-AC, atau di balik meja diskusi teoretis yang njelimet di kampus-kampus.
Kebudayaan harus diuji di jalanan, diuji oleh keterasingannya sendiri di tengah-tengah masyarakatnya.
Melalui sepedanya yang bersahaja, Pak Bambang Saparyono sedang mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru Jogja: bahwa sastra Jawa belum mati.
Ia masih hidup dan terus berdenyut di sela-sela kertas novel tipis yang berdebu oleh asap kendaraan Malioboro.
Sastra Jawa masih bertahan di dalam kepala seorang mantan apoteker yang menolak membiarkan identitas bangsanya punah begitu saja.
Sekarang, pertanyaan itu kembali ke diri kita masing-masing: maukah kita menepi sejenak dari kesibukan dunia modern, duduk di samping sepedanya, dan ikut merawat denyut nadi yang tersisa itu?
Ataukah kita hanya akan menjadi penonton yang sibuk mengetik belasungkawa ketika bahasa ibunya benar-benar telah menjadi fosil di museum sejarah?
Editor: Chrisnina Eka Pramesti | Cr: kumparan.com, radarjogja