TAWA SASTRA – Tiada hentinya lembar revisi yang terus dikembalikan dari dosen pembimbing kepada mahasiswa yang sedang gencar-gencarnya mengerjakan tugas akhir atau skripsi.
Lembar revisi yang dikembalikan tersebut bukan sekadar koreksi atas naskah tugas akhir.
Di balik itu terdapat jiwa-jiwa mahasiswa yang lelah baik secara emosional, mental, bahkan sampai fisik.
Ada yang berbulan-bulan, bertahun-bertahun, dan bekerja mati-matian untuk menyelesaikan skripsi, tesis, atau disertasi yang justru menjebak mereka dalam krisis kesehatan mental.
Krisis ini pun jarang sekali terdengar atau bahkan terekspos. Burnout adalah fenomena yang tidak akan pernah hilang dari kehidupan mahasiswa semester akhir.
Data.goodstats.id mencatat sekitar 56% mahasiswa di Indonesia mengalami burnout akademik.

Mereka merasa jenuh dan stres dengan kelas-kelas yang diambil dan tugas serta ujian yang menumpuk membuat mereka tidak memiliki waktu tidur yang cukup.
Tekanan deadline ditambah dengan aktivitas di luar kampus menjadikan istirahat bukan lagi prioritas utama.
Stres akademik merupakan salah satu faktor dominan yang secara konsisten berhubungan dengan burnout.
Perfeksionisme, kecemasan, dan rendahnya self-efficacy semakin memperkuat stres terhadap burnout.
Fenomena ini bukan sekadar kelelahan biasa melainkan kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat tekanan akademik yang berkepanjangan.
Hal ini mempengaruhi kualitas hidup mahasiswa seperti menurunnya kesehatan mental dan prestasi akademik.
Seharusnya, dukungan sosial dan kualitas lingkungan akademik bisa menjadi penggerak aktif yang protektif dan moderator.
Akibat dari kurangnya peran tersebut, sebagian besar mahasiswa mengalami gangguan kecemasan dan merasa kurang dihormati oleh dosen.
Setiap lembar revisi memang perlu dipenuhi untuk mencapai kelulusan. Namun di balik itu terdapat jiwa yang punya batasan, kelelahan, dan emosi yang terkuras.
Jangan biarkan gelar sarjana didapat dengan mengorbankan kesehatan jiwa.
Karena pada akhirnya, yang lebih berharga dari tuntasnya skripsi adalah mahasiswa yang tetap sehat, waras, dan utuh setelah melewati berbagai proses.
Editor: Elisabeth Zelda Indarwan | Cr: data.goodstats.id, pgsd.fip.unesa.ac.id