Bagi mahasiswa strata satu (S1), tugas akhir merupakan tahap yang harus dilalui sebelum memperoleh gelar sarjana.
Setelah menyelesaikan seluruh mata kuliah, mahasiswa diwajibkan menyusun skripsi sebagai syarat akhir pendidikan akademik.
Skripsi bukan sekadar tulisan ilmiah, tetapi bentuk pertanggungjawaban atas ilmu yang telah dipelajari selama masa perkuliahan.
Dalam proses penyusunannya, mahasiswa dituntut mampu melakukan penelitian, menyusun argumentasi, berpikir kritis, hingga memecahkan persoalan sesuai bidang keilmuan masing-masing.
Tidak heran jika skripsi memiliki bobot lebih besar dibandingkan mata kuliah lain karena prosesnya membutuhkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya yang tidak sedikit.
Namun, realitas yang dihadapi mahasiswa sering kali jauh dari gambaran ideal tersebut.
Bagi sebagian mahasiswa, skripsi bukan lagi ruang untuk mengembangkan kemampuan akademik, melainkan fase paling melelahkan dalam masa perkuliahan.
Tekanan untuk segera lulus, revisi berulang, sulitnya proses bimbingan, hingga tuntutan dari keluarga membuat tugas akhir perlahan berubah menjadi beban yang harus cepat diselesaikan.
Keluhan mengenai dosen pembimbing sudah menjadi hal yang umum di lingkungan kampus.
Ada mahasiswa yang harus menunggu lama untuk mendapatkan jadwal bimbingan dan ada pula yang berkali-kali merevisi tanpa arahan yang jelas.
Kondisi seperti ini sering membuat mahasiswa kehilangan semangat dalam menyelesaikan skripsi.
Pada akhirnya, banyak mahasiswa hanya ingin tugas akhirnya selesai dan bisa segera wisuda.
Joki Skripsi dan Budaya Instan

Fenomena maraknya jasa joki skripsi juga menunjukkan persoalan yang lebih serius di dunia akademik.
Selain itu, praktik copy-paste tanpa mencantumkan sumber yang jelas masih sering ditemukan dalam penulisan tugas akhir.
Perkembangan teknologi membuat sebagian mahasiswa mulai bergantung pada Artifical Intelligence (AI) untuk menyusun skripsi tanpa benar-benar memahami isi tulisan yang dibuat.
Akibatnya, muncul kondisi ketika mahasiswa mampu menyelesaikan skripsi dan mengikuti sidang akhir, tetapi tidak memahami penelitian yang dipresentasikan.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa sebagian mahasiswa mulai memandang tugas akhir hanya sebagai formalitas akademik.
Keinginan untuk segera lulus sering kali menjadi tujuan utama, sedangkan proses belajar justru dikesampingkan.
Jika kondisi ini terus dianggap wajar, kampus perlahan dapat kehilangan fungsinya sebagai ruang pembentukan cara berpikir kritis dan integritas ilmiah.
Persoalan ini sebenarnya tidak sepenuhnya berasal dari mahasiswa.
Sistem akademik kampus juga memiliki peran besar dalam menciptakan tekanan selama proses penyusunan tugas akhir.
Kampus sering menuntut mahasiswa untuk cepat lulus, tetapi belum sepenuhnya menyediakan sistem bimbingan yang efektif dan suportif.
Akibatnya, mahasiswa harus menghadapi tekanan akademik dan mental secara bersamaan.
Karena itu, kampus perlu membangun proses bimbingan yang lebih manusiawi dan terbuka.
Dosen pembimbing tidak hanya berperan sebagai penilai, tetapi juga pendamping dalam proses akademik mahasiswa.
Di sisi lain, mahasiswa juga perlu menyadari bahwa skripsi bukan sekadar syarat administratif menuju wisuda.
Tugas akhir seharusnya menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan berpikir, tanggung jawab ilmiah, dan pemahaman terhadap ilmu yang dipelajari selama kuliah.
Pada akhirnya, tugas akhir memang menjadi syarat kelulusan.
Namun, lebih dari itu, skripsi seharusnya menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu memahami, mengolah, dan mempertanggungjawabkan ilmu yang dimilikinya.
Jika tugas akhir hanya dipahami sebagai tiket menuju gelar sarjana, maka pendidikan tinggi perlahan akan kehilangan makna intelektual yang seharusnya dijaga.
Editor: Elisabeth Zelda Indarwan | Cr: Pinterest