Ramadan pastinya tidak lepas dari identiknya prediksi lebaran antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah (MU). NU dan Muhammadiyah seringkali dipahami secara sederhana sebagai dua organisasi besar, dua cara beragama, dan sejumlah perbedaan yang tampak di permukaan.
Perbedaan yang kerap kali diperbincangkan adalah cara beribadah dan penentuan hari raya, yakni lebaran. Namun, jika dilihat lebih dalam, relasi NU dan Muhammadiyah bukan sekadar soal perbedaan saja. Melainkan tentang bagaimana perbedaan itu diolah menjadi kekuatan sosial yang memperkaya kehidupan beragama, khususnya di Indonesia.
Publik sering mereduksi perbedaan NU dan Muhammadiyah pada hal-hal teknis, seperti qunut dalam salat Subuh atau metode pada penentuan hari raya Idulfitri. Muhammadiyah dikenal menggunakan metode hisab, sementara NU menggabungkan hisab dan rukyat yang kemudian akan diputuskan melalui pemerintah.

Perbedaan ini membuat hari raya selalu jatuh ditanggal yang berbeda. Hal ini sering memantik diskursus yang berulang setiap tahun, bahkan ada yang melihatnya sebagai potensi perpecahan. Namun, tidak sedikit pula yang memaknainya sebagai bentuk kedewasaan dalam beragama. Dilansir dari serambiriau.com, dalam sejarahnya, NU dan Muhammadiyah memiliki pola kolaborasi yang kuat.
Di mana, tokoh-tokoh besar seperti Buya Hamka dari Muhammadiyah dan Idham Chalid dari NU menunjukkan bahwa perbedaan organisasi tidak menghalangi kerja sama dalam ruang kebangsaan. Keduanya terlibat dalam berbagai upaya menjaga persatuan, terutama pada masa krusial Indonesia. Identitas sebagai NU ataupun Muhammadiyah terbentuk melalui berbagai macam faktor.
Salah satunya adalah faktor keluarga dan lingkungan. Putri Nur Azizah, pegawai swasta di salah satu perusahaan jasa di Yogyakarta, mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari Muhammadiyah karena sejak kecil hidup dalam lingkungan Muhammadiyah. Hal serupa juga diungkapkan oleh Raihani Putri, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2023 di Universitas Sanata Dharma (USD) yang berasal dari keluarga NU.
Menariknya, meskipun identitas keduanya terbentuk secara turun-temurun, cara pandang mereka terhadap perbedaan NU dan Muhammadiyah justru menunjukkan kedewasaan yang patut diapresiasi. Putri melihat toleransi sebagai sikap saling menghargai dan menghormati meskipun terdapat perbedaan.
“Pandangan saya, toleransi di antara Muhammadiyah dan NU itu saling menghargai dan menghormati meskipun terkadang ada sedikit perbedaannya namun kami itu tetap satu beragama Islam”, ujarnya.
Raihani pun berpendapat demikian, “Hal yang wajar dalam memahami perbedaan di antara NU dan Muhammadiyah, yang penting adalah saling menghormati dan tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai konflik karena keduanya punya tujuan yang sama demi kebaikan umatnya”.
Relasi NU dan Muhammadiyah dapat dibaca sebagai praktik nyata dari toleransi intra-agama. Selama ini, toleransi hanya berfokus pada hubungan antar agama saja, sementara relasi dalam satu agama sendiri kerap luput dari perhatian. Padahal, di sinilah letak tantangan besar itu. Menerima perbedaan yang “dekat” dengan kita seringkali lebih sulit karena menyentuh aspek identitas yang lebih personal.
Dalam konteks kebangsaan, kolaborasi antara NU dan Muhammadiyah memiliki arti yang strategis. Keduanya tidak hanya bergerak di bidang keagamaan saja, tetapi bergerak juga di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.
Sekolah, universitas, rumah sakit, hingga organisasi kemasyarakatan menjadi bukti nyata dari kontribusi dua organisasi besar ini terhadap pembangunan bangsa. Ketika keduanya bersinergi, dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh umat Islam saja, tetapi dirasakan juga oleh masyarakat Indonesia. Warna-warni yang muncul dari relasi keduanya adalah cerminan dari keberagaman yang hidup dan dinamis.
Dalam spektrum warna inilah, Islam di Indonesia menemukan bentuknya yang khas, yaitu inklusif, moderat, dan adaptif. Pelajaran terbesar dari relasi NU dan Muhammadiyah adalah persatuan tidak harus berarti keseragaman. Justru, persatuan menemukan maknanya ketika perbedaan dapat diterima dan dikelola dengan bijak.
Dalam konteks dunia yang semakin kompleks ini, kemampuan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan menjadi kunci utama. Hal ini telah ditunjukkan oleh NU dan Muhammadiyah. Bahwasannya, dengan segala warna-warni yang dimilikinya, ditunjukkan hal itu bukan sekadar ideal semata. Melainkan sesuatu yang nyata dan mungkin untuk diwujudkan demi kepentingan bersama.
Editor: Elisabeth Zelda Indarwan | Cr: Kompas.com, Untar