Dikejar tenggat, revisi tak berujung, dan ekspektasi yang terus menumpuk, realitas ini akrab bagi banyak mahasiswa maupun para pekerja saat ini.
Di tengah tekanan itu, muncul satu ritual yang kini terasa hampir sakral, yakni self-reward lewat makanan atau minuman mahal.
Kita menyebutnya dengan satu kata yang menenangkan yaitu healing.
Namun, pertanyaannya sederhana.
Apakah itu benar-benar menyembuhkan? Atau sekadar cara halus untuk melupakan sejenak apa yang sebenarnya belum selesai?
Ilusi Kendali di Meja Makan
Secara psikologis, fenomena ini bukan sekadar soal rasa atau lapar, tetapi soal kendali.
Dalam kehidupan akademik atau profesional, kita sering merasa tidak punya kuasa, ditentukan oleh jadwal, nilai, atau standar orang lain.
Di meja makan, situasinya berbalik.
Kita memilih menu dan memutuskan apa yang ingin kita nikmati.
Dalam momen singkat itu, kita merasa menjadi subjek yang utuh.
Memesan makanan mahal menjadi simbol kecil bahwa kita masih punya kendali atas hidup kita.
Namun, kendali itu bersifat sementara.
Ia berhenti saat tagihan datang.
Simulasi Kenikmatan dan Citra Diri
Ironinya, yang kita beli sering kali bukan sekadar makanan.
Kita membeli pengalaman, citra, bahkan versi ideal dari diri kita sendiri.
Secangkir kopi mahal bukan hanya soal rasa, tetapi tentang suasana tenang yang kita dambakan.
Sepiring makanan estetik bukan hanya soal kenyang, tetapi tentang validasi bahwa kita “layak” menikmati hidup.
Dalam konteks ini, healing berubah menjadi simulasi.
Kita menikmati bayangan tentang diri kita yang baik-baik saja, padahal di balik itu, kecemasan dan tekanan tetap menunggu untuk diselesaikan.
Cicilan Kenikmatan dan Lingkaran Konsumerisme

Masalahnya muncul ketika self-reward tidak lagi menjadi jeda, melainkan pelarian.
Kita mulai masuk dalam siklus yang berulang: stres → konsumsi → tenang sesaat → cemas lagi karena pengeluaran → stres kembali.
Inilah yang bisa disebut sebagai “cicilan kenikmatan”.
Kita membayar rasa lega dengan harga yang harus dilunasi kemudian baik secara finansial maupun emosional.
Alih-alih menyembuhkan, pola ini justru memperpanjang masalah.
Kita mencoba menutup luka mental dengan konsumsi, yang pada akhirnya menciptakan luka baru.
Mencari Makna Healing yang Lebih Jujur
Barangkali, yang sebenarnya kita butuhkan bukanlah menu yang lebih mahal, tetapi kejujuran pada diri sendiri bahwa kita lelah.
Pada akhirnya, kita perlu jujur pada diri sendiri.
Mungkin yang kita butuhkan bukanlah sepiring pasta mahal dengan penyajian artistik, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak dan mengakui bahwa kita lelah.
Healing yang sesungguhnya tidak selalu memiliki label harga.
Karena sering kali, istirahat yang paling jujur adalah ketika kita tidak perlu membeli apa pun untuk merasa berharga.
Tidak semua bentuk healing harus dibeli.
Kadang, yang lebih menyembuhkan justru hal-hal sederhana, istirahat tanpa rasa bersalah, percakapan yang tulus, atau memberi ruang bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak.
Karena pada akhirnya, nilai diri kita tidak ditentukan oleh apa yang mampu kita konsumsi.
Simpulan: Berani Berhenti, Bukan Sekadar Membeli
Healing yang sejati bukan tentang melarikan diri dari tekanan, melainkan tentang menghadapi dan mengelolanya dengan cara yang lebih sehat.
Jika kita terus menggantinya dengan konsumsi, kita hanya akan terjebak dalam lingkaran yang melelahkan.
Maka, mungkin langkah paling radikal hari ini bukanlah membeli sesuatu untuk merasa lebih baik melainkan berani berhenti, bernapas, dan mengakui bahwa kita butuh istirahat tanpa harus membayarnya.
Editor: Carissa Azahra Candraningtyas | Cr: pngtree.com, pexels.com