Broken Strings adalah memoar personal karya Aurélie Moeremans yang menceritakan kisah hidup nyata dirinya sebagai korban child grooming semasa remajanya.
Buku setebal 220 halaman ini dirilis pada 10 Oktober 2025 dalam format PDF yang hadir dengan dua bahasa (Indonesia dan Inggris).
Kemudian dilanjutkan dengan versi fisik via pre-order.
Género buku ini bukan novel fiksi, melainkan kesaksian jujur berupa memoar personal yang mengangkat pengalaman traumatis Aurélie sejak usia sangat muda.
Kisah dalam Broken Strings dimulai dari kehidupan Aurélie yang lahir di Belgia dengan keluarga yang mendapat perlakuan tegas dari ayahnya.

Setelah beranjak dewasa, Aurélie pindah ke Indonesia dan bekerja menjadi entertainment.
Di Indonesia, ia bertemu dengan seorang bernama Bobby, pria dewasa yang mengubah hidupnya sepenuhnya.
Bobby memulai pola grooming dengan memberikan perhatian berlebih, cinta yang tampak tulus, dan janji perlindungan.
Namun, relasi tersebut berubah menjadi manipulatif dan abusif secara emosional, fisik, dan seksual.
Aurélie terjebak dalam siklus kekerasan dan manipulasi emosional dari usia sangat muda.
Struktur narasi buku ini tidak linear, menyerupai kondisi batin korban trauma dengan ingatan yang terpecah, rasa bersalah, dan ketakutan yang terus menghantui.
Bagian akhir buku bergerak ke proses penyembuhan.
Aurélie memeluk diri sendiri, memaafkan masa lalu, dan akhirnya keluar dari siklus trauma yang selama bertahun-tahun mengungkunginya.
Broken Strings memiliki banyak keunggulan yang membuatnya layak diapresiasi.
Pertama, buku ini merupakan kesaksian jujur penyintas child grooming yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka di Indonesia.
Kedua, buku ini mengangkat isu global ke konteks lokal, dari Belgia ke Indonesia, menunjukkan bahwa grooming adalah masalah universal yang tidak terbatas geografis.
Ketiga, struktur narasi non-linear merepresentasikan secara akurat psikologi korban trauma.
Keempat, proses kreatif buku ini dilakukan secara mandiri penuh oleh Aurélie: ia menulis tanpa editor, mendesain sampul sendiri, dan mengatur tata letak sendiri.
Kelima, tanggal rilis 10 Oktober dipilih secara simbolis karena merupakan tanggal traumatis yang diubah menjadi simbol kemenangan dan pemulihan.
Enam, buku ini berfungsi sebagai klarifikasi publik yang menepis rumor lama seperti isu pernikahan dan anak yang menjadi gosip bertahun-tahun.
Tujuh, Broken Strings adalah bacaan edukatif yang menyediakan bahasa untuk mengenali tanda relasi tidak sehat dan grooming sejak dini.
Delapan, dampak sosial buku ini sangat luas dengan lebih dari 2 juta pembaca dan perbincangan penting di jagad maya Indonesia.
Terakhir, buku ini menghubungkan pengalaman personal dengan kesadaran sosial, bukan hanya kisah pribadi tetapi juga cermin masalah sistemik.
Meskipun memiliki banyak keunggulan, Broken Strings juga memiliki beberapa kekurangan dan tantangan.
Narasi terpecah dan non-linear mungkin sulit dipahami oleh pembaca yang menginginkan cerita linear yang mudah mengikuti.
Buku ini juga tidak memiliki editor karena prosesnya dilakukan secara mandiri sepenuhnya tanpa penyuntingan eksternal.
Selain itu, tema yang sangat berat meliputi child grooming, kekerasan emosional, fisik, dan seksual bisa memicu trauma bagi sebagian pembaca, terutama penyintas serupa yang mungkin masih berjuang dengan luka mereka.
Broken Strings mengandung nilai-nilai penting yang layak dijadikan pelajaran.
Nilai keberanian bertahan hidup sangat menonjol, karena bertahan hidup sebagai korban grooming saja sudah merupakan bentuk heroisme.
Nilai tidak menyalahkan diri sendiri juga sangat penting, dengan kalimat “Oh, ternyata ini bukan salahku” yang sangat politis untuk korban.
Peran dukungan keluarga menjadi faktor krusial dalam proses penyembuhan Aurélie.
Buku ini juga menyoroti bahwa kesehatan mental dan relasi tidak sehat masih merupakan pekerjaan rumah besar masyarakat Indonesia.
Nilai dari luka menjadi cahaya menunjukkan bahwa luka yang dianggap aib bisa menjelma menjadi penerang bagi penyintas grooming lainnya.
Terakhir, buku ini mengangkat kesadaran sistemik tentang kegagalan sistem dalam melindungi anak dari grooming.
Struktur dan gaya penulisan dalam Broken Strings juga patut diapresiasi.
Bab awal berisi ingatan terpecah tentang masa kecil di Belgia, ketegasan ayah, dan awal pertemuan dengan Bobby.
Bab tengah menceritakan relasi yang berubah menjadi manipulatif dengan pola grooming yang bertransformasi menjadi kekerasan.
Bab akhir menggambarkan proses healing, memaafkan diri, mengambil kekuatan, dan keluar dari siklus trauma.
Gaya bahasa yang digunakan reflektif dan intim, seperti Aurélie berbicara dengan diri sendiri.
Perspektif narasi dari sudut pandang pertama membuat pembaca merasakan langsung pengalaman traumatis yang dialami Aurélie.
Secara evaluasi umum, Broken Strings bukan sekadar memoar pribadi.
Namun, cermin kesadaran sosial tentang bahaya child grooming, gaslighting, dan manipulasi emosional yang sering disalahpahami sebagai cinta dan perhatian.
Buku ini membuka luka relasi toksik yang jarang dibicarakan secara terbuka di Indonesia dan memberikan kosa kata untuk korban menyebut apa yang mereka dialami dengan tepat.
Broken Strings berfungsi sebagai teks edukatif nonformal untuk membantu masyarakat mengenali tanda grooming dan relasi tidak sehat sejak dini.
Buku ini juga mengubah luka personal menjadi cahaya bagi penyintas grooming lainnya di Indonesia.
Selain itu, mengangkat pengalaman dari Belgia ke Indonesia untuk menunjukkan bahwa grooming adalah masalah universal.
Keluarga menjadi faktor krusial dalam proses penyembuhan Aurélie.
Buku ini juga menyoroti bahwa kesehatan mental dan relasi tidak sehat masih merupakan pekerjaan rumah besar masyarakat Indonesia.
Nilai dari luka menjadi cahaya menunjukkan bahwa luka yang dianggap aib bisa menjelma menjadi penerang bagi penyintas grooming lainnya.
Terakhir, buku ini mengangkat kesadaran sistemik tentang kegagalan sistem dalam melindungi anak dari grooming.
Struktur dan gaya penulisan dalam Broken Strings juga patut diapresiasi.
Buku ini sangat cocok untuk penyintas relasi toksik dan grooming, orang yang ingin belajar mengenali pola grooming.
Cocok juga bagi pembaca yang tertarik kesehatan mental, orang dewasa yang ingin memahami bahaya child grooming, serta pekerja sosial, psikolog, dan aktivis HAM.
Namun, ada peringatan penting bahwa tema buku sangat berat meliputi child grooming dan kekerasan.
Buku ini bisa memicu trauma bagi sebagian pembaca terutama penyintas serupa, dan disarankan membaca dengan persiapan mental atau didampingi profesional jika perlu.
Judul: Broken Strings
Penulis: Aurélie Moeremans
Tanggal rilis: 10 Oktober 2025
Jumlah halaman: 220 halaman
Format: PDF (dua bahasa: Indonesia & Inggris), versi fisik via pre-order
Genre: Memoar personal / Kisah nyata
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya mahasiswa sebagai bagian dari pemenuhan UAS mata kuliah Penulisan Opini dan Resensi.
Editor: Chrisnina Eka Pramesti | Cr: instagram