YOGYAKARTA – Kawasan kota Yogyakarta sering kali digambarkan sebagai ruang romantis dalam layar lebar.
Namun, dalam film pendek Tilik (2018), jantung kota tampil sebagai simbol yang berbeda, yakni sebuah tujuan penuh harapan sekaligus ruang asing bagi masyarakat rural yang datang membawa segudang prasangka.
Kota sebagai Simbol Modernitas yang “Mencurigakan”
Sepanjang durasi 32 menit, film karya Ravacana Films ini menjadikan perjalanan menuju pusat kota Yogyakarta sebagai penggerak utama narasi.
Kawasan kota diwakili oleh sosok Dian, karakter yang tidak hadir di atas truk, namun menjadi pusat pembicaraan.

Bagi Bu Tejo dan ibu-ibu lainnya, “kota” adalah tempat Dian bekerja yang dianggap mampu mengubah gaya hidup seseorang menjadi lebih mewah, namun penuh rahasia.
Di sini, kota diposisikan sebagai ruang yang menciptakan jarak sosial dan moralitas baru.
Secara sinematografi, perjalanan truk melewati jalanan aspal menuju kawasan perkotaan Yogyakarta memberikan transisi visual yang kuat.
Kita melihat perubahan lanskap dari rimbunnya pepohonan pedesaan menuju hiruk-pikuk lampu jalan dan bangunan beton.
Kawasan kota dalam film ini bukan sekadar latar, melainkan tujuan akhir (Rumah Sakit) di mana semua spekulasi yang dibangun di atas bak truk akan diuji kebenarannya.
Aksesibilitas dan Fasilitas Publik Kota
Dari kacamata jurnalistik sosial, Tilik memotret realitas bahwa fasilitas kesehatan utama masih terpusat di kawasan kota Yogyakarta.
Ketergantungan warga pinggiran terhadap layanan publik di kota memaksa mereka melakukan mobilisasi massal menggunakan kendaraan yang sebenarnya tidak diperuntukkan bagi manusia (truk).
Adegan penilangan oleh polisi di pinggiran kota menjadi kritik halus mengenai bagaimana hukum formal perkotaan bersinggungan dengan kearifan (atau kenekatan) lokal.
Benturan Budaya di Tengah Kota
Saat rombongan tiba di kawasan kota, suasana berubah.
Kerumunan ibu-ibu dengan pakaian mencolok dan suara riuh di koridor rumah sakit menciptakan kontras tajam dengan suasana kota yang cenderung lebih tertib dan individualis.
Di sinilah Tilik berhasil merekam bagaimana kawasan kota Yogyakarta menjadi titik temu (dan benturan) antara nilai-nilai tradisional desa dengan realitas urban yang serba cepat.
Tilik bukan hanya film tentang gosip, melainkan tentang bagaimana manusia memandang “kota” dari kejauhan.
Kawasan kota Yogyakarta dalam film ini adalah sebuah panggung tempat prasangka dipertaruhkan.
Akhir cerita yang mengejutkan di sebuah sudut kota seolah ingin berpesan: apa yang kita lihat di permukaan kota, seringkali menyimpan sisi lain yang tak terduga.
Editor: Carissa Azahra Candraningtyas | Cr: kompas.com, CNN Indonesia