Belakangan ini, lini masa media sosial kita kembali disesaki oleh kabar kelam dari lingkungan pendidikan.
Dugaan kasus pelecehan seksual di perguruan tinggi ternama kembali mencuat dan menjadi perbincangan panas.
Sayangnya, setiap kali kasus serupa viral, selalu ada suara-suara sumbang yang justru menghakimi penyintas.
Pertanyaan seperti, “Kalau memang dilecehkan, kenapa tidak langsung melawan?”
atau
“Kenapa korban malah diam dan terlihat masih berhubungan baik dengan pelakunya?” sering kali muncul di kolom komentar.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut, sadar atau tidak, adalah bentuk victim blaming (menyalahkan korban) yang lahir dari ketidakpahaman kita terhadap psikologi manusia.

Untuk menjawab kebuntuan ini secara ilmiah, kita perlu menengok pemikiran dari seorang tokoh feminis sekaligus peneliti psikologi trauma terkemuka: Dr. Jennifer Freyd.
Sosok di Balik Teori Trauma Pengkhianatan
Dr. Jennifer Freyd bukanlah sekadar akademisi yang berteori dari balik meja.
Ia adalah seorang profesor psikologi yang mendedikasikan hidupnya untuk memahami bagaimana otak manusia merespons kekerasan.
Melalui penelitiannya yang mendalam, Dr. Freyd menelurkan sebuah gagasan yang mengubah cara dunia memandang korban pelecehan: Betrayal Trauma Theory atau Teori Trauma Pengkhianatan.
Kalau kita mengalami kecelakaan lalu lintas atau bencana alam, otak kita merekamnya sebagai trauma rasa takut.
Namun, Dr. Freyd menemukan fakta bahwa trauma akan menjadi jauh lebih kompleks kalau pelakunya adalah orang atau institusi yang seharusnya melindungi korban.
Beberapa contoh seperti guru, dosen, atasan, atau bahkan institusi kampus dan agama itu sendiri.
Dalam lingkup perguruan tinggi, relasi kuasa sangatlah kental.
Dosen atau pihak institusi memegang kendali atas nilai, masa depan akademik, hingga karir mahasiswa.
Ketika sosok pelindung ini justru menjadi pelaku kekerasan, korban tidak hanya mengalami luka fisik dan mental, tetapi juga pengkhianatan yang luar biasa.
“Kebutaan” sebagai Mekanisme Bertahan Hidup
Lalu, mengapa penyintas sering kali diam atau seolah menoleransi pelakunya?
Melalui penelitiannya, Dr. Freyd menjelaskan bahwa hal tersebut bukanlah bentuk persetujuan.
Hal tersebut lebih terlihat sebagai sebuah respons biologis yang disebut blindness (kebutaan terhadap pengkhianatan).
Ketika pelecehan terjadi di dalam sistem yang mengikat korban.
Misalnya, mahasiswa yang masih harus berkuliah dan lulus dari kampus tersebut, otak korban cenderung memblokir atau “membutakan” kesadaran akan pelecehan tersebut.
Ini adalah mekanisme pertahanan diri murni.
Otak melakukan hal ini agar korban tetap bisa bertahan hidup, melanjutkan kuliah, dan berfungsi secara sosial di dalam sistem yang merugikannya tersebut.
Korban secara tidak sadar dipaksa memilih.
Menerima kenyataan bahwa pelindungnya adalah predator (yang berisiko menghancurkan masa depan akademiknya), atau “menutup mata” sementara waktu demi bisa bertahan.
Inilah alasan ilmiah yang sangat kuat mengapa banyak korban baru berani berbicara bertahun-tahun setelah kejadian.
Tepatnya setelah mereka berhasil keluar dari lingkup institusi tersebut.
Simpulan: Membangun Keberanian Institusional
Mengenal sosok Dr. Jennifer Freyd dan teorinya memaksa kita, terutama masyarakat kampus, untuk berkaca.
Menyudutkan penyintas karena mereka diam adalah sebuah cacat logika yang kejam.
Pengetahuan ini seharusnya menyadarkan kita bahwa masalahnya bukan pada korban yang kurang berani, melainkan pada sistem institusi yang belum aman.
Sudah saatnya perguruan tinggi tidak hanya mengejar akreditasi dan deretan prestasi.
Perguruan tinggi perlu juga mempraktikkan apa yang disebut Dr. Freyd sebagai Institutional Courage (Keberanian Institusional).
Kampus harus berani berpihak pada kebenaran, menindak tegas pelaku tanpa pandang bulu, dan menciptakan ruang aman bagi mahasiswa.
Sebab, kalau kampus yang seharusnya menjadi mimbar kebenaran justru menjadi tempat berlindung para predator, lantas ke mana lagi mahasiswa harus mencari keadilan?