TAWA SASTRA – Masa kecil adalah masa yang tak mungkin mudah untuk dilupakan bahkan oleh seorang ibu yang sudah dimakan usia. Namanya Bu Sayem, pemilik warung kelontong di sebuah gang kecil di Papringan dekat Sungai Gajahwong.
Bu Sayem adalah warga asli Papringan tepatnya di Gang Ori 2. Sejak kecil ia sudah hidup berdampingan dengan sungai tersebut. kesan yang sangat dalam terukir berkat peran sungai Gajahwong pada hidup sehari-harinya semasa kecil hingga sungai tersebut tak seramai dulu lagi.

Peran Penting Sungai Gajahwong tahun 1970-1985, Mulai dari Urusan Mulut hingga Urusan Bokong
“Tahun itu, ibuk masih kecil” tutur Bu Sayem sembari tertawa kecil mengingat masa kanak-kanaknya dulu.
Bu Sayem menjelaskan peran sungai tersebut di tahun 1970-1985. Ia mengatakan banyak ayah yang memanfaatkan sungai ini untuk memancing ikan pendamping nasi di piring nantinya. Sedangkan ibu mencuci baju di batu besar sambil mengawasi anaknya yang bermain air.
“Dulukan jarang orang punya kamar mandi, kecuali orang kaya. Nyuci, mandi, bahkan buang air di sana.” pungkas Bu Sayem.
Pada masa itu, untuk menilai seseorang itu kaya atau miskin cukup dengan mengetahui kepemilikan kamar mandi. karena di era itu hampir semua warga bergantung pada sungai kecuali mereka yang mampu mendirikan kamar mandi agar lebih tertutup.
Alasan warga banyak beraktifitas di sungai ini adalah air yang bersih dan jernih meskipun kadang ada kejadian janggal seperti lewatnya kotoran manusia. Kotoran yang dianggap beberapa orang menjijikkan, namun pada era tersebut kebutuhan terhadap air lebih besar dibandingkan rasa jijik tersebut.
“Kalo sekarang kotor “ jawab Bu Sayem tentang kondisi sungai Gajahwong sekarang ini.
Kondisi air di sungai tersebut memang memprihatinkan. Dulunya warga bisa melihat ikan yang lalu lalang, beda dengan kondisi saat ini. Ikan yang lalu lalang telah digantikan oleh sampah yang singgah karena tersangkut atau hanyut oleh arus.
“Belum lama inikan banyak orang buang kotoran yang dari ayam itu loh” tambah Bu Sayem dengan nada yang tak se-bersemangat tadi.
Air di sungai ini memang masih terlihat jernih, hanya saja itu tampaknya. Sungai ini telah terkontaminasi oleh limbah peternakan ayam di ujung sana. Air yang tampak jernih tak lagi nyaman untuk dikonsumsi atau dimanfaatkan untuk mandi.
Sungai ini kini mengeluarkan bau tak sedap bahkan lendir telah berseliweran bercampur dengan air. Kulit yang bersentuhan dengan air pasti akan menimbulkan efek gatal.
Sekarang ini warga memanfaatkan sempadan sungai sebagai tempat pembakaran sampah atau tempat penumpukan sampah. Masa kecil Bu Sayem tak bisa diwariskan lagi pada anak-anaknya, kini kenangan itu telah menjadi cerita tentang masa kecil yang tak mungkin lagi dirasakan oleh generasi penerus.
Sungai Gajahwong bukan lagi tempat yang nyaman untuk anak.

Berburu Biawak di Sungai untuk Konsumsi tetapi Menolak Ular karena Haram
Andrean Muhrozy (13), anak yang masih mencintai sungai rusak warisan orang dewasa. Bocah petualang yang kerap menelusuri sungai untuk mencari binatang penghuni daerah tersebut.
Di tengah maraknya remaja yang lebih dekat dengan media sosial dan handphone (hp), masih ada Andre yang memilih jalan berbeda meskipun ia tak jauh juga dari kebiasaan anak pada umumnya.
“Banyak hewan juga disitu kayak burung blekok, soalnya ada sawah jugakan disana” jawab Andre memperkenalkan penghuni Sungai Gajahwong.
Burung yang hampir menyerupai bangau ini sering kali memenuhi hamparan sungai setelah masa panen berakhir.
Sawah yang berseberangan dengan sungai ini menjadi alasan lain mengapa lingkungan jorok ini masih dipadati hewan.
“Aku pernah nyari biawak di sungai, malah dapat ular” sambung Andre memperkenalkan hewan-hewan penghuni sungai tersebut.
Jiwa petualang anak muda ini tak sirna di era modernisasi saat ini. Ia berani melakukan kegiatan yang bagi orang dewasa itu menakutkan.
“ Mau aku masak, katanya haram” tambahnya lagi.
Andre bercerita hasil tangkapannya kerap ia konsumsi bersama temannya. Bahkan ular yang ia tangkap ingin ia konsumsi hanya saja dagingnya masuk dalam kategori haram. Hal tersebut menjadi alasannya untuk mengurungkan niatnya.
Ia juga bercerita soal tujuannya memburu biawak. Kata Andre, biawak itu ia konsumsi karena dagingnya enak dan menimbulkan efek ketagihan. Akibat rasa yang sempat ia nikmati sebelum ia tahu bahwa daging biawak juga termasuk dalam kategori haram. Berburu biawak untuk dikonsumsi sudah sering ia lakukan.
“Biawak tuh termasuk haram tapi enak” jawab andre tentang keheranan sahabat tawas.
Tim Tawas kali ini termasuk beruntung bertemu Andre. Anak yang jujur dan unik, mendengar kebiasaannya di sungai sangat menarik. Kata Andre, daging biawak itu berkhasiat, makanya boleh dikonsumsi untuk kebutuhan tubuh.

Takut Sungai karena Dalam Seperti Sungai Winongo
Fino (23), anak yang sejak lahir tak mengenal ayahnya. kata dia sungai Winongo menjadi tempat untuk melampiaskan marah dan rindu pada ayahnya. Hal tersebutlah yang menjadikan tempat ini istimewa baginya.
Sepulang sekolah dulu, anak ini langsung menghampiri sungai untuk mencari batang pisang yang nantinya akan digunakan sebagai pengganti kapal ala-ala bajak laut.
Bahkan kadang ia melakukannya dengan keadaan perut yang masih kosong.
Setelah ia merasa puas dengan nuansa bajak lautnya, ia akan pulang mengisi perut lalu mandi dan setelah semua rutinitas membosankan itu Fino akan tidur siang seperti anak-anak pada umumnya hingga ia merasa bosan dan kembali lagi ke sungai tersebut.
“Anak-anak sekarang gak mau lagi ke sungai karena sungainya dalam, lek” pungkas Fino yang mencoba berdialek Medan.
Fino menjelaskan bahwa sungai yang semakin dalam akibat penambangan pasir yang kerap terjadi menjadi alasan anak-anak di era sekarang semakin menepi dari sungai.
Penambangan ini juga mengakibatkan dinding sungai mengalami longsor, sehingga orangtua tak mau lagi anaknya bermain di sekitar sungai akibat serakahnya manusia pengejar kekayaan.
“Anak zaman dulu nekat aja, kalo anak zaman sekarang manja” tambah Fino menjelaskan penyebab anak semakin jauh dari sungai.Mental petualang seperti di era Fino semakin jarang ditemui saat ini.
Perbedaan kondisi mental juga menjadi alasan kenapa sungai bukan lagi tempat untuk anak-anak bermain menghabiskan masa kecil.
Beda Usia Beda Pandangan
Dari sobat Tawas yang berperan sebagai narasumber kali ini, semakin jelas seindah apa masa kecil yang dekat dengan alam seperti sungai. Meskipun kebiasaan bermain di sungai untuk saat ini sudah semakin langka.
Banyak alasan kenapa anak zaman sekarang tak lagi menjadikan sungai sebagai tempat merakit kenangan. Mulai dari persoalan kebersihan, mental, hingga pengaruh modernisasi.
Namun tetap saja masih ada anak-anak yang mau bermain di sungai, alasan di atas tidak menghalangi niatan mereka mengeksplor alam. Pandangan tentang ketidak pantasan anak untuk bermain di sungai saat ini sudah sangat sukar untuk ditentang. Salah satu cara paling tepat untuk menarik minat anak adalah membersihkan dan menjaga ekosistem sungai.
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: Dokumentasi Pribadi