TAWA SASTRA – Setiap kita berpergian jauh apalagi ke tempat wisata, tentu kita akan menemukan tulisan di papan informasi, bukan?
Nah, fungsi papan informasi tersebut bukan sekadar sebagai informasi bantuan untuk penunjuk arah ataupun informasi tentang lokasi wisata tersebut, lho.
Bahasa yang ada di papan informasi tempat wisata merupakan bentuk profesionalisme sekaligus identitas diri dari tempat tersebut.
Hal ini dilakukan agar dapat lebih dikenal oleh wisatawan baik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Penggunaan bahasa pada papan informasi ruang publik merupakan bentuk dari lanskap linguistik.

Pada ranah lanskap linguistik, penggunaan variasi bahasa akan ditemukan.
Variasi bahasa ini digunakan karena biasanya destinasi wisata tidak hanya dikunjungi oleh masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan luar kota bahkan luar negeri.
Jadi, dapat dikatakan bahwa di tempat wisata, lanskap ini menjadi titik temu antara bahasa daerah, bahasa nasional, dan bahasa asing.
Pemilihan bahasa yang tepat di sebuah lokasi wisata merupakan hal penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi wisatawan yang membacanya.
Persoalan yang biasa ditemukan adalah ketepatan dari terjemahan bahasa asing.
Ini terjadi akibat tim pengelola wisata kadang hanya mengandalkan mesin penerjemahan yang kadang tak selalu tepat.
Akibat kesalahan terjemahan, hal ini dapat membuat kesalahpahaman dan kalimat yang tertulis pun menjadi kurang tepat, ambigu, bahkan salah total.
Kesalahan gramatikal mungkin terlihat sepele bagi beberapa orang.
Namun, bagi wisatawan, terutama wisatawan yang mungkin kritis, kesalahan ini akan merusak citra destinasi wisata tersebut.
Papan informasi yang diterjemahkan secara asal-asalan akan menunjukkan sisi tidak profesional pengelola wisata dalam memberikan informasi terhadap wisatawan.
Apalagi jika terjemahan informasi tersebut mengenai sejarah lokasi atau bahkan tentang peringatan.
Hal tersebut akan memungkinkan wisatawan berpikir bahwa pengelola wisata sangat sembrono dan tidak bertanggungjawab terhadap informasi yang diberikan.
Jadi, ketepatan diksi dan terjemahannya merupakan hal yang penting karena itu merupakan bentuk profesionalitas pemilik dan pengelola wisata.
Lanskap linguistik yang baik mampu menciptakan perasaan nyaman dan informatif bagi semua orang.
Adanya bahasa yang variatif merupakan standar minimal kesiapan suatu destinasi wisata menyambut tamunya.
Namun, perlu diperhatikan bahawa sekalipun penggunaan bahasa asing memiliki kesan global.
Penggunaan bahasa lokal juga penting untuk mengenalkan bahasa serta budaya asal destinasi tersebut.
Jika suatu tempat wisata menggunakan bahasa lokal atau daerah sebagai salah satu variasi bahasanya, maka akan menambah hal baru bagi wisatawan yang berasal dari luar kota maupun luar negeri.
Jadi, wisatawan tidak hanya pulang membawa foto ataupun oleh-oleh, tetapi juga membawa pemahaman baru mengenai bahasa.
Wujudkan Tata Bahasa yang Lebih Baik Dalam Dunia Wisata
Wajah bahasa di tempat wisata perlu selalu diperhatikan dan diperbaiki demi citra profesional.
Selain itu, informasi akan tersampaikan dengan lebih jelas.
Perbaikan tersebut perlu dilakukan dengan adanya kolaborasi.
Kini, pengelola wisata perlu mempertimbangkan untuk melibatkan ahli bahasa atau editor.
Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap bahasa yang akan tertulis untuk publik adalah penulisan yang tepat dan tidak ada kesalahan terjemahan.
Bahasa dalam lanskap linguistik adalah sarana kita untuk menyapa dan memberikan informasi kepada wisatawan yang hadir.
Jika kita mampu mengelola bahasa dengan apik dan tertata, maka pendatang akan lebih memperhatikan informasi yang diberikan.
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: pinterest