Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026 jadi topik panas dari ruang kelas sampai media sosial.
Konsepnya simpel tapi menggoda, anak sekolah dapat makanan bergizi gratis tiap hari.
Kedengarannya seperti solusi instan untuk dua masalah sekaligus, yaitu gizi anak dan kualitas pendidikan.
Dengan anggaran sedemikian rupa, masyarakat menaruh harapan penuh pada program pemerintah kali ini.
MBG menunjukkan performa yang cukup meyakinkan dalam satu pelaksanaannya.
Sekitar 4,5 miliar porsi makanan sudah didistribusikan ke siswa di berbagai daerah.
Angka yang bukan cuma besar tapi juga menunjukkan bahwa program ini benar-benar berjalan.
Dampaknya pun mulai terasa karena banyak siswa jadi lebih fokus saat belajar, tidak mudah lemas, dan lebih aktif di kelas.
Logikanya sederhana, perut kenyang membuat otak lebih nyala.
Guru juga diuntungkan, mengajar menjadi lebih kondusif karena muridnya tidak sibuk menahan lapar.
MBG sering disebut sebagai “investasi jangka panjang”.
Program ini dikaitkan dengan ambisi besar menuju Indonesia Emas 2045 sebuah visi di mana generasi muda Indonesia diharapkan jadi lebih sehat, cerdas, dan kompetitif secara global.
Singkatnya, jika hari ini gizinya terjamin, besok kualitas SDM bisa ikut terangkat.
Namun, seperti kebanyakan program besar, selalu ada sisi lain yang tidak kalah penting untuk dibahas.
Pertama, dari sisi anggaran pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 335 triliun untuk MBG di tahun 2026 dengan target sekitar 82 juta penerima.

Besar harapan, besar tantangan
Bahkan dalam tiga bulan pertama dana yang terserap diperkirakan mencapai Rp60 triliun.
Angka ini menjadi salah satu program sosial paling mahal dalam sejarah anggaran negara.
Apakah manfaatnya sebanding dengan biayanya? Anggaran sebesar ini jelas bukan main-main.
Artinya, pengelolaan harus super transparan, sedikit saja celah dalam pengawasan risikonya bisa besar.
Mulai dari pemborosan, distribusi yang tidak merata, sampai potensi penyimpangan dana.
Kedua, mendistribusikan makanan ke jutaan siswa di seluruh Indonesia bukan seperti pesan makanan online.
Namun, soal rantai logistik yang panjang dari pengadaan bahan, proses memasak, distribusi, hingga makanan sampai ke tangan siswa dalam kondisi layak.
Jika salah satu saja bermasalah, efeknya bisa langsung terasa.
Misalnya, kualitas makanan yang menurun, keterlambatan distribusi, atau bahkan risiko keracunan makanan jika standar kebersihan tidak dijaga dengan ketat.
Di sisi lain, masyarakat juga punya peran penting dalam mewujudkan gizi seimbang tidak bisa hanya dibebankan ke program pemerintah.
Keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar tetap jadi faktor utama dalam membentuk pola makan anak.
Pada akhirnya keberhasilan program ini tidak bisa diukur hanya dari angka fantastis di laporan anggaran atau jumlah porsi yang dibagikan.
Lebih penting adalah dampak nyata Apakah anak-anak benar lebih sehat?
Apakah prestasi belajar mereka meningkat?
Apakah kesenjangan gizi bisa berkurang?
Kalau jawabannya iya, maka Rp 335 triliun bisa dilihat sebagai investasi besar.
Tapi jika tidak, angka itu justru akan terasa seperti beban yang berat.
Jadi, program ini bukan sekadar soal makan gratis, tetapi soal bagaimana negara mengelola masa depan dengan strategi matang atau sekadar program besar yang terlihat keren.
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya mahasiswa sebagai bagian dari pemenuhan UTS mata kuliah Penulisan Opini dan Resensi.
Editor: Elisabeth Zelda Indarwan | Cr: Universitas Gadjah Mada