TAWA SASTRA – Kita tahu bahwa sekarang banyak orang-orang yang menjadi influencer.
Berbagai macam influencer kini telah menjamur, termasuk influencer lingkungan.
Influencer lingkungan tentu menyampaikan dan mengajak kita untuk mencintai serta menjaga lingkungan.
Mereka menyampaikan hal tersebut dengan berbagai cara.
Namun, tak hanya influencer spesialis lingkungan saja yang rajin memberi pencerahan, tetapi influencer-influencer lainnya juga mulai menunjukkan lifestyle yang “eco-friendly”.
Hampir pasti ada satu atau dua influencer yang mengunggah foto segelas kopi susu dengan takarannya yang diganti oat milk, membawa tumblr, dan tidak lupa tas belanja bahan kanvas (tote bag) berlogo estetik, lengkap dengan sedotan berbahan bambu atau stainless steel.
Belakangan ini, kamus anak muda urban memang kedatangan sekumpulan kosakata baru yang terdengar sangat “eco-friendly”
Kita mendadak akrab dengan istilah thrifting (membeli baju bekas), reusable tumblr, minimalism, hingga plant-based diet.
Peduli lingkungan, entah bagaimana caranya, kini telah bergeser dari citra aktivis lapangan yang berpeluh keringat menjadi sebuah tren lifestyle.

Lifestyle yang sangat trendi, necis, dan tentu saja wajib Instagramable.
Namun, di balik pergeseran bahasa dan gaya hidup ini, ada satu pertanyaan menggelitik yang layak kita diskusikan.
Apakah perubahan kosakata ini murni lahir dari kesadaran iklim, atau jangan-jangan cuma eufemisme agar kita kelihatan keren dan eksis?
Jangan Sampai Eco-Friendly Cuma Jadi Kedok Konsumtif Gaya Baru!
Dalam kebahasaan, kata-kata yang kita pilih sering kali mencerminkan status sosial. Istilah thrifting, misalnya.
Dulu, aktivitas membeli baju bekas di pasar loak sering disebut dengan istilah yang digunakan terdengar ndeso, seperti awul-awul (owol-owol).
Kesannya kumal dan terkesan seperti sedang dalam fase keterbatasan finansial.
Begitu istilahnya diganti menjadi thrifting, maknanya langsung melompat kelas.
Thrifting menjadi sebuah subkultur yang keren, bagian dari gerakan melawan fast fashion, dan sarana berburu baju vintage yang bernilai seni tinggi.
Harganya? Malah bisa berkali-kali lipat lebih mahal dari harga aslinya di pasar loak konvensional.
Namun, tenang saja, kini sudah banyak influencer yang sering merekomendasikan tempat thrifting dengan harga miring, kualitas josjis.
Fenomena ini menunjukkan betapa ajaibnya sebuah kata. Bahasa punya kekuatan untuk mengubah sesuatu yang biasa menjadi hal atau aktivitas yang high-class.
Celakanya, tren kebahasaan ini sering kali menjadi seperti pisau bermata dua karena sudah memakai istilah eco-friendly.
Membeli tote bag kain setiap kali belanja dan mengoleksi belasan tumblr lucu di kamar, kita merasa sudah sah menjadi pahlawan penyelamat bumi.
Padahal, esensi dari menjaga lingkungan justru adalah mengurangi konsumsi.
Kalau kita membeli sepuluh tote bag berbeda warna hanya demi mencocokkan dengan warna baju harian kita, bukankah itu namanya tetap konsumtif?
Tote bag itu akhirnya cuma jadi tumpukan sampah baru dengan label yang lebih trendi.
Dari Tren Kata Menuju Aksi Nyata
Tentu tren bahasa yang terdengar gaul ini perlu menjadi aksi yang sebenarnya penting untuk diteruskan.
Thrifting, reusable, dan sejenisnya.
Kegiatan dengan istilah yang high-class ini diharapkan dapat menjadi sebuah kesadaran yang tidak sekadar mengikuti tren dan ketika trennya berhenti, kita sudah tidak melakukannya lagi.
Tren eco-lifestyle ini baik, asal kita juga tahu bagaimana baiknya.
Kalau kita mau ikut menjaga lingkungan dengan mengganti barang yang bisa dipakai ulang seperti botol minum (tumblr), tote bag, dan baju hasil thrifting boleh saja, itu malah baik.
Namun, kalau kita malah jadi mengoleksi hal tersebut, ya jadinya sama saja tetap nyampah.
Bijaklah dalam membeli dan menggunakan.
Penting juga untuk kita jeli melihat influencer yang mulai menerapkan eco-lifestyle.
Mereka benar-benar menjaga lingkungan atau sekadar mengikuti tren dengan menjadi pengoleksi??
Tidak semua influencer layak untuk diikuti.
Cermat dan kritislah ketika kamu mau mengikuti langkah seseorang.
Editor: Carissa Azahra Candraningtyas | Cr: agendakota, zonaebt