Siang itu, selepas kelas pagi, saya menepi ke sebuah kedai kopi langganan yang letaknya agak di sebelah timur Alun-alun, persis di luar Benteng Keraton.
Ditemani segelas Ice Black yang mulai berembun dan kepulan asap rokok, saya sibuk menggumam sendiri—menghafalkan dialog naskah tablo jalan salib.
Di tengah usapan peluh dan rasa mumet memikirkan tenggat waktu tugas jurnalistik yang kian mepet, seorang barista kenalan saya ikut duduk nimbrung.
Dari obrolan ringan yang mengalir di sela-sela denting gelas, kami sampai pada sebuah perbincangan yang cukup menampar.
Selama ini, ada satu nasihat karier yang paling sering diagung-agungkan oleh banyak motivator di luar sana:
“Lakukan apa yang kamu cintai, jadikan hobimu sebagai pekerjaan, maka kamu tidak akan merasa seperti bekerja sehari pun dalam hidupmu.”
Sekilas, kutipan itu terdengar seperti kunci menuju kebahagiaan hakiki.
Namun, curhatan sang barista justru membongkar ilusi manis tersebut. Ia bercerita bahwa awalnya Ia terjun ke dunia kopi murni karena cinta.
Meracik kopi adalah ruang pelariannya dari penat; sebuah hobi yang mendamaikan. Namun, setelah hobi itu menjelma menjadi pekerjaan penuh waktu, rasanya ada yang hilang.
Ketika rutinitas menyeduh kopi sudah dikonversi menjadi lembaran rupiah, kesenangannya perlahan terkikis oleh target omzet harian, sisa stok biji kopi, hingga komplain dari pelanggan yang cerewet.
Ketika Pelarian Menjadi Tuntutan
Pada hakikatnya, hobi diciptakan sebagai katup pelepas stres. Hobi adalah satu-satunya ruang di mana kita bisa menjadi manusia seutuhnya tanpa perlu memikirkan Key Performance Indicator (KPI) atau deadline.
Kita melakukannya murni karena kita ingin, bukan karena kita harus. Namun, kalau hobi itu kita jadikan sumber penghasilan utama, secara otomatis hukum industri akan mengambil alih.
Kita bisa melihat contoh ini pada ranah lain, seperti penulis puisi atau anak band independen.
Di awal mula, menulis bait-bait lirik atau memainkan distorsi gitar murni dilakukan untuk kepuasan batin dan sarana katarsis.
Tapi begitu karya mereka masuk ke industri dan menjadi ladang uang, fokusnya mau tidak mau akan bergeser.
Tiba-tiba ada target pasar yang harus dipenuhi dan algoritma media sosial yang harus diikuti agar karyanya tetap relevan dan laku dijual.
Tidak salah, memang begitulah realitas cara kerja industri, tapi itu adalah harga mahal yang harus dibayar ketika sebuah hobi diuangkan: ia kehilangan kemurniannya dan berubah menjadi tekanan baru.
Pentingnya Memiliki Hobi yang “Tidak Berguna”

Masalah terbesar dari mengubah hobi menjadi pekerjaan adalah hilangnya tempat persinggahan.
Kalau aktivitas yang biasanya kita pakai untuk healing ternyata berubah menjadi sumber stres baru, lalu ke mana lagi kita harus lari saat pikiran sedang mumet? Di sinilah letak kearifan lokal dari obrolan meja bar tadi.
Sang barista memberikan konklusi yang sangat masuk akal: kalau hobi pertamamu sudah telanjur menjadi pekerjaan, maka kamu wajib mencari hobi baru yang benar-benar lain.
Kita semua butuh setidaknya satu hobi yang “tidak berguna” secara finansial.
Entah itu sekadar menyusun formasi klub sepak bola di game eFootball setiap akhir pekan, mendengarkan musik rock, atau bermain saksofon sendirian di kamar.
Sesuatu yang murni kita lakukan untuk membunuh waktu tanpa embel-embel produktivitas atau keharusan untuk menghasilkan uang.
Simpulan: Biarkan Hobi Tetap Menjadi Hobi
Di era yang terobsesi dengan produktivitas hustle culture ini, menolak untuk menguangkan bakat dan hobi sering kali dianggap sebagai sebuah kerugian atau ketertinggalan.
Padahal, menjaga satu hal yang kita cintai agar tetap bersih dari urusan uang adalah bentuk perlawanan yang paling masuk akal untuk menjaga kewarasan pikiran.
Jadi, kalau kamu punya hobi yang sangat kamu nikmati hari ini, lindungilah.
Tidak semua hal di dunia ini harus menghasilkan uang dan dikapitalisasi. Terkadang, membiarkan hobi tetap menjadi hobi yang menyenangkan adalah investasi paling berharga untuk kesehatan mental kita sendiri.
Editor: Chrisnina Eka Pramesti | Cr: Dokumen Pribadi