TAWA SASTRA – Aktivitas pendakian gunung di Indonesia semakin diminati dalam beberapa tahun terakhir.
Lonjakan jumlah pendaki di berbagai kawasan pegunungan pun tak terelakkan, meski di sisi lain sistem pengelolaan dinilai belum sepenuhnya siap mengimbanginya.
Bagi banyak orang, mendaki kini bukan sekadar mencapai puncak.
Aktivitas ini menjadi salah satu cara menikmati alam sekaligus menguji ketahanan fisik dan mental di ruang terbuka.
Di sejumlah daerah, tren ini terlihat semakin kuat.
Sebagai contoh, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, menjadi salah satu titik favorit dengan keberadaan Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau.
Di kalangan anak muda, mendaki bahkan mulai menjadi bagian dari gaya hidup, bukan lagi sekadar kegiatan rekreasi sesaat.
Jumlah pendaki sempat menurun selama pandemi pada 2020 hingga 2021.
Namun, sejak 2022 angkanya kembali naik dan pada 2023 disebut hampir menyamai kondisi sebelum pandemi.
Ketua Umum Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Rahman Mukhlis, memperkirakan tren ini belum akan melambat.
Ia menyebut jumlah peminat berpotensi meningkat hingga tiga kali lipat.
Menurutnya, pendakian kini juga menjadi ruang untuk berekspresi dan membangun relasi sosial.
Sebagian besar pendaki berasal dari kelompok usia 17 hingga 25 tahun.
Kelompok ini dikenal aktif di media sosial, sehingga pengalaman mendaki kerap didokumentasikan dan dibagikan secara luas.
Lonjakan Pendaki Picu Kepadatan di Jalur Populer

Dampak peningkatan ini terlihat jelas di sejumlah gunung favorit seperti Papandayan, Prau, Rinjani, dan Semeru.
Sepanjang 2025, sekitar 1,1 juta pendaki tercatat memasuki kawasan yang dikelola taman nasional dan taman wisata alam.
Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah.
Di Gunung Rinjani, misalnya, jumlah pendaki mencapai 72.528 orang hingga Oktober 2025 melalui jalur resmi.
Kawasan wisata di sekitarnya juga mencatat puluhan ribu kunjungan.
Kondisi padat juga terjadi di Gunung Lawu pada Sabtu, 28 Maret 2026, dini hari.
Antrean panjang terlihat di jalur Cemoro Sewu sejak pukul 00.51 WIB.
Ribuan pendaki memadati titik awal pendakian, sementara jalur Cemoro Kandang relatif lebih lengang.
Pendaki umumnya datang dalam kelompok dengan perlengkapan standar.
Namun, suasana yang dulu cenderung sunyi kini berubah menjadi lebih ramai, dengan aktivitas dokumentasi perjalanan.
Sejumlah pengamat menilai peningkatan jumlah pendaki belum diikuti pembenahan pengelolaan.
Promosi wisata masih banyak menonjolkan keindahan visual, tanpa diimbangi edukasi mengenai keselamatan dan kelestarian lingkungan.
Kepadatan, terutama saat akhir pekan dan hari libur, dinilai berisiko bagi keselamatan pendaki sekaligus memberi tekanan pada ekosistem pegunungan.
Karena itu, pengaturan kuota serta penerapan prosedur keselamatan dinilai perlu diperkuat.
Di satu sisi, meningkatnya minat pendakian mencerminkan tumbuhnya gaya hidup aktif di kalangan masyarakat.
Namun, di sisi lain, kondisi ini menuntut kesiapan pengelolaan agar aktivitas tersebut tetap aman dan berkelanjutan.
Sumber:
Tren Mendaki Gunung sebagai Gaya Hidup Mahasiswa Gen Z Universitas Negeri Makassar (2025) oleh Rezkia Yusuf, Hasnawi Haris dan Andi Octamaya Tenri Awaru
STUDI FENOMENOLOGI PERSONAL BRANDING PENDAKI GEN-Z DI MEDIA SOSIAL (2024) oleh Naufal Sallahudin Adani
dan Vinda Maya Setianingrum.
AnalisaRepublik Id oleh Supardi
Editor: Elisabeth Zelda Indrawan | Cr: Foto Pribadi