Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak. Novel ini tidak sekadar membahas makanan, tetapi juga menyimpan kritik sosial tentang korupsi di bidang kesehatan yang dibalut dalam cerita perjalanan tokohnya.
Karya ini bukan sekadar cerita fiksi yang menjadikan makanan sebagai latar pelengkap, melainkan menjadikan kuliner sebagai inti cerita dan cara untuk melihat kenyataan sosial di masyarakat kita.

Novel ini bercerita tentang Aruna, seorang pakar wabah penyakit (Epidemiologist) berusia 35 tahun yang sangat menyukai makanan.
Ia ditugaskan oleh kantornya untuk menyelidiki dugaan wabah flu burung di beberapa daerah di Indonesia.
Aruna tidak berangkat sendiri. Perjalanan dinas ini berubah menjadi wisata kuliner karena ia disusul oleh dua sahabatnya yaitu Bono, seorang koki profesional yang sedang mencari resep asli daerah, dan Nadezdha, seorang pengamat kuliner yang cerdas dan ambisius.
Keadaan semakin seru dengan hadirnya Farish, rekan kerja Aruna yang kaku sekaligus pria yang pernah ia sukai di masa lalu.
Laksmi Pamuntjak, sangat pandai menggabungkan dua hal yang berbeda yaitu kelezatan makanan Nusantara dan investigasi wabah penyakit yang berbahaya.
Di satu sisi, pembaca diajak menikmati cerita lewat gambaran makanan yang sangat jelas dan menggugah selera. Mulai dari rujak soto di Banyuwangi, Pengkang, Pontianak, hingga aneka hidangan laut di Singkawang.
Namun di sisi lain, ketakutan akan penyakit flu burung dan masalah birokrasi pemerintah daerah terus mengikuti perjalanan mereka.
Makanan sebagai Budaya dan Tempat Diskusi
Membaca novel Aruna dan Lidahnya menyadarkan kita bahwa membicarakan makanan berarti membicarakan kebudayaan.
Setiap hidangan yang dicicipi oleh keempat tokoh ini membawa cerita tentang sejarah lokal dan kebiasaan masyarakat setempat.
Penulis tidak hanya menjelaskan bagaimana rasa, tetapi juga bagaimana makanan tersebut dibuat dan dinikmati.
Meja makan dalam novel ini berfungsi sebagai tempat pertukaran pikiran.
Di saat sedang makan, perbedaan sifat keempat tokoh ini sering kali berbenturan. Bono yang berpikiran terbuka sering berdebat dengan Farish yang kaku dan selalu mengutamakan logika. Sementara itu, Aruna menjadikan makanan sebagai tempat pelarian untuk menenangkan perasaannya yang sedang bingung.
Di sinilah letak kehebatan penulis, menggunakan pilihan makanan untuk menunjukkan karakter asli para tokoh.
Kenyataan Pahit di Balik Cerita
Novel ini tidak hanya berisi cerita yang menyenangkan. Sama seperti masakan yang butuh rasa pahit dan asam agar seimbang, cerita ini juga membahas masalah yang lebih serius.
Di tengah asyiknya berwisata kuliner, Aruna mulai menemukan keanehan pada data kasus flu burung di lapangan.
Fakta-fakta yang ia temukan membawanya pada kasus korupsi dan kebohongan pejabat daerah.
Di bagian ini, Laksmi menggabungkan gaya penulisan berita investigasi dengan cerita fiksi. Masalah korupsi dana kesehatan dan kebijakan publik dikritik secara tajam, tetapi tetap menyatu dengan alur cerita.
Pembaca diperlihatkan sebuah kenyataan yang menyedihkan di negara yang kaya akan makanan lezat, masih ada oknum pejabat yang diam-diam mengambil hak rakyatnya sendiri untuk memperkaya diri.
Buku ini berisi kisah persahabatan, cerita cinta yang canggung tapi masuk akal, catatan kuliner, sekaligus kisah investigasi yang membuat penasaran.
Di zaman yang serba instan ini, di mana ulasan makanan sering kali hanya berupa video di media sosial, novel ini mengingatkan kita kembali pada makna mendalam dari kegiatan makan.
Laksmi Pamuntjak menyajikan cerita yang akan membuat pembacanya merasa lapar bukan hanya karena makanan, tetapi juga lapar akan kisah-kisah kehidupan di balik kekayaan budaya Indonesia.
Data Buku
Judul: Aruna dan Lidahnya
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014 (Cetakan Pertama)
Jumlah Halaman: 426 halaman
ISBN: 9786020308524
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: Pinterest