TAWA SASTRA – Di era digital yang semakin maju, perlombaan untuk menciptakan feed Instagram yang menarik, estetik, dan tampak sempurna semakin marak.
Bahkan, perlombaan siapa yang menarik videonya untuk di endorse pun semakin banyak. Tidak hanya instagram, media sosial lain seperti Tiktok, X, dan Threads pun juga demikian.
Di balik fenomena tersebut, tumbuh ekonomi perhatian (attention economy) yang memanen kecemasan pengguna.
Fear of Missing Out (FOMO) bukan lagi sekadar fenomena individu.
Hal ini telah berubah menjadi tren konsumerisme yang mendorong orang-orang membeli pengalaman, barang, dan citra.
Semua itu dilakukan demi memperoleh validasi di ruang digital.
Akibatnya, ukuran kebahagiaan bergeser dari kepuasan batin menjadi tanda sosial yang mudah terukur.
Validasi tersebut sering kali diukur melalui jumlah like, followers, subscribers, dan komentar yang diperoleh seseorang di media sosial.
Saat ini, platform digital beserta algoritmanya memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan sehari-hari.
Mereka menayangkan konten yang memicu keterlibatan dan algoritma yang menimbulkan rasa ingin tahu, iri, dan urgensi.
Begitu banyak influencer dan iklan native yang memperkuat siklus ini dengan menyajikan gaya hidup yang tampak mudah dicapai.
Padahal, di balik layar, banyak konten diproduksi secara profesional, didukung biaya besar, disunting secara intensif, dan dikemas dengan efek visual yang menarik.
Hasil dari itu semua adalah standar hidup ideal yang tak lagi realistis dan kebutuhan konsumtif kian terus bertambah dan diperbarui.
Secara ekonomi, dorongan membeli demi citra menciptakan pola impulsif, terutama pada generasi muda.
Secara sosial pun demikian, di mana adanya penekanan pada penampilan luar mengikis solidaritas dan memperkuat branding yang merusak harga diri.
FOMO yang tidak pernah hilang atau punah dari era digital saat ini juga memperkuat masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan insomnia atau gangguan tidur.
Media digital memiliki peran ganda, salah satunya mengungkap praktik industri yang merugikan publik dan menawarkan ruang untuk wacana konstruktif.
Kebebasan memilih tidak cukup apabila pilihan itu dimanipulasi oleh desain platform dan logika pasar.
Mengurangi dampak FOMO dan mengembalikan makna kebahagiaan memerlukan tindakan yang kolektif.
Sebisa mungkin hidup dengan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan, literasi yang memperkuat daya kritis, dan budaya yang menghasilkan prestasi.
Dengan demikian, kita dapat menemukan kembali kebahagiaan yang nyata, bukan sekadar kebahagiaan semu yang ditampilkan di permukaan.
Editor: Elisabeth Zelda Indarwan | Cr: GentaFKIP-Universitas Jambi