Identitas Film
Judul: Pesugihan Sate Gagak
Genre: Komedi Horor
Penulisan Skenario: Nugroho Agung
Produksi: Cahaya Pictures dan BASE Entertainment
Durasi: 105 menit Tahun Rilis: 2025
Pemeran: Ardit Erwandha, Yono Bakrie, Benedictus Siregar, Yoriko Angeline, Nunung, Arief Didu, Arif Alfiansyah, Ence Bagus, Firza, Valaza
Sinopsis
Anto yang diperankan oleh Ardit Erwandha adalah seorang pegawai warteg yang hidup pas-pasan dan terdesak oleh tuntutan menikahi pacarnya Andini (Yoriko Angeline) dalam waktu sebulan dengan mahar 150 juta rupiah.
Bersama dua sahabatnya, yaitu Dimas yang diperankan oleh Yono Bakrie merupakan seorang konten kreator horor belum sukses dan Indra yang diperankan oleh Benedictus Siregar diam-diam terlilit hutang pinjol, mereka melakukan berbagai cara untuk mencari uang tetapi selalu gagal.
Akhirnya mereka menemukan jalan pintas, yaitu melakukan ritual sate gagak dari buku kuno milik kakek Indra.
Konon, makhluk halus bisa membeli dan membayar mahal untuk sate dari burung gagak. Karena mereka terdesak dan penasaran, mereka pun mulai mencobanya.
Awalnya mereka hanya melakukan itu di malam Jumat. Tetapi berubah menjadi ladang uang ketika makhluk gaib seperti genderuwo, kuntilanak, tuyul, pocong, hingga suster ngesot mulai berdatangan dan menyantap sate mereka.
Semakin enak bumbunya maka semakin tinggi pula harga yang mereka terapkan.
Kehidupan mereka pun berubah, yang punya hutang dibayar, hidup jadi mewah, dan ada juga yang kembali percaya diri untuk melamar pacarnya. Di tengah kepungan para pelanggan, mereka pun kehilangan arah.
Ketiganya harus menghadapi kenyataan bahwa jalan pintas menuju kekayaan selalu datang dengan harga yang jauh lebih mahal daripada kerja keras sendiri.
Pada suatu hari, Andini (istri dari Anto) mengalami teror dari makhluk gaib alias pelanggan suaminya. Anto yang mengetahui hal tersebut langsung memutuskan untuk tidak ikut ritual pesugihan sate gagak lagi.
Sedangkan Dimas dan Indra masih melanjutkan ritualnya. Alih-alih menambah kekayaan mereka berdua, justru semakin menambah kekacauan. Akhirnya mereka bertiga mulai sadar kalau cara yang mereka pakai itu salah dan meninggalkannya.
Isi Resensi

Film Pesugihan Sate Gagak hadir sebagai salah satu film komedi horor Indonesia yang mencoba menawarkan konsep berbeda dari kebanyakan film horor lokal.
Jika sebagian besar film horor Indonesia berfokus pada unsur ketakutan dan teror yang serius, film ini justru menggabungkan elemen mistis dengan humor yang absurd.
Tema pesugihan yang biasanya identik dengan suasana mencekam, diolah menjadi cerita yang menghibur tanpa menghilangkan unsur horornya.
Kekuatan utama film ini terletak pada premis ceritanya yang unik. Ide menjual sate gagak kepada makhluk halus demi memperoleh kekayaan merupakan gagasan yang tidak biasa dan cukup segar dalam perfilman Indonesia.
Konsep tersebut berhasil menarik perhatian penonton sejak awal karena memadukan budaya mistis Jawa dengan komedi keseharian masyarakat.
Penampilan para pemain menjadi nilai tambah yang signifikan. Ardit Erwandha mampu memerankan sosok Anto sebagai orang biasa yang terhimpit masalah ekonomi dengan cukup meyakinkan.
Sementara itu, Yono Bakrie dan Benidictus Siregar menghadirkan banyak momen humor yang membuat suasana film terasa ringan. Kehadiran para komika dalam film ini terbukti efektif dalam membangun kelucuan yang alami dan tidak berlebihan.
Dari sisi penyutradaraan, film ini mampu menjaga keseimbangan antara komedi dan horor.
Beberapa adegan menghadirkan ketegangan ketika makhluk-makhluk gaib mulai menagih lebih banyak sate, tetapi ketegangan tersebut segera diimbangi dengan dialog-dialog lucu yang mengundang tawa.
Perpaduan tersebut membuat film mudah dinikmati oleh berbagai kalangan penonton.
Selain menghadirkan hiburan, Pesugihan Sate Gagak juga menyampaikan kritik sosial mengenai keinginan manusia untuk memperoleh kekayaan secara instan.
Anto dan kedua sahabatnya menjadi gambaran masyarakat yang terdesak oleh masalah ekonomi sehingga tergoda mencari jalan pintas.
Melalui konflik yang mereka alami, film ini mengingatkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan tidak ada keberhasilan yang diperoleh tanpa usaha.
Dari segi visual, film ini cukup berhasil menciptakan atmosfer mistis melalui penggunaan lokasi, pencahayaan, dan tata artistik yang mendukung suasana cerita.
Efek visual yang digunakan memang tidak terlalu spektakuler, tetapi sudah cukup untuk menunjang kebutuhan naratif film.
Kelebihan Film
– Premis cerita unik dan jarang ditemukan dalam film Indonesia.
– Perpaduan komedi dan horor berjalan cukup seimbang.
– Dialog-dialog terasa ringan dan menghibur.
– Mengangkat unsur budaya dan mitos lokal Indonesia.
– Menyisipkan pesan moral mengenai bahaya mencari jalan pintas menuju kekayaan.
Kekurangan Film
– Alur cerita pada beberapa bagian mudah diprediksi.
– Unsur horor tidak terlalu kuat bagi penggemar horor murni.
– Pengembangan beberapa karakter pendukung masih terbatas.
– Beberapa adegan komedi terasa lebih dominan dibandingkan konflik utama.
Penilaian dan Sasaran Penonton
Film Pesugihan Sate Gagak sangat cocok untuk penonton yang menyukai genre komedi horor seperti penggemar film-film yang menggabungkan unsur mistis dengan humor ringan.
Penonton remaja hingga dewasa dapat menikmati film ini karena ceritanya mudah dipahami dan tidak terlalu berat.
Bagi penikmat horor yang mengharapkan suasana mencekam sepanjang film, Pesugihan Sate Gagak mungkin terasa kurang menyeramkan.
Namun, bagi penonton yang mencari hiburan santai dengan kombinasi tawa, kritik sosial, dan sentuhan budaya lokal, film ini merupakan pilihan yang menarik.
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya mahasiswa sebagai bagian dari pemenuhan UAS mata kuliah Penulisan Opini dan Resensi
Editor: Ananda Cheterina Usada | Artistik: Vivian Rumada Siregar | Cr: Letterboxd, YouTube