Kalau dipikir-pikir, media sosial (medsos) sekarang rasanya seperti etalase. Sebagian orang menampilkan versi terbaik dari hidupnya, kayak liburan ke tempat mahal, barang-barang branded, pencapaian yang dipandang “wah”. Sekilas mengagumkan, tapi kalau dilihat terus-menerus pasti melelahkan juga.
Tanpa sadar, kita jadi ikut membandingkan diri. Hidup orang lain dianggap lebih beruntung, tertata, dan sukses, sementara kita merasa hal itu sebagai sesuatu yang biasa saja.
Menariknya, belakangan mulai terasa ada perubahan arah. Tidak semua orang tertarik untuk ikut pamer. Justru makin banyak yang memilih hidup lebih tenang, tanpa harus menunjukkan semuanya ke publik.

Istilah seperti quiet life mulai sering muncul, hidup yang sederhana dan tidak banyak diberi sorotan, tapi terasa cukup.
Di beberapa platform, mulai banyak konten yang menyinggung flexing. Beberapa content creator membahas konten di medsos yang harus selalu terlihat berhasil, ada juga yang mengkritik, bahkan membuat standar usia 20-an yang terasa terlalu tinggi dan tidak realistis untuk diwujudkan.
Dipikir-pikir, ini merupakan kesadaran baru: tidak semua yang kita lihat itu benar-benar nyata! Karena memang, yang sering ditampilkan hanyalah bagian terbaik dari kita Kadang hal itu bukan sepenuhnya realita, melainkan citra yang sengaja dibentuk alias personal branding.
Kalau terus-menerus melihat hal seperti itu, dampaknya bisa ke mana-mana. Rasa iri, tidak percaya diri, sampai kita merasa underpressure untuk menyamakan diri dengan mereka dan mengejar sesuatu yang sebenarnya belum kita butuhkan.
Tapi, muncul rasa iri itu tergantung cara pandang kita.
Di sisi lain, muncul juga fenomena yang cukup menarik, yaitu orang-orang yang sebenarnya financially stable dan “punya”, tapi lebih memilih untuk tidak menunjukkannya. Mereka hidup sederhana dan tidak mencolok, juga cenderung menjaga privasi, ghost rich.
Pada kondisi sekarang, ini merupakan kondisi yang relevan. Biaya hidup naik, pekerjaan gak pasti, dan banyak orang mulai fokus mencari kestabilan daripada sekadar terlihat sukses.
Akhirnya, mungkin ini bukan cuma soal fenomena baru, tapi soal cara pandang. Kesuksesan gak harus selalu terlihat.
Rasa iri, gak percaya diri, sampai merasa underpressure itu tergantung cara pandang kita kepada seseorang. Kita gak perlu insecure untuk mengekspresikan diri di medsos..
Kita juga gak perlu mengikuti standar kemewahan dan kesuksesan karena setiap orang punya cara memulai yang berbeda.
Kadang, hidup yang tenang dan cukup justru lebih berarti daripada sekadar terlihat berhasil di publik.
Medsos seharusnya tidak hanya menjadi tempat untuk saling mengesankan semata. Dapat juga menjadi ruang yang lebih jujur dan lebih manusiawi.
Mungkin sekarang kita bisa mulai belajar satu hal sederhana: gak semua hal perlu ditunjukkan.
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya mahasiswa sebagai bagian dari pemenuhan UTS mata kuliah Penulisan Opini dan Resensi.
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: kompasiana.com