Warung Sastra: Buku Berkualitas dan Diskusi Bernasnya

Reading Time: 4 minutes

Tawa Sastra – Rumah itu sederhana. 

Di halamannya ada sebuah pohon rambutan

yang begitu rindang menutupi hampir seluruh bagian halaman depan terasnya. 

Semen dan paving sudah menutupi hampir seluruh bagian tanah di halaman depan, dan di sisi selatan halaman itu ada sebuah bangunan terbuka yang berdinding seng. 

Sebagian yang tertempel spanduk bergambar Edward Said, Pram, Toni Morrison, Siti Rukiah, Gabo, Fanon, dan Boris Diop. 

Bertuliskan Malam Buku dengan aksen warna merah pada morfem “Ma” dan “Buk”.

Di depan halaman, di sisi jalan, ada sebuah lampu neon tiang yang bertuliskan Warung Sastra. 

Tiang itu dilengkapi dengan gambar gubuk warung logonya dan latar warna biru.

Jumat petang yang cerah itu, saya sedang duduk sembari menyesap teh lemon hangat yang telah dihidangkan dan membolak-balik beberapa halaman buku. 


“Di Bawah Bendera Persatuan” karya sejarawan Belanda, Klaas Stutje, yang baru saya beli. 

Saya duduk di sudut bagian utara halaman, di bawah rindangnya pohon rambutan yang menahan jatuhnya pancaran sinar matahari sore.

Ya, saya sedang berada di Warung Sastra.

Bagi yang sudah familiar dengan tempat ini akan terbiasa menyebutnya dengan WarSas. 

Warung Sastra adalah sebuah toko buku independen yang berlokasi di sebuah kampung tengah kota bernama Blunyahrejo di Kecamatan Tegalrejo, Kota Jogja. 

Agak kompleks untuk merincikan jalan menuju lokasi persisnya; yang pasti patokan untuk lokasi Warsas adalah tidak jauh dengan Hotel Tentrem dan dekat SMA MUHI.

“Di tempat ini kami enggak cuma menyediakan buku-buku bagus, tapi juga makanan dan minuman enak,” Andre terkekeh. 

“Makanan yang paling enak tentu penyetannya, kalau minuman yaaaa… sudah pasti enak semua,” sambungnya.

Andre adalah salah satu pemilik Warung Sastra, pemilik lainnya adalah Bagus. 

Warung Sastra didirikan oleh dua sahabat karib itu sejak 2017 di kos sederhana mereka di Sendowo yang tak jauh dari area UGM.

Andre waktu itu baru lulus dari program studi Pendidikan Luar Biasa, UNY, dan Bagus masih menunggu waktu wisuda dari Sastra Prancis UGM.

Dulu tempat mereka menyimpan stok buku-buku hanya di kamar kos yang luasnya mungkin tidak sampai 5 × 5 meter. 

Namun sekarang, setelah sewindu berdiri Warung Sastra sudah punya tempat yang lebih luas untuk memajang segala jenis buku yang dijualnya. 

Buku-buku yang dijual di sini sangat beragam,

mulai dari buku sastra yang serius yang berasal dari khazanah Sastra berbagai belahan dunia. 

Selain itu, ada juga buku-buku Sejarah dan Antropologi yang ditulis oleh para sejarawan dan antropolog hebat. 

Kemudian, ada jenis-jenis buku seperti kumpulan esai, dan tentu jenis lainnya.

Cukup sulit mengkategorisasikan buku yang dijual di sini karena variannya memang begitu banyak. 

Banyak buku yang dijual di sini tidak akan Anda temukan di toko buku besar konvensional.


Di rumah kontrakan yang mereka tempati sekarang buku-buku yang dijual diletakkan di rak-rak tinggi yang berjejer memanjang di ruang tengah. 

Beberapa buku juga yang diletakkan di sebuah kamar beberapa sisanya. 


Di ruang kamar bagian terdepan rumah itu terdapat sebuah perpustakaan yang memuat ribuan buku koleksi pribadi Warsas.

Buku koleksi ini bisa dipinjam untuk dibaca ketika berkunjung.

“Yaaa, kan awalnya dulu bikin Warsas karena mikir buat nyari tambahan uang bulanan yang pas-pasan. Salah satu jalan yang diambil ya akhirnya dengan jualan buku; bikin Warsas ini,” tutur Andre menceritakan cikal bakal lahirnya Warsas. 

“Makin lama ya Alhamdulillah makin terlihat hasilnya.


Sekarang ya Alhamdulillah udah bisa ngontrak di tempat yang lebih layak,” sambung Andre.

Sebelum mengontrak rumah di area Blunyahrejo, Andre dan Bagus mengontrak rumah di area Maguwo untuk dijadikan lokasi Warsas. 

Lokasi di area Maguwo tersebut dekat dengan Ring Road Jogja bagian utara. 

Setelah pandemi 2022 lewat dan kontrak rumah Maguwo yang juga kebetulan akan berakhir masanya, mereka mulai pindah ke kontrakan baru di Blunyah ini.

Salah satu yang menarik dari Warsas adalah slogannya “Buku, Kopi, Penyetan” yang mereka comot dari slogan terkenal internet “Buku, Kopi, Senja”.

“Di Warsas, yang paling utama memang menjual buku berkualitas, tapi kita juga menjual kopi dan penyetan. Mangkanya slogannya dibuat begitu,” ujar Andre. 

Hari itu saya memang hanya mewawancarai Andre saja karena Bagus baru menempuh studi lanjutan doktoral di bidang Sastra Prancis di University of Paris atau yang lebih dikenal sebagai Sorbonne.

Andre sendiri memang sudah secara penuh mengalokasikan waktunya untuk mengurus Warsas. 

Berbeda dengan Bagus, selain mengelola Warsas ia juga berprofesi sebagai dosen di prodi Sastra Prancis FIB UGM.

Diskusi Buku yang Padat

Setelah pindah ke lokasinya yang sekarang, Warung Sastra semakin sering mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan buku dan literasi. 

Yang paling sering tentu saja acara diskusi buku. 

Kemudian, ada acara diskusi karya khusus yang biasanya lebih privat dan massa yang datang lebih sedikit. 

Selain itu, ada malam apresiasi puisi; tapi mereka juga pernah mengadakan lokakarya kepenulisan novel, puisi, dan cerpen.

Ada juga Forum Diskusi One Piece yang formatnya dibuat seperti seminar akademik formal.

Bahkan mereka juga pernah melakukan lokakarya memancing!

Dari semua acara yang berlangsung di Warsas itu, diskusi buku adalah yang paling sering diadakan. 

Diskusi bukunya dinamai “Malam Buku” dan sering disingkat dengan istilah “MaBuk”. 

Sejak pertama kali diadakan pada akhir 2022 hingga awal 2026 ini Malam Buku sudah diadakan sebanyak 89 kali. 

Ya, sudah sebanyak itu!

Di acara Malam Buku, buku-buku yang diskusikan sangat amat beragam tidak hanya sebatas buku-buku yang berkisar di tema dan ranah sastra saja.

Pernah suatu waktu mereka mengadakan diskusi buku yang ditulis oleh salah satu selebritas tersohor Jakarta. 

Kemudian, ada diskusi buku filsuf cum dosen filsafat dari UIN Jogja. 

Dua hal tersebut  membuat Warsas harus meminta izin ke pengurus kampung untuk menutup akses jalan karena akan dijadikan tempat untuk penonton duduk menonton diskusi buku tersebut.

Pernah juga Warsas kedatangan tamu dari jauh: seorang sastrawan Madagaskar pemenang penghargaan sastra internasional dan seorang penulis Belanda.

Kedua orang ini mendiskusikan karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh salah satu penerbit independen tersohor.

Dan masih banyak lagi acara diskusi buku yang sudah diadakan Warsas dengan berbagai tema, tamu, dan tentu saja ceritanya.

Tetap Menjual yang Independen

Sebelum saya pulang dan menyudahi perbincangan dengan Andre, saya sempat menanyakan apa yang akan dilakukan Warsas ke depannya.

Andre hanya menjawab dengan cukup padat, “Kita akan tetap melakukan apa yang sudah berjalan, tapi tidak lupa melakukan penyesuaian dengan melihat konteks yang terjadi di lapangan.” 

“Untuk menjual buku-buku dari penerbit independen itu tetap jadi salah satu prioritas utama kami karena menurut kami itulah salah satu esensi dari toko buku seperti Warung Sastra ini; bersinergi untuk menghidupkan literasi dengan saling mendukung antar penerbit-penerbit kecil yang sudah bertumbuh sejak lama dan jadi salah satu identitas literasi Jogja,” lanjutnya. 

Matahari sudah tenggelam. 

Malam sudah menyambut. Teh saya sudah habis.

Percakapan saya dengan Andre akhirnya saya cukupkan. 

Saya pulang ke rumah saya di Kulon Progo membawa sepotong cerita mengenai toko buku langganan saya.

Editor: Elisabeth Zelda Indarwan | Cr: Kabar Sleman

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *