Pemandangan tongkrongan yang ramai sangat mudah ditemui di setiap malam.
Meja penuh, kopi datang bergantian, suara motor lalu-lalang, dan tawa kecil sesekali terdengar.
Namun, jika diperhatikan lebih lama, terdapat satu hal yang berbeda dari tongkrongan saat ini. Sesuatu hilang dari tempat itu. Obrolan mulai sepi.
Di beberapa tempat nongkrong, suasana yang muncul justru seperti “mengheningkan cipta”.
Orang-orang tetap duduk bersama, tetapi sibuk dengan layar gadget masing-masing.

Ibu jari bergerak lebih aktif daripada mulut. Terkadang, suara notifikasi terasa lebih familiar daripada suara obrolan.
Fenomena nongkrong tanpa benar-benar mengobrol kini semakin sering terlihat di tengah masyarakat.
Pemandangan orang duduk dalam satu meja yang sama sambil fokus pada ponsel atau laptop masing-masing sudah menjadi hal yang biasa.
Ezel seorang laki-laki asal Yogyakarta. Ia mengaku sering mengalami situasi seperti itu saat sedang bersama temannya.
Menurutnya, suasana tongkrongan semakin ke sini semakin terasa berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
“Sekarang nongkrong tuh kadang cuma kumpul fisik doang. Duduk bareng, tapi sibuk sendiri-sendiri,” ujarnya sambil tertawa.
Ia mengatakan penggunaan ponsel saat nongkrong sebenarnya bukan hal baru. Namun, belakangan terasa semakin intens.
Bahkan, dalam satu meja tongkrongan, obrolan bisa berhenti cukup lama karena semua orang sedang fokus pada layarnya masing-masing.

“Kadang lucu juga. Sudah excited ngajak nongkrong, ehh pas nongkrong malah main HP,” katanya.
Menurutnya, media sosial menjadi salah satu alasan mengapa suasana tongkrongan berubah.
Banyak orang merasa harus tetap aktif membuka aplikasi, membalas pesan, atau sekadar scrolling meski sedang bersama teman-temannya.
“Kayaknya, sekarang orang takut ketinggalan sesuatu kalau nggak buka HP beberapa menit,” ujarnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Nanda.
Ia mengaku fenomena tersebut sering membuat suasana tongkrongan terasa canggung, terutama ketika tidak ada yang memulai percakapan.
“Kalau satu orang buka HP, biasanya yang lain ikut buka juga. Ujung-ujungnya malah diam semua,” katanya.
Menurut Nanda, penggunaan ponsel sebenarnya memang membantu komunikasi sehari-hari.
Namun, di sisi lain, keberadaan gawai justru sering membuat interaksi langsung menjadi berkurang.
“Lucunya, kita nongkrong buat ketemu orang, tapi malah sibuk lihat kehidupan orang lain di media sosial,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Ia juga merasa kebiasaan tersebut terjadi hampir di banyak tempat.
Bahkan tidak sedikit orang yang tetap bermain ponsel ketika lawan bicaranya sedang berbicara.
Fenomena ini perlahan membuat suasana nongkrong berubah fungsi.
Jika dulu tongkrongan identik dengan cerita panjang, candaan random, atau debat receh tengah malam, sekarang sebagian obrolan mulai tergantikan oleh video pendek, meme, dan timeline media sosial.
Terkadang, satu meja bisa dipenuhi orang, tetapi suasananya tetap terasa sepi.
Bukan karena tidak akrab, melainkan karena perhatian masing-masing terbagi ke dunia digital yang berbeda-beda.
Sementara itu, Rian, menilai penggunaan ponsel saat nongkrong sebenarnya sudah menjadi kebiasaan yang sulit dipisahkan dari kehidupan sekarang.
Hampir semua aktivitas sehari-hari terhubung dengan gawai, mulai dari pekerjaan, hiburan, sampai komunikasi.
“Sekarang HP emang udah kayak bagian dari tangan. Jadi, susah kalau benar-benar dilepas,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengaku kadang merasa suasana nongkrong menjadi kurang hangat dibanding dulu.
Menurutnya, banyak momen yang seharusnya bisa jadi obrolan justru hilang karena semua orang sibuk dengan layar masing-masing.
“Kadang ada momen semua diam lama banget. Yang aktif malah suara video dari HP,” ujarnya sambil tertawa.
Fenomena nongkrong tanpa ngobrol sebenarnya bukan berarti orang-orang kehilangan teman atau tidak nyaman satu sama lain.
Banyak dari mereka tetap menikmati kebersamaan itu, meski tanpa banyak percakapan.
Kini, duduk bersama sering dianggap cukup, meski masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri.
Di sisi lain, media sosial dan perkembangan digital memang mengubah banyak kebiasaan masyarakat, termasuk cara berinteraksi.
Gawai membuat orang lebih mudah terhubung dengan siapa saja, tetapi dalam beberapa situasi justru menciptakan jarak dengan orang yang ada tepat di depan mata.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana tongkrongan sekarang mengalami perubahan. Nongkrong bukan lagi selalu soal bertukar cerita panjang.
Kadang cukup duduk bersama, memesan kopi, lalu saling menunjukkan video lucu dari layar ponsel masing-masing, atau bahkan hanya untuk melihat suasana sekitar tempat nongkrong bersama.
Meski terdengar sederhana dan sedikit lucu, kebiasaan ini perlahan menjadi gambaran kecil tentang cara masyarakat modern berinteraksi.
Dekat secara tempat, tetapi sibuk di ruang digital yang berbeda. Mungkin benar, tongkrongan saat ini masih tetap ramai, tapi suasananya tidak seramai dulu.
Editor: Carissa Azahra Candraningtyas | Cr: Dokumentasi Pribadi