TAWA SASTRA – Film Budi Pekerti karya Wregas Bhanuteja hadir sebagai potret tajam dunia pendidikan di tengah gempuran media sosial.
Alih-alih sekadar menyajikan drama personal, film ini mengangkat persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan saat ini.
Bagaimana otoritas guru perlahan retak ketika berhadapan dengan budaya viral dan penghakiman publik.
Kisah berfokus pada seorang guru BK yang mendadak menjadi sorotan setelah sebuah video konflik dirinya tersebar luas di internet.
Tanpa konteks yang utuh, potongan kejadian tersebut memicu gelombang opini yang liar.
Dalam hitungan waktu, sosok guru yang sebelumnya dihormati berubah menjadi objek hujatan.
Pada titik inilah film menunjukkan betapa rapuhnya reputasi seseorang di era digital, termasuk seorang pendidik.
Sebagai film bertema pendidikan, Budi Pekerti tidak hanya menyoroti individu, tetapi juga sistem sosial yang melingkupinya.

Otoritas guru yang dulu dianggap kuat dan tak tergoyahkan, kini harus berhadapan dengan kekuatan baru, yaitu media sosial.
Ruang kelas seakan kalah bising dibanding ruang komentar.
Apa yang terjadi di luar sekolah justru lebih menentukan citra seorang guru daripada proses pendidikan yang berlangsung di dalamnya.
Film ini juga dengan jeli menggambarkan perubahan relasi antara guru, siswa, dan orang tua.
Siswa masa kini hidup dalam arus informasi yang begitu cepat, sehingga otoritas guru sering kali dipertanyakan.
Orang tua pun tidak luput dari pengaruh media sosial, yang kadang lebih mempercayai narasi viral daripada klarifikasi langsung.
Akibatnya, kepercayaan terhadap guru menjadi mudah goyah, bahkan sebelum kebenaran terungkap.
Penampilan Sha Ine Febriyanti sebagai tokoh utama terasa kuat dan autentik.
Ia berhasil menunjukkan sisi manusiawi seorang guru yang tidak hanya dituntut untuk mendidik, tetapi juga harus menghadapi tekanan sosial yang luar biasa.
Emosi yang ditampilkan, dari tenang, bingung, hingga tertekan, membuat penonton ikut merasakan beban yang dipikul seorang tenaga pendidik di era sekarang.
Lebih jauh, film ini mengajak penonton merefleksikan bahwa krisis pendidikan hari ini tidak hanya soal kurikulum atau metode belajar, tetapi juga soal literasi digital dan empati sosial.
Media sosial memang memberi ruang bagi semua orang untuk bersuara, tetapi tidak semua suara lahir dari pemahaman yang utuh.
Ketika ruang digital dipenuhi oleh penghakiman cepat, maka nilai-nilai pendidikan seperti kebijaksanaan, kesabaran, dan keadilan menjadi terpinggirkan.
Sebagai sebuah resensi, Budi Pekerti layak disebut relevan dan penting.
Film ini bukan hanya menyentuh, tetapi juga menggugah kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama.
Di tengah dunia yang serba viral, menjaga martabat guru dan membangun budaya dialog yang sehat menjadi hal yang semakin mendesak.
Tanpa itu, bukan hanya otoritas guru yang retak, tetapi juga makna pendidikan itu sendiri.
Judul: Budi Pekerti
Sutradara: Wregas Bhanuteja
Diperankan oleh: Sha Ine Febriyanti, Dwi Sasono, Prilly Latuconsina, Angga Yunanda, Omara Esteghlal, Ari Lesmana
Genre: Drama
Tayang perdana: 9 September 2023.
durasi 1jam 11menit
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: kompas.com, beautyjournal.id