TAWA SASTRA – Kucing adalah hewan lucu yang menggemaskan untuk dilihat namun bila membahas soal perawatan dan tanggung jawab, ia tidak lagi lucu.
Fenomena banyaknya pecinta kucing dan kucing terlantar kerap terjadi di kota-kota besar tak terkecuali Jogja.
Seharusnya meningkatnya jumlah pecinta kucing berbanding lurus dengan berkurangnya kucing terlantar, namun kenyataannya justru tidak.
Sama halnya dengan Damay Sidabutar yang mengaku menjadi pecinta kucing setelah ia menjadi pecinta anjing.
Ia mulai tertarik merawat kucing setelah ia merawat atau memelihara anjing.
Memiliki anjing melahirkan sifat penyayang binatangnya itu yang akhirnya menuntunnya untuk merawat kucing.
“Mereka-kan menyesuaikan, butuh adaptasi maksudnya” jawab Damay perihal pengasuhan kucing.
Menurutnya kucing saat masih kecil cukup merepotkan. Tak jarang anak kucing tersebut buang air sembarangan dan hal tersebut cukup jadi alasan bagi pemiliknya untuk marah.
Namun itu semua adalah masa penyesuaian. seiring bertambahnya usia, kucing tersebut pasti mampu beradaptasi.
“Karena dia udah tau tempatnya-kan, ada pasir disediain” pungkas Damay perihal buang air besarnya kucing dewasa.
Menurut Damay, kucing yang sudah tumbuh dewasa pasti tak menyulitkan lagi karena ia sudah tahu di mana letak pasir tempat ia akan buang air.
Hanya saja kebutuhan kucing bukan hanya soal kotoran saja tapi masih banyak lagi seperti pakan, kandang, vaksin,vitamin, dan ada lagi sterilisasi.
Hal tersebut perlu untuk tumbuh kembang si kucing.
Uang Damay untuk Lusi

“Pakannya 28 ribuan lah” tambah Damay.
Perihal pakannya sendiri, kucing milik Damay yang diberi nama Lusi ini sering diberi pakan bermerek dengan kisaran harga 28 ribu.
Kenapa harus yang 28 ribuan? kenapa tidak makanan sisa saja? pertanyaan itu kerap timbul dalam pikiran orang awam soal kucing.
Namun kata Damay, hewan karnivora ini bukannya tidak bisa makan makanan sisa, hanya saja Lusi selektif dalam pemilihan menu makanan.
Makanan sisa yang diberikan sering kali diabaikan dan tak jarang juga Lusi lebih memilih kelaparan hingga tubuhnya mengurus.
Akibatnya Damay sering membeli makanan khusus kucing per bulannya agar Lusi tak lagi menahan lapar.
Segitu cintanya Damay pada Lusi.
“Harus disteril biar gak hamil-hamil,” tambah Damay.
Kucing bernama Lusi ini mulai dirawat oleh damay setelah ditelantarkan oleh tetangga kosnya karena sang tetangga ingin melanjut pendidikan S2 ke kota lain.
Setelah ditelantarkan, kucing ini pergi kesana-kemari mencari makan hingga ia bertemu kucing jantan yang menjadi ayah dari anak-anaknya.
Setelah hamil dan melahirkan, damay menjadi iba dengan kucing ini, lalu ia rawat dan beri nama. Damay merawat Lusi dan anak-anaknya yang berjumlah 3 ekor.
Agar kejadian serupa tidak terjadi lagi kedepannya, Damay merogoh sakunya untuk membiayai biaya sterilisasi Lusi saja.
Anak-anak Lusi tak disterilisasi karena berkelamin jantan yang tak mungkin hamil.
Belum lagi dana yang dikeluarkan Damay untuk vaksin berkisar 200 ribu per kucing belum termasuk sterilisasinya.
“Waktu itu juga kucingku sakit gak bisa kencing. kencing batulah,” tambah Damay.
Damay mengaku untuk mengatasi penyakit tersebut, dia rela merogoh sakunya sekali lagi dan membiayai biaya operasi sebesar 1,5 juta rupiah untuk satu kucing tersebut.
Ia mengaku sebagai mahasiswa, biaya perawatan kucing lebih mahal daripada biaya kebutuhan tempat tinggalnya sendiri.
Pecinta Kucing yang Tak Bertanggung Jawab

Jika berbicara soal upaya pecinta kucing terhadap kucing, sudah sangat banyak yang tahu mulai dari memberi makan kucing liar ataupun mengadopsinya.
Terkadang timbul pertanyaan di kepala orang yang awam soal kucing, bukankah memberi makan kucing liar bisa jadi penyebab semakin banyaknya kucing yang terlantar.
Sebagian manusia berpikir memberi makan kucing sama saja ikut campur soal kesejahteraan kucing terutama urusan perut.
Hal tersebut memberi kucing-kucing ini kesempatan hidup yang semakin besar dan mereka semakin nyaman untuk berkembang biak kedepannya.
Padahal jika manusia tak telibat, alam akan menyeleksi dan menyeimbangkan antara jumlah kelahiran dengan jumlah kematian yang terasa lebih alami.
“Kasih kami terhadap kucing sudah sangat besar,” ungkap Damay membantah tanggapan di atas.
Menurutnya, kasih adalah jawaban untuk semua itu.
Ia merasa tak tega melihat kucing kelaparan ataupun menderita.
Ia juga berpesan kepada pecinta kucing yang merantau ke Jogja demi alasan pendidikan agar tak memelihara kucing jika hanya karena lucu.
Perlu dipikirkan konsekuensi serta berpikir panjang kedepannya.
Bayangkan setelah mahasiswa perantau tersebut lulus, bagaimana nantinya nasib si kucing?
Karena tak jarang juga mahasiswa yang mengaku pecinta kucing ini memilih meninggalkan atau menelantarkan kucing miliknya setelah lulus.
Nofita juga berpendapat serupa perihal perlunya kesiapan dalam memelihara atau mengadopsi kucing.
Mahasiswa yang berasal dari Kalimantan ini mengaku tak memelihara kucing di tanah rantau karena memikirkan keadaan kucing kedepannya setelah ia lulus nanti.
Ia merasa tak siap menanggung resiko yang mungkin tak bisa diatasi nantinya.
Sepupu Nofita merawat kucing karena lucu tanpa memikirkan konsekuensi, namun ketika melihat sisi lain yang membuatnya risih, ia akhirnya menyerahkannya kepada orang lain yang juga mengaku sebagai pecinta kucing.
“Ternyata setelah diadopsi dia risih, karena berak sembarangan” begitu kata Nofita perihal sepupunya tersebut.
Menurut Nofita, para pecinta kucing seharusnya memikirkan lebih matang perihal pengadopsian kucing.
Merawat kucing jangan hanya karena lucunya saja tetapi lihat juga sisi yang tak lucu, sisi yang lebih serius.
Jangan jadikan kucing sebagai penghibur semata, jadikanlah ia teman yang berharga.
Kucing Sadhar, Komunitas Pecinta Kucing

Komunitas ini terbentuk karena kecintaan mahasiswa pecinta kucing Sanata Dharma. hanya saja tak semua pecinta kucing masuk dalam komunitas ini.
Namun, pecinta kucing tetaplah pecinta kucing, mereka tetap menunjukan kesukaannya masing-masing dengan cara atau sarana yang berbeda.
Komunitas ini kerap membagikan kegiatan mereka di media sosial seperti Instagram dengan nama “kucing.sadhar”.
Postingannya berisi informasi tentang kegiatan mereka ataupun fakta unik tentang kucing, sering mereka bagikan.
Begitu pula dengan kucing yang mereka kalungi dan beri nama juga tak luput dari sorotan kamera.

Tawas kali ini berbincang sedikit dengan salah satu anggota komunitas ini yang aktif pada periode 2023-2024. Namanya Juju, mahasiswa sastra inggris angkatan 2022.
Ia bergerak di Divisi Street Feeder yang bertugas mencari kucing-kucing sekitar kampus lalu memberi makan, mengalungi mereka sebagai tanda, dan tak lupa memberi nama bagi yang belum punya kalung.
“Karna udah ada nama dan kalungnya juga,” pungkas Juju.
Dengan adanya nama dan kalung tersebut, kucing tersebut tidak lagi disebut kucing liar.

Komunitas ini berperan penting dalam pengurangan sebutan kucing liar pada lingkungan kampus.
Sering juga terjadi kerusakan pada kalung pemberian mereka atau bahkan ada yang sudah putus, di situlah divisi ini juga berperan untuk menggantikan kalung lama dengan yang baru.
“Karena kita biasanya ninggalin makanannya dialasin daun kering jadi lebih ramah lingkungan,” tambahnya lagi.
Dalam proses pemberian makan kucing-kucing tersebut, para anggota biasanya menjadikan daun kering sebagai alas, ada juga yang memanfaatkan fasilitas komunitas seperti piring, dan ada juga yang menggunakan wadah sekali pakai.
Sebisa mungkin mereka tetap menjaga kebersihan lingkungan tetapi tetap memperhatikan keadaan kucing.
Juju juga berpendapat perihal pelaku penelantaran kucing itu bukanlah gambaran seluruh pecinta kucing, mereka hanyalah oknum.
Anggota komunitas ini tidak sama seperti para oknum tersebut. Bahkan jika dana dari hasil penggalangan dana dan donasi cukup, mereka akan mengalokasikannya untuk vaksin dan sterilisasi kucing.
Dari pendapat narasumber yang mengaku pecinta kucing diatas ada kesamaan pendapat perihal ketelandaran kucing di Jogja ataupun sekitar kampus. Mereka berpendapat bahwa kucing bukanlah hewan pelipur lara saja, perlu dipikirkan konsekuensi ataupun resikonya.
Mereka yang mengaku pecinta kucing tetapi malah menjadi penyebab terlantarnya kucing hanyalah oknum.
Kucing bukan makhluk yang diciptakan untuk dieksploitasi kelucuannya, kucing juga punya hak asasi.
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: Humane Colorado, Dokumentasi Pribadi Penulis, Kucing.Sadhar