Duduk berjam-jam di ruang kelas yang dingin, mencatat apa yang diucapkan dosen di depan.
Lalu, memuntahkannya kembali ke atas kertas saat pekan ujian tiba.
Siklus monoton ini mungkin terdengar sangat familier bagi sebagian besar dari kita.
Kalau kita renungkan lagi, sesungguhnya ada yang aneh dan mengkhawatirkan dengan rutinitas pendidikan semacam ini.
Kita datang ke sekolah atau kampus seolah-olah hanya sebagai wadah kosong yang siap diisi oleh guru atau dosen yang dianggap tahu segalanya.
Gelisah dengan kenyataan seperti itu, ingatan saya langsung melayang pada seorang tokoh pendidikan dan filsuf asal Brasil, Paulo Freire.
Berpuluh-puluh tahun lalu, Freire sudah memberikan kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang ternyata masih sangat relevan dengan wajah pendidikan kita di Indonesia hari ini.
Freire menyebut sistem yang membosankan dan menindas ini sebagai “Pendidikan Gaya Bank” (Banking Concept of Education).
Murid Sebagai Brankas Pasif

Dalam konsep gaya bank, Freire menganalogikan murid layaknya sebuah rekening atau brankas kosong.
Sementara itu, guru atau institusi pendidikan berperan sebagai nasabah yang terus-menerus melakukan “setoran” ilmu pengetahuan.
Murid hanya bertugas menerima, mencatat, menghafal, dan menyimpan setoran tersebut dengan patuh.
Mereka tidak pernah diajak berpikir kritis mengenai mengapa ilmu itu ada, dari mana asalnya, dan untuk apa kelak ilmu tersebut digunakan.
Kalau kita melihat realitas pendidikan di Indonesia, konsep gaya bank ini masih terasa sangat subur dan mengakar.
Sistem kita masih sering terobsesi pada hafalan teori dan angka-angka di atas kertas ketimbang kemampuan memecahkan masalah.
Di satu sisi, guru dan dosen sering kali kehabisan napas dikejar tumpukan administrasi dan target kurikulum yang kaku.
Akibatnya, mereka terpaksa memilih jalan pintas: sekadar berceramah dan memberikan tugas satu arah.
Anak-anak dididik untuk membeo dan tidak banyak bertanya.
Mereka yang terlalu sering mendebat guru sering kali dicap sebagai pembangkang atau tidak sopan.
Di sisi lain, kondisi ini diperparah oleh keputusasaan mahasiswa itu sendiri.
Himpitan biaya kuliah (UKT) yang mahal dan bayang-bayang sulitnya mencari lapangan kerja membuat mahasiswa bersikap sangat pragmatis.
Mereka rela menjadi “brankas” pasif yang sekadar menampung hafalan demi mengejar IPK tinggi dan selembar ijazah agar bisa cepat lulus.
Diskusi mendalam dan perdebatan kritis di kelas sering kali dianggap hanya membuang-buang waktu.
Pendidikan akhirnya direduksi dan turun kasta menjadi sekadar transaksi jual beli gelar semata.
Pendidikan Hadap-Masalah sebagai Jalan Keluar
Lalu, pendidikan seperti apa yang sebenarnya cocok untuk memanusiakan kita?
Freire menawarkan solusi yang ia sebut sebagai “Pendidikan Hadap-Masalah” (Problem-Posing Education).
Dalam konsep ini, ruang kelas bukan lagi tempat pemindahan pengetahuan dari si pintar ke si bodoh.
Ruang kelas harus dirombak menjadi arena dialog dua arah yang setara dan demokratis.

Guru dan murid sama-sama belajar.
Mereka bersama-sama membedah realitas sosial di sekitar mereka.
Kalau kita belajar sastra, misalnya, kita tidak diajarkan untuk sekadar menghafal tahun lahir pengarang atau menghafal teori-teori linguistik yang kaku.
Kita justru diajak untuk membedah mengapa sebuah karya sastra lahir dari kondisi sosial tertentu, dan bagaimana sastra itu bisa menjadi alat untuk mengubah ketimpangan di masyarakat.
Pembelajaran dikaitkan secara langsung dengan masalah nyata yang ada di kehidupan sehari-hari, bukan melangit dan berjarak.
Simpulan: Membebaskan Nalar
Pendidikan sejatinya adalah proses pembebasan, bukan penjinakan massal.
Kita tidak pergi ke kampus hanya untuk dicetak menjadi sekrup-sekrup kecil yang patuh dalam mesin industri yang terus berputar.
Kita belajar untuk memahami dunia agar kelak bisa ikut serta mengubahnya menjadi tempat yang lebih baik.
Sudah saatnya kita menolak untuk terus dijadikan rekening bank yang pasif.
Ruang kelas harus kembali menjadi tempat yang bising oleh adu argumen yang sehat.
Ruang kelas bukan tempat yang sunyi karena semua mahasiswanya sibuk menyalin catatan demi selembar transkrip nilai.
Kalau pendidikan kita masih terus mempertahankan gaya bank.
Jangan heran jika kelak bangsa ini hanya akan dipenuhi oleh orang-orang pintar yang kehilangan empati dan nalar kritisnya.
Editor: Chrisnina Eka Pramesti | Cr: Analitica Blog