TAWA SASTRA – Nilai tukar Rupiah menyentuh angka Rp17.000 per dolar AS. Angka yang dulu terasa jauh, sekarang malah jadi realita yang pelan-pelan terasa di kehidupan sehari-hari.
Dari harga buku yang tiba-tiba melonjak, biaya nongkrong yang makin mahal, sampai kekhawatiran sederhana, “kok uang segini sekarang rasanya kecil banget, ya?”
Data menunjukkan pelemahan ini bukan sekadar naik-turun biasa. Dalam beberapa hari, rupiah sempat anjlok puluhan poin dan bergerak di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.080.
Pergerakan grafiknya pun tidak stabil, yang jelas arahnya semakin lemah. Ini bukan sebuah kebetulan, tapi akumulasi tekanan yang terus menumpuk.

Penjelasan yang sering muncul tentang perkara ini “katanya” karena faktor global. Konflik di Timur Tengah memanas, melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Situasi ini mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga menembus US$100 per barel. Jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz ikut terganggu hingga memperparah kepanikan pasar.
Dalam situasi seperti ini, investor global cenderung menghindari risiko dan beralih ke dolar AS sebagai aset aman. Rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya juga ikut tertekan.
Penjelasan ini terdengar masuk akal, tapi masalahnya, ceritanya tak sesederhana itu. Jika memang karena faktor global, seharusnya dampaknya lebih merata ke semua negara.
Namun kenyataannya, tekanan terhadap rupiah kelihatan lebih rapuh. Di sinilah pertanyaan mulai berubah, bukan lagi tentang “apa yang terjadi di luar”, tapi “seberapa kuat kita di dalam”.
Beberapa ekonom mulai membicarakan hal yang sedikit “kurang enak didengar”. Fundamental ekonomi Indonesia itu sebenarnya belum sekuat yang sering dibilang.
Kita masih bergantung dengan aliran modal asing. Cadangan devisa memang besar, lebih dari 150 miliar dolar AS.
Tapi tak semua mencerminkan kekuatan ekonomi yang beneran solid. Sebagian datang dari utang luar negeri yang ironisnya juga dipakai untuk menjaga stabilitas rupiah.
Jadi sederhananya, stabilitas kita itu, ditopang dengan sesuatu yang juga tidak stabil.
Ini juga bukan kejadian yang pertama kali. Dari 2014, 2018, sampai awal pandemi 2020.
Polanya hampir sama, begitu arus modal asing seret atau keluar, rupiah langsung kena tekanan. Cadangan devisa turun, kurs melemah, dan pemerintah harus cari cara buat nahan situasi.
Sekarang pola itu muncul lagi. Bedanya, kali ini datang bersamaan dengan tekanan global yang lebih kompleks, konflik geopolitik, lonjakan harga energi, dan suku bunga global yang masih tinggi.
Kombinasi ini membuat rupiah bukan hanya melemah, tapi juga rentan.
Dampaknya juga tak jauh dari kehidupan kita. Barang impor naik, bahan baku industri ikut mahal, biaya logistik terdorong karena harga energi naik.
Lalu ujungnya? Harga barang di pasaran ikut naik. Inflasi jadi sesuatu yang bukan cuma teori, tapi langsung terasa di dompet.
Dalam situasi seperti ini, respons politik menjadi krusial.
Namun, banyak narasi menenangkan yang sering muncul. Katanya kondisi masih terkendali, katanya depresiasi rupiah relatif kecil, katanya kepercayaan investor masih ada.
Secara teknis, pernyataan ini bisa dibenarkan. Tapi di sisi lain, ada pertanyaan yang belum terjawab: kenapa tiap ada guncangan global, rupiah selalu jadi salah satu yang paling kena?
Di media sosial, keresahan mulai terlihat.
Ada yang bilang uang Rp50 ribu sekarang kayak nggak ada nilainya, ada yang mulai mikir mindahin aset ke emas, ada juga yang cuma bisa bercanda pahit, nanya ini harga mahal karena rupiah yang melemah atau karena dirinya yang kurang kaya.
Kedengarannya memang receh, tapi sebenarnya ini nunjukin satu hal, orang-orang mulai nggak tenang.
Di sisi lain, kritik juga mulai terdengar. Mulai dari soal kebijakan ekonomi, pengelolaan anggaran, sampai tudingan bahwa beberapa program lebih bernuansa politik daripada solusi ekonomi jangka panjang.
Memang nggak semua kritik itu bisa langsung dibenarkan, tapi munculnya suara-suara ini nunjukin ada ketidakpuasan yang makin terasa.
Bahkan, ada juga yang mulai ngomongin skenario yang lebih ekstrem. Kalau tekanan terus berlanjut, rupiah bisa aja nyentuh Rp20.000 per dolar AS dalam waktu yang singkat.
Kedengarannya agak lebay, tapi sejarah pernah nunjukin hal kayak gini bisa kejadian, apalagi kalau responnya telat atau nggak tepat.
Di titik ini, pelemahan rupiah tidak lagi sekadar isu ekonomi. Ini menjadi cermin dari relasi yang lebih besar antara kebijakan, politik, dan kepercayaan publik.
Ketika kepercayaan itu goyah, tekanan terhadap mata uang bisa datang bukan hanya dari luar, tapi juga dari dalam.
Pertanyaannya bukan lagi tentang “apakah rupiah akan kembali menguat?” tetapi “apakah ada keseriusan untuk membenahi akar masalahnya?”
karena tanpa itu, setiap krisis global berikutnya hanya akan mengulang cerita yang sama tentang rupiah melemah, masyarakat menanggung, dan penjelasan yang kembali diarahkan ke faktor eksternal.
Rupiah di angka 17.000 mungkin belum krisis, tapi jelas ini bukan kondisi yang bisa dianggap biasa.
Editor: Chrisnina Eka Pramesti | Cr: Bank Indonesia, MetroTv