Saat ini, pemandangan mahasiswa nugas di kafe sudah bukan hal langka, justru bisa dibilang sebagai “ritual wajib”.
Ketika kita datang ke kafe sore hingga malam hari, kita akan melihat banyaknya pengunjung dengan laptop yang terbuka, sambil meneguk kopi dan raut wajahnya yang menggambarkan kefokusan.
Kafe pelan-pelan naik level, dari tempat nongkrong jadi markas produktivitas dadakan.

Fenomena ini menunjukkan satu hal, yakni cara belajar mahasiswa yang mengalami perubahan.
Dulu identik dengan kelas, perpustakaan, atau kamar yang seadanya.
Sekarang? Selama ada Wi-Fi, stopkontak, dan kopi, dunia bisa jadi ruang belajar.
Kafe bukan hanya sekadar tempat nongkrong, tetapi juga jadi “kantor” bagi mahasiswa.
Kalau diperhatikan, kafe akan menjadi semakin ramai saat sore sampai malam hari.
Kafe sekitar kampus berubah menjadi semacam co-working space versi hemat.
Ada yang nugas sendiri sambil menggunakan headset agar tidak terganggu dengan suara lain, ada juga yang berdiskusi tapi ujung-ujungnya bahas konspirasi dunia atau gosip terbaru.
Seluruh kegiatan beralih ke meja kafe, mulai dari mengerjakan laporan, hingga berdiskusi tugas kelompok.
Alasannya cukup simpel, yakni karena suasana di kafe.
Dibanding dengan kamar yang penuh godaan, seperti kasur dan gadget.
Kafe memiliki “tekanan sosial” yang membuat orang memiliki keinginan produktif.
Seperti yang dikatakan Sera, mahasiswa semester enam, “Kalau di kos malah jadi mager. Di kafe tuh mau nggak mau harus nugas.”
Relate? Banget.
Belum lagi karena melihat orang lain yang juga produktif, mahasiswa akan memiliki keinginan yang sama.
Kehadiran orang lain bisa membuat performa kita naik.
Jadi bukan hanya Wi-Fi yang kencang, tetapi juga dorongan mentalnya.
Faktor teknis juga tidak kalah penting.
Wi-Fi lancar, stopkontak tersedia, dan kursi nyaman adalah paket lengkap untuk bertahan selama beberapa jam.
Arya, seorang mahasiswa yang lebih memilih kafe karena sinyal yang lebih stabil.
“Di rumah sering ngelag, di kafe lebih aman buat nugas,” katanya.
Mau bagaimana lagi? Sinyal lemot akan lebih menyiksa daripada deadline.
Tapi, semua yang enak pasti ada harganya.

Secara finansial, nugas di kafe tidak gratis.
Minimal harus membeli minum agar tidak dicap sebagai “penumpang Wi-Fi” atau “rojali (rombongan jarang beli).”
Kalau dihitung-hitung, sekali dua kali mungkin terasa santai atau tidak ada masalah.
Tapi kalau tiap hari? Dompet bisa ikut burnout.
Belum lagi soal distraksi.
Tidak semua kafe ramah untuk mengerjakan tugas.
Ada yang musiknya terlalu kencang, ada yang terlalu ramai, ada juga yang malah bikin pengen nongkrong daripada nugas.
Niat awal produktif, berakhir jadi sesi gosip nasional. Tragis, tapi sering terjadi.
Kalau dilihat secara lebih luas, ini bukan sekadar tren, ini adalah gaya hidup.
Mahasiswa sekarang tidak lagi memisahkan secara tegas, antara belajar dan sosial.
Semua bisa jalan bersamaan.
Kafe jadi simbol dari fleksibilitas itu, belajar tidak harus selalu serius, tetapi tetap bisa jalan.
Di sisi lain, ini juga jadi kode keras kalau ruang belajar formal seperti perpustakaan belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan mahasiswa zaman sekarang.
Kafe hadir sebagai alternatif yang lebih santai, fleksibel, dan lebih estetik.
Para pemilik kafe juga tidak tinggal diam.
Mereka sadar hal ini berpeluang besar.
Maka dari itu, banyak kafe dengan desain “laptop friendly”, Wi-Fi ngebut, stopkontak bertebaran, kursi empuk, bahkan suasana yang mendukung.
Simbiosis mutualisme versi modern.
Tetap saja, nugas di kafe bukan solusi universal.
Tidak semua orang cocok dengan fenomena ini.
Ada yang justru lebih fokus di tempat sepi seperti perpustakaan atau kamar sendiri.
Jadi ini lebih ke opsi, bukan kewajiban apalagi standar baru.
Di era sekarang, belajar memang semakin fleksibel.
Selama ada internet, hampir semua hal bisa dikerjakan dari mana saja.
Kafe hanya salah satu titik singgah dalam peta besar itu.
Masalahnya, fleksibilitas ini butuh tanggung jawab.
Tanpa manajemen waktu dan disiplin, kafe bisa berubah dari tempat produktif jadi sarang distraksi.
Alih-alih mengerjakan tugas, malah sibuk update story.
Ke depannya, tren ini mungkin akan lebih besar.
Tinggal apakah mahasiswa mau menjadi produktif di tengah suasana santai, atau malah terbawa santai sampai lupa dengan tujuan awal.
Jadi, di antara kopi, Wi-Fi, dan deadline yang semakin dekat.
Selalu ada pilihan mau beneran mengerjakan tugas atau sekadar liatin orang mengerjakan tugas.
Editor: Carissa Azahra Candraningtyas | Cr: pinterest