Menjadi Gie di Kantin Kampus: Ketika Sastra Mati di Tangan Program Kerja

Reading Time: 2 minutes

Selasar kampus belakangan ini terasa seperti pabrik. Mahasiswa hilir mudik dengan raut muka tegang, bukan karena memikirkan esensi ilmu, melainkan cemas kalau vendor sound system terlambat atau jumlah peserta acara tidak memenuhi target. 

Di tangan organisasi yang terobsesi pada label “sukses”, sastra sering kali mati dan hanya menyisakan tumpukan kertas laporan pertanggungjawaban yang sebenarnya zonk secara substansi.

Melihat fenomena ini, ingatanku melompat pada sosok Soe Hok Gie dalam film Gie (2005) karya Riri Riza. Gie, yang diperankan dengan apik oleh Nicholas Saputra, adalah antitesis dari mahasiswa yang sekadar menggugurkan kewajiban program kerja. 

Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, Gie menunjukkan bahwa pergerakan besar tidak selalu lahir dari rapat-rapat formal yang kaku, melainkan dari kedalaman berpikir dan diskusi-diskusi kecil yang jujur.

Sastra dan Kejujuran di Meja Kantin

Film ini dengan piawai menggambarkan bagaimana Gie justru menemukan “api” perjuangannya lewat buku, catatan harian, dan obrolan dengan lingkaran kecilnya. 

Bagi Gie, sastra adalah alat untuk tetap menjadi manusia. Ia tidak butuh panggung megah atau anggaran besar untuk bersuara; ia hanya butuh keberanian untuk jujur pada nuraninya.

Hal ini menjadi refleksi tajam bagi lingkungan kampus kita. Sering kali, esensi sastra dan kemahasiswaan justru lebih hidup di meja kantin yang penuh asap rokok dan gelas kopi daripada di ruang seminar yang berpendingin udara. 

Di kantin, kita bisa berdiskusi remeh, tapi tetap berdampak mendalam bagi pribadi masing-masing. Di sanalah pertukaran ilmu terjadi tanpa sekat formalitas yang membosankan.

Ketajaman Visual dan Akting yang “Sastra Banget”

Dari segi teknis, akting Nicholas Saputra patut diacungi jempol karena berhasil menghidupkan karakter mahasiswa sastra yang melankolis namun keras kepala. 

Wajahnya kerap menunjukkan kegundahan seorang intelektual yang merasa asing di negerinya sendiri. 

Selain itu, sinematografi garapan Yadi Sugandi mampu menciptakan suasana Jakarta tahun 1960-an yang nyata, lengkap dengan efek warna yang mendukung narasi sejarah. 

Pengambilan gambar yang fokus pada kesendirian Gie di perpustakaan atau di puncak gunung seolah menegaskan bahwa refleksi batin jauh lebih penting daripada keramaian tanpa isi.

Ada ironi yang nyata kalau sebuah program kerja kampus dibuat dengan anggaran besar, tetapi gagal menyentuh sisi kemanusiaan mahasiswanya. 

Kita terlalu sibuk mengurus “bungkus” acara hingga lupa pada “isi”. Gie, dalam kesendirian dan keterasingannya, membuktikan bahwa aksi paling fundamental adalah memengaruhi pribadi orang lain melalui gagasan.

Simpulan: Kembali ke Kedalaman

Kalau Gie hidup di kampus kita saat ini, mungkin ia tak akan ditemukan di barisan depan panitia yang sibuk mengejar tanda tangan birokrasi. 

Ia mungkin sedang duduk di pojok kantin, menyesap kopi, dan mendiskusikan ketidakadilan dunia dengan satu atau dua orang teman. 

Baginya, satu orang yang tercerahkan jauh lebih berharga daripada seribu orang yang hadir di sebuah acara hanya untuk mengejar sertifikat.

Menonton kembali Gie di tengah rutinitas kuliah adalah sebuah ajakan untuk berhenti sejenak. 

Tulisan ini bukan ajakan untuk membenci organisasi, melainkan peringatan agar kita tidak membiarkan sastra mati di tangan kita sendiri karena terlalu sibuk menjadi robot administrasi. Mari kembali ke kantin, kembali ke buku, dan kembali ke diskusi-diskusi jujur. 

Sebab, pada akhirnya, perubahan yang paling menetap adalah perubahan yang terjadi di dalam diri setiap pribadi, bukan yang tertulis di atas kertas program kerja.

Editor: Chrisnina Eka Pramesti | cr: suarasikap

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *