TAWA SASTRA – Dalam percakapan sehari-hari, khususnya di kalangan mahasiswa, kata ngampus terasa sangat akrab di telinga. Kalimat seperti “Aku lagi di kampus” atau “Aku lagi ngampus” sering kita dengar, bahkan mungkin kita sendiri sering mengucapkannya.
Tanpa disadari, kata ngampus sudah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari mahasiswa. Namun, jika dilihat dari sudut pandang kebahasaan, muncul pertanyaan sederhana “sebenarnya kata ngampus itu benar atau tidak”?.
Secara umum, kata kampus merujuk pada tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan tinggi. Kata ini sudah tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan termasuk kata baku.
Sementara itu, bentuk ngampus tidak tercatat sebagai bentuk baku dalam bahasa Indonesia. Kata tersebut lebih tepat dipahami sebagai bentuk bahasa tidak resmi atau bahasa percakapan yang muncul dari kebiasaan penutur.
Jika dilihat dari proses pembentukannya, kata ngampus tampaknya mengikuti pola yang sering muncul dalam bahasa lisan, yaitu penambahan bunyi ng- di awal kata dasar.
Pola seperti ini sebenarnya cukup umum dalam bahasa percakapan Indonesia, misalnya pada kata ngopi, ngobrol, atau ngajar. Bentuk-bentuk tersebut muncul karena pengaruh kebiasaan bertutur yang lebih santai dan ringkas.
Namun, di sinilah menariknya bahasa. Bahasa tidak hanya soal benar atau salah, tetapi juga soal konteks pemakaian. Dalam percakapan santai bersama teman, penggunaan kata ngampus tentu tidak menjadi masalah.
Bahkan, kata tersebut terasa lebih alami dan sesuai dengan situasi komunikasi yang tidak resmi. Sebaliknya, jika digunakan dalam tulisan akademik, laporan resmi, atau karya ilmiah, penggunaan kata ngampus tentu kurang tepat karena tidak sesuai dengan kaidah bahasa baku.

Fenomena Perkembangan Bahasa
Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa bahasa terus berkembang mengikuti kebiasaan penuturnya.
Banyak bentuk bahasa yang awalnya hanya digunakan secara tidak resmi, tetapi lama-kelamaan menjadi populer dan diterima dalam komunikasi sehari-hari.
Bagi mahasiswa, kesadaran terhadap perbedaan bahasa baku dan tidak baku menjadi hal yang cukup penting.
Mahasiswa tidak hanya menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk menulis karya akademik seperti makalah, laporan, atau skripsi.
Oleh karena itu, kemampuan menyesuaikan bahasa dengan situasi sangat diperlukan. Kita boleh saja mengatakan “Aku lagi ngampus” saat berbicara dengan teman, tetapi ketika menulis laporan akademik, tentu lebih tepat menggunakan kalimat seperti “Saya sedang berada di kampus.”Pada akhirnya, pertanyaan tentang kampus atau ngampus sebenarnya bukan hanya soal benar atau salah, tetapi soal kebiasaan berbahasa dan kesadaran terhadap konteks penggunaannya.
Editor: Carissa Azahra Candraningtyas | cr: Pena-biru.com