TAWA SASTRA – Kekerasan seksual tidak hanya menimbulkan luka batin, tetapi juga menghadirkan tekanan sosial bagi korban. Dalam banyak situasi, korban justru menjadi pihak yang disalahkan atas peristiwa yang dialaminya.

Kondisi ini dikenal sebagai victim blaming, merupakan sebuah kondisi yang cenderung memindahkan tanggung jawab dari pelaku kepada korban.
Alih-alih menyoroti tindakan pelaku, perhatian publik kerap tertuju pada korban. Mulai dari cara berpakaian, waktu kejadian, hingga situasi tertentu yang dianggap menjadi pemicu kekerasan seksual.
Padahal, kekerasan bisa terjadi karena keputusan pelaku, bukan karena korban. Dampak yang ditimbulkan pun tidaklah ringan. Korban bisa mengalami tekanan mental, perasaan malu, hingga kecenderungan menyalahkan diri sendiri.
Banyak di antaranya memilih untuk tidak melapor karena takut terhadap penilaian negatif dari lingkungan sekitar.
Stigma yang terus berulang ini membuat korban semakin kesulitan memperoleh bantuan dan keadilan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa persoalan tidak hanya terletak pada tindak kekerasan, tetapi juga pada cara masyarakat memberikan respon.
Upaya menghentikan victim blaming perlu dimulai dari perubahan perspektif masyarakat.
Sikap mendengarkan tanpa menghakimi serta memberikan dukungan menjadi langkah penting dalam menciptakan ruang yang aman bagi korban.
Hal ini tidak hanya membantu korban merasa dihargai dan dipahami, tetapi juga mendorong keberanian mereka untuk berbicara serta memulihkan dari pengalaman yang dialami.
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: pinterest