Bagi banyak orang saat ini, hiburan bukan lagi sekadar menonton film atau mendengarkan musik.
Mengonsumsi gosip selebriti dan ikut menghakimi masalah pribadi mereka di media sosial kini telah menjadi bentuk hiburan yang dianggap biasa.
Pada era media sosial yang serba cepat sekarang, definisi “hiburan” telah bergeser dikit demi sedikit.
Jika dulu kita menyalakan televisi untuk menonton acara komedi atau sinetron.
Kini, banyak orang cukup membuka ponsel untuk mendapatkan hiburan gratis yaitu membaca kolom komentar di media sosial.
Fenomena ini mencerminkan dinamika sosial yang cukup memprihatinkan di masyarakat kita.
Hal yang seharusnya menjadi masalah pribadi para figur publik seperti perceraian, perselisihan keluarga, hingga cara mengasuh anak kini dikupas tuntas dan disajikan sebagai tontonan sehari-hari.
Kita bisa menyebut fenomena ini sebagai kebiasaan di mana orang merasa terhibur dengan cara “mengintip” dan mencampuri urusan orang lain.
Misalnya, ketika ada seorang selebriti yang ketahuan berselingkuh, berita tersebut langsung menyebar dalam hitungan menit di berbagai platform.
Netizen, yang sama sekali tidak kenal secara pribadi oleh selebriti tersebut, tiba-tiba merasa berhak menjadi hakim.
Mereka meramaikan kolom komentar dengan hujatan, sindiran, bahkan membongkar masa lalu sang artis.
Dalam konteks ini, masalah orang lain telah beralih fungsi menjadi sarana hiburan pengisi waktu luang.
Batas antara ruang publik dan ruang privat saat ini sudah benar-benar hancur.
Dulu, kebiasaan bergosip atau gibah mungkin hanya terjadi dalam lingkup kecil, seperti ibu-ibu yang mengobrol di warung.
Namun sekarang, kebiasaan itu difasilitasi oleh akun-akun berkedok berita hiburan di media sosial.
Netizen berlindung di balik layar dengan akun anonim.
Mereka merasa aman, mengetik kata-kata kasar yang mungkin tidak akan pernah berani mereka ucapkan langsung di dunia nyata.
Dampak Nyata di Masyarakat
Dampak dari menjadikan gosip dan konflik orang lain sebagai hiburan ini sangat nyata dan dekat dengan kita.
Hal ini memicu menurunnya empati di masyarakat.
Ketika kita terbiasa melihat artis menangis atau bertengkar di media sosial sebagai tontonan, secara tidak sadar empati kita menjadi tumpul.
Kita sering lupa bahwa figur publik di dunia hiburan juga manusia biasa yang memiliki kesehatan mental dan keluarga di dunia nyata.
Kesedihan dan kehancuran rumah tangga mereka sering kali hanya dianggap sebagai episode drama baru untuk dikomentari.
Sebagai konsumen media di era digital, kita memegang kendali penuh atas apa yang ingin kita jadikan hiburan.
Kita perlu menyadari bahwa memberikan like, komentar, atau sekadar membagikan berita gosip sama dengan memberikan “asupan” agar industri hiburan semacam ini terus hidup.
Kesimpulannya, menjadikan masalah pribadi orang lain sebagai komoditas hiburan adalah kebiasaan sosial yang beracun.
Masyarakat perlu mulai melakukan penyaringan informasi secara mandiri dan selektif.
Hiburan sejatinya berfungsi untuk menyegarkan pikiran dan melepas penat setelah beraktivitas seharian.
Hiburan bukan menambah beban emosional atau menjadikan kita “hakim dadakan” atas kehidupan orang lain yang bahkan tidak kita kenal.
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: Pinterest