TAWA SASTRA – Di tengah panggung politik yang biasanya dipenuhi oleh para pejabat dan elite partai, dua sosok ini justru sering mencuri perhatian tanpa memiliki jabatan yang formal.Â
Mereka bukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat, bukan juga kandidat dalam pemilu. Namun, mengapa suara mereka kerap menggema dalam diskusi kebangsaan?
Mereka adalah Romo Franz Magnis Suseno dan Romo Benny Susetyo.
Bagi sebagian orang, kehadiran dua sosok ini mungkin terasa berbeda.
Di saat banyak tokoh yang sibuk untuk berebut pengaruh, mereka justru memilih jalur sunyi, yakni berbicara tentang etika, nilai, dan kemanusiaan.
Justru di situlah letak kekuatan mereka, ketika politik sering kehilangan arah, suara yang jujur menjadi semakin dibutuhkan.

Romo Magnis, dengan latar belakang filsafatnya, dikenal sebagai sosok yang konsisten mengingatkan batas moral kekuasaan.
Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa politik tidak boleh lepas dari etika.
Baginya, kekuasaan yang tidak dikendalikan oleh moral hanya akan melahirkan ketidakadilan.
Pemikirannya yang mendalam membuatnya sering dijadikan rujukan dalam diskusi akademik maupun kebangsaan.

Sementara itu, Romo Benny tampil lebih dekat dengan realitas sosial.
Ia aktif berbicara di ruang publik, menanggapi isu-isu hangat seperti toleransi, radikalisme, hingga politik identitas.
Gaya bicaranya yang lugas dan mudah dipahami, menjadikannya jembatan antara gagasan besar dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Meski berbeda pendekatan, keduanya memiliki benang merah yang sama, yakni politik harus kembali pada tujuan utamanya, yaitu melayani.
Mereka menolak anggapan bahwa politik hanyalah soal kekuasaan. Sebaliknya, mereka melihat politik sebagai sarana untuk memperjuangkan kebaikan bersama.
Di tengah kondisi yang kadang bikin masyarakat terpecah, pesan mereka terasa semakin relevan.
Semangat Bhinneka Tunggal Ika yang mereka suarakan menjadi pengingat bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang harus dirawat.
Lalu, mengapa sosok seperti mereka bisa menjadi sorotan? Jawabannya sederhana, karena mereka menawarkan sesuatu yang mulai langka yaitu sebuah kejujuran, konsistensi, dan keberanian untuk berbicara benar.
Tanpa ambisi kekuasaan, mereka justru lebih bebas menyuarakan apa yang penting bagi masyarakat.
Bagi generasi muda, kisah Romo Magnis dan Romo Benny menjadi refleksi bahwa berpolitik tidak selalu harus lewat jabatan politik.
Ada banyak ruang bagi siapa saja untuk berkontribusi, selama memiliki kepedulian dan komitmen pada nilai.
Di tengah dunia yang makin berisik, kedua romo ini justru hadir dengan cara yang simple: berbicara seperlunya, namun maknanya dalam.
Hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang membuat mereka tetap mendapat perhatian dan didengarkan..
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: tirto.id, timesindonesia.co.id, id.wikipedia.org, detik.com