TAWA SASTRA – Tahukah kalian? Literasi sangat penting bagi kita untuk melihat dunia dari berbagai sudut pandang.
Pada era globalisasi ini, kemajuan teknologi dapat menjadi salah satu ancaman bagi masyarakat yang mulai meninggalkan buku sebagai sumber pengetahuan.
Masyarakat lebih banyak mengandalkan gadget sebagai sumber utama untuk memperoleh pengetahuan dan informasi. Akibatnya, minat masyarakat untuk membaca buku mulai mengalami penurunan.
Tidak dapat disangkal bahwa kehadiran teknologi digital memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat. Salah satunya adalah internet yang membantu masyarakat untuk mengakses informasi dengan mudah dan cepat.
Selain itu, berbagai sumber pengetahuan dan informasi, seperti jurnal, berita, dan artikel dapat sangat mudah diakses melalui internet dalam hitungan detik.
Hal ini membuat masyarakat, terutama generasi muda untuk semakin bergantung pada perangkat digital dalam memperoleh informasi.
Peristiwa tersebut perlu ditangani secara tepat, karena dapat menjadi ancaman bagi generasi muda.
Oleh karena itu, dibutuhkan pelopor-pelopor baru dari kalangan generasi muda yang memilki kesadaran bahwa kegiatan membaca merupakan hal yang sangat penting.
Meskipun saat ini banyak generasi muda yang mulai meninggalkan kebiasaan membaca buku, masih terdapat sejumlah generasi yang menyadari pentingnya kegiatan membaca.
Salah satu contohnya dapat ditemukan di lingkungan Universitas Sanata Dharma.
Universitas Sanata Dharma memiliki sebuah komunitas untuk mewadahi mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap dunia buku.
Meskipun jumlah mahasiswa yang bergabung dengan komunitas tersebut masih terbatas, tetap ada mahasiswa yang memiliki ketertarikan kuat untuk menjadi bagian dari komunitas tersebut.
Salah satunya adalah Athaya, mahasiswa program studi Sastra Indonesia yang aktif sebagai anggota komunitas Sadhar Membaca. Komunitas tersebut kerap sekali melakukan pertemuan untuk membuka ruang diskusi tentang buku.
“Agenda yang dilakukan itu sharing bacaan yang lagi dibaca,” kata Athaya di Kantin, Universitas Sanata Dharma, Selasa.
Selain itu, Athaya juga mengatakan bahwa “Tapi, sadhar membaca ada beberapa kegiatan, seperti diskusi setiap bulan atau dua bulan dan mengundang narasumber.”

Sadhar Membaca mengajarkan kita bahwa melalui komunitas kecil, buku tetap menjadi sumber utama dalam mencari informasi dan membuka pandangan terhadap dunia.
Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, keberadaan komunitas seperti ini menjadi ruang penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk kembali mendekatkan diri pada budaya membaca.
Buku tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu seseorang memahami berbagai sudut pandang, memperluas wawasan, serta membangun pemikiran yang lebih kritis terhadap berbagai fenomena yang terjadi di sekitar kita.
Athaya, sebagai salah satu penggerak dalam komunitas tersebut, menunjukkan bahwa generasi muda mampu menjaga dan menghidupkan budaya literasi.
Ia membuktikan bahwa di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi, membaca buku tetap memiliki tempat yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan membaca bersama, berbagi buku, serta diskusi ringan tentang isi bacaan. Athaya mengajak teman-temannya untuk tidak hanya bergantung pada informasi singkat dari media digital, tetapi juga mendalami pengetahuan melalui buku.
Editor: Carissa Azahra | cr: Pinterest