TAWA SASTRA – Arus mudik kini menjelma sebagai gelombang panjang yang dipadati oleh para perantau.
Di sisi lain, pasar-pasar mulai sesak oleh para penjual ketupat yang berjajar, seakan menjadi penanda bahwa hari Lebaran kian mendekat.
Masyarakat saling bergegas dalam mengirimkan bingkisan dengan ucapan hari raya yang khas.
Di saat yang sama, institusi-institusi besar pun berlomba merangkai poster-poster ucapan, menegaskan kehadiran perayaan yang kian merata di ruang-ruang publik.
Namun, kekeliruan terhadap pengucapan hari raya masih kerap berjejak pada berbagai poster yang tersebar secara daring maupun luring.
Poster-poster tersebut, kerap sekali menyelipkan frasa “hari raya” dalam pengucapannya.
Misalnya, muncul bentuk ucapan “Selamat Hari Raya Idulfitri” pada poster-poster yang tersebar.
Ucapan tersebut bukan hanya tersebar dalam poster, tetapi juga disebarkan dalam bentuk pesan kepada sanak saudara.
Memaknai Asal Frasa “Idulfitri”
“Idulfitri” merupakan frasa yang berasal dari bahasa Arab. ‘Id yang berarti perayaan, al-fitri yang memiliki arti berbuka/makan.
Secara harfiah, “Idulfitri” berarti hari raya berbuka puasa.
Seperti yang telah banyak diketahui oleh masyarakat.
Idulfitri merupakan sebuah perayaan umat Muslim, yang diselenggarakan setelah menahan lapar dan dahaga dalam ibadah puasa selama sebulan penuh.
Dalam momentum tersebut, umat Muslim saling bersilaturahmi, memohon maaf, serta mempererat hubungan dengan sanak saudara.
Idulfitri bukan hanya dimaknai sebagai peristiwa keagamaan, tetapi juga sebagai nilai kultural yang sarat dengan nilai kebersamaan.
Hal ini, memberikan alasan mengapa seluruh golongan masyarakat berlomba-lomba untuk saling mengucapkan Idulfitri.
Sehingga, perayaan ini bukan hanya dirasakan oleh umat Muslim, tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia yang hidup saling berdampingan.
Lantas, bagaimana pengucapan hari raya yang baik dan benar?
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Idulfitri berakar dari kata ‘Id yang bermakna perayaan atau hari raya.
Dengan demikian, penggunaan ungkapan “Selamat Hari Raya Idulfitri” sejatinya menghadirkan sebuah pengulangan makna.
Fenomena ini menjadi kurang efektif dalam kaidah berbahasa.
Oleh karena itu, ungkapan yang lebih tepat digunakan adalah “Selamat Idulfitri”.
Frasa tersebut telah memadai untuk mewakili makna perayaan secara utuh, sekaligus menghadirkan keselarasan antara ketepatan bahasa dan keindahan tutur.
Editor: Chrisnina Eka Pramesti | Cr: Canva


Tinggalkan Balasan