TAWA SASTRA – Mengunjungi Yogyakarta di bulan suci Ramadan selalu memberikan suasana damai dan tenang.
Keadaan kota yang biasanya riuh oleh klakson kendaraan bermotor dan roda pariwisata perlahan melambat di siang hari.
Hawa panas yang membakar tubuh kita terasa lebih bisa dimaafkan karena digantikan oleh ketenangan batin.
Namun, jangan tertipu oleh keheningan siang hari ini. Begitu matahari mulai terbenam, denyut nadi di salah satu sudut selatan Yogyakarta justru berdetak semakin kencang.
Bagi warga lokal maupun pendatang, Ramadan di Yogyakarta belum sah rasanya jika belum menjejakkan kaki di Kampoeng Ramadhan Jogokariyan (KRJ).
Terletak di Kecamatan Mantrijeron, kawasan yang dulunya merupakan kampung abdi dalem Keraton Yogyakarta ini, kini bertransformasi menjadi tempat perayaan bulan suci yang paling dinanti.
Mengunjunginya di sore hari seperti masuk ke dalam sebuah festival rakyat yang meriah, namun tetap dibalut oleh nuansa religius yaitu bulan Ramadan.
Lautan Manusia dan Berbagai Macam Kuliner
Sejak pukul 15.00 WIB, Jalan Jogokaryan yang biasanya menjadi jalur pelintas alternatif warga sudah ditutup total untuk kendaraan roda empat.
Di sepanjang jalan dengan lebar kurang lebih 500 meter, ratusan meja lapak berjajar merapat di sisi kiri dan kanan.
Stan-stan berbagai warna saling bersinggungan, menciptakan lorong panjang yang segera disesaki oleh ribuan manusia.
Mirip dengan pasar malam, di sini juga memiliki seni tersendiri. Bedanya, Anda tidak memerlukan kalkulator.
Transaksi diwarnai oleh logat Jawa yang kental, tawa renyah, dan senyum ramah para pedagang lokal.
“Monggo Mas, Mbak, es dawetnya, sate koyornya,” panggil para pedagang bersahutan, mencoba mengatasi suara dengung percakapan ramainya pengunjung.
Berbagai jenis makanan bagaikan surga kuliner.
Di satu sudut, asap putih mengepul dari panggangan sate ayam, menebarkan aroma gurih yang seketika menguji ketahanan iman siapa saja yang sedang menahan lapar.
Di sudut lain, warna-warni mencolok dari es pisang ijo, es kuwut, dan es buah tampak menggoda di bawah langit sore hari.
Kita juga bisa menemukan jajanan yang sedang viral membuat kita tergugah untuk membelinya.
“Saya sudah jualan di KRJ ini sejak sepuluh tahun lalu. Kalau hari biasa jualan sayur, tapi kalau Ramadan ya banting setir jualan gorengan dan lauk matang. Alhamdulillah, berkahnya selalu terasa,” ujar Bu Parni (55), salah seorang warga asli Jogokariyan, sambil tangannya membungkus pesanan mendoan panas ke dalam kantong plastik.
Bagi warga sekitar, pasar sore ini memang bukan sekadar ajang unjuk gigi kuliner, melainkan penggerak roda ekonomi yang luar biasa.
Ratusan pedagang yang mayoritas adalah warga lokal kampung Jogokariyan mendapatkan limpahan rezeki yang tak jarang hasilnya bisa digunakan untuk tabungan hari raya.
Masjid Jogokariyan yang Megah

Berjalan menyusuri lautan manusia dengan langkah yang harus sering tertahan, ujung pencarian kita akan bermuara pada bangunan megah, yakni Masjid Jogokariyan.
Diresmikan sejak tahun 1967, masjid ini bukan sekadar monumen arsitektur tempat ibadah. Ia adalah pusat peradaban, nadi penggerak, dan ruh dari kampung ini.
Masjid Jogokariyan merawat tradisi masa kini yang tak kalah luar biasa, tradisi berbagi dalam skala besar.
Menjelang pukul 16.30 WIB, pemandangan di pelataran masjid berubah menjadi sebuah tempat untuk berbagi makanan.
Puluhan relawan mulai dari ibu-ibu majelis taklim, hingga remaja masjid sibuk berlalu-lalang.
Mereka menata ribuan piring yang berjejer rapi di pelataran masjid, memanjang hingga ke trotoar.
Setiap harinya selama bulan Ramadan, panitia Masjid Jogokariyan menyajikan tak kurang dari 3.000 hingga 3.500 porsi hidangan berbuka puasa secara gratis.
Angka fantastis ini tidak datang begitu saja. Ia adalah hasil dari manajemen masjid yang baik dan semangat gotong royong warga yang mengakar kuat.
Siapa pun boleh datang dan duduk bersila di hamparan tikar dan karpet yang telah disediakan.
Tidak ada yang menanyakan dari mana Anda berasal, apa agama Anda, atau apa pekerjaan Anda.
Mahasiswa rantau yang ingin menghemat biaya makan, bapak tukang becak yang sedang melepas lelah, hingga pengunjung luar kota yang penasaran, semua duduk sama rendah, menghadap piring berisi nasi dengan lauk yang setiap harinya berubah.
Begitu adzan berbunyi, kebersamaan itu memuncak.
“Allahuakbar, Allahuakbar…”.
Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring menciptakan suasana kebersamaan yang indah, di bawah langit Yogyakarta yang perlahan menggelap.
Mengunjungi Jogokariyan di bulan Ramadan memang membutuhkan energi ekstra dan kesabaran untuk menembus kepadatannya.
Berkeringat, berdesakan, dan kaki yang pegal adalah kepastian.
Namun, melihat tawa lepas para pedagang, menghirup aroma makanan yang menggugah selera, hingga menyaksikan pemandangan ribuan umat manusia berbuka puasa dalam kebersamaan, seakan membayar lunas semua kelelahan itu.
Jogokariyan bukan sekadar tempat mencari takjil.
Ia adalah kampung halaman kecil yang mengingatkan kita bahwa di tengah laju kehidupan, kehangatan manusia dan semangat berbagi adalah hal yang membuat kita tetap “hidup”.
Ngebut mencari takjil boleh saja, tapi memaknai kebersamaannya harus dilakukan perlahan.
Editor: Mohammad Ganda Wibawasakti | Cr: Dokumentasi Pribadi, dejogjaadventure