TAWA SASTRA – “Besok ada meeting jam sembilan, jangan lupa update progressnya ya.”
Kalimat seperti itu kini lazim digunakan tanpa disadari sebagai bentuk campur kode Indonesia–Inggris.
Fenomena ini semakin sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada kalangan muda, mahasiswa, pekerja kantoran, hingga para netizen media sosial.
Kata-kata seperti meeting, deadline, submit, follow up, healing, relate, literally, atau random seolah menjadi bagian dari kosakata yang digunakan tanpa berpikir panjang.
Apakah kebiasaan mencampurkan bahasa Indonesia dan Inggris ini merupakan sesuatu yang wajar, atau justru menjadi tantangan?
Dalam kajian linguistik, fenomena tersebut dikenal sebagai campur kode (code mixing), yaitu penggunaan unsur-unsur dari dua bahasa atau lebih dalam satu tuturan.
Campur kode bukan hal baru karena masyarakat Indonesia sejak lama terbiasa menggunakan bahasa Indonesia berdampingan dengan berbagai bahasa daerah.
Namun, perkembangan teknologi dan media sosial membuat bahasa Inggris kini menjadi bahasa yang paling sering muncul dalam percakapan sehari-hari.
Salah satu penyebab utama fenomena ini adalah pengaruh internet dan media sosial.
Saat membuka TikTok, Instagram, atau X, pengguna akan menemukan berbagai konten yang menggunakan bahasa Inggris, baik secara penuh maupun sebagian.

Banyak istilah yang awalnya berasal dari bahasa Inggris kemudian menyebar dengan cepat dan digunakan oleh masyarakat Indonesia.
Misalnya, kata healing yang sering digunakan untuk menggambarkan kegiatan berlibur atau mencari ketenangan, meskipun sebenarnya bahasa Indonesia memiliki kata “penyegaran”, “rekreasi”, atau “pemulihan”.
Namun, bagi sebagian orang, penggunaan kata healing dianggap lebih sederhana dan lebih sesuai dengan tren yang sedang berkembang.
Selain karena pengaruh media sosial, pencampuran bahasa juga sering terjadi karena faktor lingkungan pendidikan dan pekerjaan.
Mahasiswa sering mendengar istilah akademik berbahasa Inggris, seperti research, review, paper, atau conference.
Sementara itu, di dunia kerja, istilah seperti briefing, target, project, meeting, dan deadline sudah menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari.
Akibatnya, banyak orang merasa lebih mudah menggunakan istilah Inggris daripada mencari atau mengingat padanan dalam bahasa Indonesia.
Menariknya, penggunaan bahasa Inggris juga sering dikaitkan dengan prestise sosial.
Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian orang menganggap penggunaan istilah Inggris membuat seseorang terlihat lebih modern, berpendidikan, atau mengikuti perkembangan zaman.
Fenomena ini bahkan melahirkan stereotip tertentu di masyarakat, seperti istilah “bahasa Jaksel” yang merujuk pada kebiasaan mencampurkan bahasa Indonesia dan Inggris dalam percakapan.
Kalimat seperti “Aku tuh nggak relate sama situationnya” atau “Kayaknya aku butuh me time biar gak stres” kini menjadi bagian dari gaya komunikasi sehari-hari generasi muda.
Meski demikian, campur kode tidak selalu membawa dampak negatif.
Dalam banyak situasi, pencampuran bahasa justru membantu komunikasi menjadi lebih efektif.
Beberapa istilah Inggris dianggap lebih praktis atau lebih populer dibandingkan padanan Indonesianya.
Selain itu, fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis dan selalu berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.
Bahasa yang hidup memang akan terus beradaptasi dengan perubahan sosial, budaya, dan teknologi.
Namun, penggunaan campur kode yang berlebihan juga perlu diperhatikan.
Ketika seseorang terlalu sering menggunakan istilah Inggris, ada kemungkinan lawan bicara mengalami kesulitan memahami pesan yang disampaikan.
Tidak semua orang memiliki tingkat penguasaan bahasa yang sama. Akibatnya, komunikasi yang seharusnya mempermudah justru dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Di sisi lain, penggunaan istilah asing secara terus-menerus juga berpotensi menggeser penggunaan kosakata bahasa Indonesia yang sebenarnya sudah tersedia.
Karena itu, yang perlu diperhatikan bukanlah larangan untuk menggunakan bahasa Inggris, melainkan kemampuan untuk menempatkan bahasa sesuai konteksnya.
Dalam percakapan santai bersama teman, campur kode mungkin terasa wajar dan bahkan membuat komunikasi lebih akrab.
Akan tetapi, dalam situasi formal seperti penulisan karya ilmiah, pidato resmi, atau dokumen akademik, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tetap perlu diutamakan.
Kemampuan beralih dari satu ragam bahasa ke ragam bahasa lainnya justru menunjukkan kecakapan berbahasa seseorang.
Pada akhirnya, pencampuran bahasa Indonesia dan Inggris merupakan fenomena yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern.
Kehadiran media sosial, globalisasi, dan perkembangan teknologi membuat batas antar bahasa menjadi semakin cair.
Fenomena ini tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi bahasa Indonesia, selama masyarakat tetap memiliki kesadaran untuk menjaga dan menggunakan bahasa Indonesia dengan tepat.
Dengan demikian, bahasa Indonesia dapat terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitas dan fungsinya sebagai bahasa persatuan bangsa.
Editor: Carissa Azahra Candraningtyas| Cr: psikolinguistik, pinterest